A. HUSNUDZAN
1. Pengertian dan Pentingnya
Husnudzan
Salah
satu akhlak terpuji kepada sesama manusia adalah husnudzan. Secara bahasa
berasal dari bahasa Arab, husnu yang artinya baik, dan dzan berarti
dugaan, sangkaan atau keyakinan. Menurut istilah husnudzan adalah adanya
pemikiran yang positif terhadap manusia lain, bahwa setiap manusia itu pasti
mempunyai kebaikan yang bermanfaat bagi yang lainnya.
Semua
ciptaan Allah itu mempunyai kebaikan dan kemanfaatan, juga setiap manusia itu
oleh Allah Swt. telah diberi rahmat karunia yang masing-masing berbeda.
Dalam
Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 237 ditegaskan bahwa manusia itu tidak boleh melupakan
keutamaan atau kebaikan orang lain.
Artinya:“dan
janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
melihat segala apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah [2]:237)
2. Hukum Husnudzan
kepada Sesama Manusia
Dalam
dalil-dalil al-Qur'an dan hadis diterangkan beberapa hukum berprasangka (dzan)
yaitu dalam Al Qur'an surah Al-Hujurat (49) ayat 12:
Artinya: "Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa." (QS. Al-Hujurat [49]:12)
Artinya: “Dari
Abu Hurairah Ra, sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda :"Sekalikali janganlah
engkau berburuk sangka karena sesungguhnya berburuk sangka itu adalah perkataan
yang paling bohong.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Diterangkan
dalam sebuah hadis :
Artinya: “Dari
Abu Hurairah Ra. dari Nabi Saw. sabdanya : “Berbaik sangka adalah termasuk
kebaikan ibadah”. (HR Ibnu Hibban dan Abu Daud). Ada beberapa hukum Husnudzan
kepada manusia:
a. Wajib, yaitu Husnudzan
kepada Allah Swt. dan para Rasul Allah Swt. Kita harus yakin bahwa Allah
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah juga Maha Memelihara semua
makhluk-Nya, terutama manusia. Maka apapun yang Allah berikan dalam kehidupan
kita, patut kita syukuri dan kita ambil hikmahnya dengan berhusnudzan kepada
Allah. Kita juga harus husnudzan kepada para nabi dan Rasul yang diutus di
dunia bertugas untuk membawa rahmat dari Allah Swt., dan tidak membutuhkan
balasan dari manusia, sebagaimana disebutkan pada surah Yaasin (36) ayat 21:
Artinya: “Ikutilah
orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk." ( QS.Yaasin [36]:21)
b. Mandub (sunnah), yakni
kepada saudara–saudaranya yang seiman, karena sesama muslim itu sama terikat
oleh iman dan perjuangan untuk mewujudkan kebaikan melalui ibadah, dakwah dan
amalan saleh lainnya.
c. Jaiz, atau mubah kepada
sesama manusia pada umumnya. Karena pada dasarnya, semua manusia itu merasa
saling membutuhkan dan mempunyai kebaikan.
3. Contoh-contoh Husnudzan
kepada Sesama Manusia
Bentuk-bentuk
sikap Husnudzan kepada sesama manusia antara lain :
a. Ta'aruf, saling
mengenalkan diri untuk membentuk persaudaraan, dengan tidak berlaku
diskriminatif. Karena Allah menciptakan manusia itu untuk saling mengenal.
Sebagaimana disebutkan pada surah ke 49, Al-Hujurat ayat 13:
Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya kami
menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersukusuku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal.“ (QS. Al Hujurat [49]:13)
b. Mau melaksanakan kerjasama,
saling membantu dan menolong. Dengan keyakinan bahwa apa yang dikerjakan itu
adalah untuk kepentingan menegakkan kehidupan bersama.
c. Memberikan kepercayaan kepada
sesama manusia pada bidang–bidang atau urusan tertentu. Karena setiap manusia
itu mempunyai kemampuan, bakat tertentu. Hal ini ditegaskan pada surah ke 39,
Az-Zumar ayat 39:
Artinya: “Katakanlah: "Hai kaumku,
Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya Aku akan bekerja (pula), Maka
kelak kamu akan mengetahui,” (QS. Az-Zumar [39]:39).
d. Mau memberikan masukan, saran
atau dakwah untuk Islam. Dengan keyakinan dia itu membutuhkan petunjuk dan
kebenaran. Hal ini dicontohkan dari kisah nabi Musa As. ketika berdakwah kepada
Fir’aun. Yang ditegaskan pada surah ke 20, Thaha ayat 44:
Artinya: “Maka
berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut,
Mudah-mudahan ia ingat atau takut".(QS. Thaha [20]:44)
e. Menerima dengan lapang dada
masukan dari orang lain. Menganggap kritikan dan saran sebagai masukan yang
membangun dan meningkatkan kualitas diri.
4. Hikmah Husnudzan
kepada Sesama Manusia
Di antara
hikmah kita membiasakan perilaku husnudzan adalah:
a. Menentramkan hati
Dengan
berbaik sangka, hati kita selalu bisa menerima apa yang terjadi serta menggali
sisi baiknya. Dengan demikian maka hati menjadi tenteram dan jauh dari kegelisahan.
b. Memudahkan koordinasi
Dengan
adanya Husnudzan kepada sesama manusia, maka akan timbul kehidupan masyarakat
yang penuh dengan kebersamaan, sehingga akan terbentuk sikap saling memanfaatkan
kebaikan dari masing-masing anggota masyarakat. Karena Allah Swt. telah
berfirman pada surah ke 43, Az–Zukhruf ayat 32:
Artinya: “Apakah
mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka
penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian
mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat
mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan."(QS. Az-Zukhruf [43]:32)
c. Memberikan dorongan kepada
orang lain untuk mengembangkan potensi hidupnya. Sehingga setiap orang dapat
meningkatkan kompetensinya. Hal ini disebutkan pada surah Al-Isra (17) ayat 84:
Artinya: Katakanlah:
"Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masingmasing". Maka
Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS. Al Isra'
[17]:84)
d. Memberikan kemudahan untuk
komunikasi. Karena dengan husnudzan ini sikap saling terbuka dapat
terwujud. Keterbukaan ini dapat subur dengan adanya husnudzan. Hal ini
juga akan mengurangi desas–desus, fitnah ataupun gosip–gosip yang mengakibatkan
renggangnya persaudaraan.
e. Bagi seseorang dengan husnudzan
itu akan mendapatkan banyak hal tentang kebaikan dari orang lain. Antara
lain, penghargaan. Karena husnudzan itu bagian dari wujud pemberian
kehormatan / penghargaan kepada orang lain. Allah berfirman pada surah ke 17,
Al-Isra ayat 7:
Artinya: “Jika
kamu berbuat kebaikan, berarti kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri.”
(QS. Al-Israa' [17]:7)
Jadi
setiap apa yang terjadi akan diterima secara baik oleh seseorang apabila
mempunyai sikap husnudzan (berbaik sangka). Dan setiap apa yang terjadi
akan menjadi jelek dipandangannya apabila seseorang mempunyai sikap su’udzan
(berburuk sangka).
5. Membiasakan Diri
Bersikap Husnudzan
Seorang
muslim / muslimah yang berperilaku husnudzan kepada Allah Swt., tentu
akan senantiasa bertakwa kepada-Nya di mana pun dan kapan pun ia berada. Serta
mereka yang husnudzan terhadap diri sendiri, tentu akan membiasakan diri
dengan bersikap dan berperilaku terpuji yang bermanfaat bagi dirinya. Perilaku
ini tercermin dalam sikap sehari- hari yaitu:
a. Tidak mudah menerima suatu berita
yang tidak jelas sumber kebenarannya
b. Berusaha untuk sering bertemu
dengan sesama teman atau anggota masyarakat
c. Dengan sering bertemu, dapat
mengantisipasi munculnya gosip yang sering merusak hubungan persaudaraan
B. TAWADHU’
1. Pengertian dan
Pentingnya Tawadhu’
Tawadhu’
berasal
dari Bahasa Arab yang artinya meletakkan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia Tawadhu’
berarti rendah hati. Yang dimaksud dengan tawadhu’ adalah sikap dan
perbuatan manusia yang menunjukkan adanya kerendahan hati, tidak sombong dan
tinggi hati, mudah tersinggung. Gambaran tawadhu’ disebutkan pada Al- Qur'an
surah ke 25, Al-Furqan ayat 63:
Artinya: “Dan
hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di
atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al- Furqan
[25]:63)
Pengertian
yang lebih dalam adalah kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih
dibandingkan hamba Allah yang lainnya. Orang yang tawadhu’ adalah orang
menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah Swt. yang
dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam
hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan
potensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah hati dan selalu menjaga
hati dan niat untuk segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain niat
karena Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.
Tawadhu’
ialah
bersikap tenang, sederhana dan sungguh-sungguh menjauhi perbuatan takabur (sombong),
ataupun sum’ah ingin diketahui orang lain amal kebaikan kita. Tawadhu’
merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia, jadi sudah selayaknya kita
sebagai umat muslim bersikap tawadhu’, karena tawadhu’ merupakan salah
satu akhlak terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap umat islam.
Sikap tawadhu’
sangat penting artinya dalam pergaulan sesama manusia, sikap tawadhu’ disukai
dalam pergaulan sehingga menimbulkan rasa simpati dari pihak lain. Berbicara
lebih jauh tentang tawadhu’, sebenarnya tawadhu’ sangat
diperlukan bagi siapa saja yang ingin menjaga amal shaleh atau amal
kebaikannya, agar tetap tulus ikhlas, murni dari tujuan selain Allah. Karena
memang tidak mudah menjaga keikhlasan amal shaleh atau amal kebaikan kita agar
tetap murni, bersih dari tujuan selain Allah. Sungguh sulit menjaga agar segala
amal shaleh dan amal kebaikan yang kita lakukan tetap bersih dari tujuan selain
mengharapkan ridha-Nya. Karena sangat banyak godaan yang datang, yang selalu
berusaha mengotori amal kebaikan kita.
Apalagi
disaat pujian dan ketenaran mulai datang menghampiri kita, maka terasa semakin
sulit bagi kita untuk tetap bisa menjaga kemurnian amal shaleh kita, tanpa terbesit
adanya rasa bangga dihati kita. Di sini lah sangat diperlukan tawadhu’ dengan
menyadari sepenuhnya, bahwa sesungguhnya segala amal shaleh, amal kebaikan yang
mampu kita lakukan, semua itu adalah karena pertolongan dan atas ijin Allah
Swt.
2. Perintah
mempunyai sikap tawadhu’
a. Tawadhu’ di hadapan
kedua orang tua, yang ditegaskan pada surah ke 17, Al-Isra ayat 24:
Artinya: “Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua Telah mendidik Aku waktu kecil.” (QS. Al-Israa' [17]:24)
Sikap tawadhu’
terhadap kedua orang tua ini dalam bentuk rasa hormat yang disertai
perasaan kasih sayang. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat betapa besar
kebaikan kedua orang tua kepada anak-anaknya.
b. Tawadhu’ terhadap sesama
muslim, yang ditegaskan pada surah ke 26, asy-Syu’ara ayat 215:
Artinya: “Dan
rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang
yang beriman".(QS. Asy-Syu'araa' [26]:215)
Sesama
muslim harus ada perilaku tawadhu’, karena sesama muslim merupakan
kesatuan yang saling memperkuat. Sehingga rasa ukhuwah islamiyah umat Islam
tidak terputus.
c. Tawadhu’ di saat dalam
pergaulan. Sebagaimana disebutkan pada surah ke 31, Luqman ayat 19:
Artinya:
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai."( QS. Luqman [31]:19)
Orang
yang tawadhu’ menyadari bahwa karunia besar yang dimiliki itu merupakan
karunia dari Allah Swt. dan sebagai bentuk ujian dari Allah Swt. Sehingga bukanlah
penampilan yang dikedepankan, namun fungsi yang menjadi ukuran. Dan kekayaan
bukanlah jumlah yang diperhitungkan, namun proses cara mendapatkan yang harus
dipikirkan.
3. Bentuk-bentuk
dan Contoh Tawadhu’
Tanda
orang yang tawadhu’ adalah di saat seseorang semakin bertambah ilmunya maka
semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah
amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali
bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah
hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama.
Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat
pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka
serta bersikap rendah hati kepada mereka. Ini karena orang yang tawadhu’
menyadari akan segala nikmat yang didapatnya adalah dari Allah Swt., untuk mengujinya
apakah ia bersykur atau kufur.
Berikut
beberapa contoh ketawadhu’an Rasulullah Saw.:
a. Anas ra jika bertemu dengan
anak-anak kecil maka selalu mengucapkan salam pada mereka, ketika ditanya
mengapa ia lakukan hal tersebut ia menjawab: Aku melihat kekasihku Nabi Saw.
senantiasa berbuat demikian. (HR. Bukhari, Fathul Bari’- 6247).
b. Dari Anas ra berkata: Nabi Saw.
memiliki seekor unta yang diberi nama al-’adhba` yang tidak terkalahkan
larinya, maka datang seorang ‘a’rabiy dengan untanya dan mampu mengalahkan,
maka hati kaum muslimin terpukul menyaksikan hal tersebut sampai hal itu
diketahui oleh nabi Saw., maka beliau bersabda: Menjadi hak Allah jika ada
sesuatu yang meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-Nya. (HR. Bukhari).
(Fathul Bari’-2872).
c. Abu Said al-Khudarii ra pernah
berkata: Jadilah kalian seperti Nabi Saw., beliau Saw. menjahit bajunya yang
sobek, memberi makan sendiri untanya, memperbaiki rumahnya, memerah susu
kambingnya, membuat sandalnya, makan bersama-sama dengan pembantu-pembantunya,
memberi mereka pakaian, membeli sendiri keperluannya di pasar dan memikulnya
sendiri ke rumahnya, beliau menemui orang kaya maupun miskin, orang tua maupun
anak-anak, mengucapkan salam lebih dulu pada siapa yang berpapasan baik tua
maupun anak, kulit hitam, merah, maupun putih, orang merdeka maupun hamba
sahaya sepanjang termasuk orang yang suka shalat.
Sikap tawadhu’
seseorang dapat dilihat dari perilakunya sehari-hari. Adapun bentuk-bentuk
perilaku tawadhu’ seseorang antara lain:
a. Menghormati orang yang lebih
tua atau orang yang lebih pandai daripada dirinya
b. Sayang kepada yang lebih muda
atau lebih rendah kedudukannya
c. Menghargai pendapat atau
pembicaraan orang lain
d. Bersedia mengalah demi
kepentingan umum
e. Santun dalam berbicara kepada
siapapun
f. Tidak suka disanjung orang lain
atau keberhasilan yang dicapai
4. Dampak Positif
Membiasakan Sikap Tawadhu’
Dampak
positif tawadhu’ berarti akibat baik dari sikap tawadhu’. Adapun dampak positif
sikap tawadhu’ antara lain:
a. Menimbulkan rasa simpati pihak
lain sehingga suka bergaul dengannya.
b. Akan dihormati secara tulus
oleh pihak lain sesuai nalurinya bahwa setiap manusia igin dihormati dan
menghormati.
c. Mempererat hubungan
persaudaraan antara dirinya dan orang lain.
d. Mengangkat derajat dirinya
sendiri dalam pandangan Allah maupun sesama manusia.
5. Upaya
Membiasakan Diri Bersikap Tawadhu’
Setelah
kalian memahami tentang tawadhu’, ada beberapa perilaku yang bisa kita terapkan
dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
a. Menyadari sepenuhnya bahwa
setiap manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan yang berbeda
b. Berusaha untuk mengendalikan
diri agar tidak menampakkan kelebihan yang dimiliki
c. Melatih diri untuk dapat
menghargai kemampuan orang lain,tidak meremehkannya
C. TASAMUH
1. Pengertian dan
Pentingnya Tasamuh
Kata tasamuh
berasal dari bahasa Arab secara bahasa artinya, murah hati, lapang hati.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, tasamuh diartikan lapang dada, keluasan
pikiran, toleransi. Adapun pengertian tasamuh adalah sikap atau
perbuatan melapangkan dada, tenggang rasa dalam menghadapi perbedaan, baik
pendapat, keyakinan dan agama.
Dalam tasamuh
terdapat unsur menghormati, menghargai dan simpati. Tasamuh ini
sangat penting, apalagi dalam kehidupan masyarakat yang bersifat heterogen atau
majemuk, terutama dalam kehidupan beragama.
2. Dalil Tentang
Perintah Tasamuh
Islam,
adalah agama yang sangat menghargai perbedaan, dalam batasan tertentu. Nabi
Muhammad Saw. telah memberikan contoh dalam hal tasamuh ini, yakni di
saat ingin memajukan Madinah, yang di dalamnya banyak suku dan agama. Dalam al-Qur'an
dijelaskan pada surah ke-109, Al Kafirun ayat 1-6:
Artinya: Katakanlah:
"Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan
kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi
penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah
Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS.
Al-Kaafirun [109]:1-6)
Dalam
ayat tersebut dapat dipahami bahwa Islam sangat toleran terhadap adanya perbedaan
agama. Pada akhir ayat ditegaskan, bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. Apalagi,
Islam sangat menghargai jalan berfikir seseorang, sebagaimana ditegaskan pada
surah Ali Imran (3) ayat 20:
Artinya: “Kemudian
jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), Maka Katakanlah: "Aku
menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang
mengikutiku". dan Katakanlah kepada orang-orang yang Telah diberi Al Kitab
dan kepada orang-orang yang ummi[190]: "Apakah kamu (mau) masuk
Islam". Jika mereka masuk Islam, Sesungguhnya mereka Telah mendapat
petunjuk, dan jika mereka berpaling, Maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan
(ayat-ayat Allah). dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya."( QS. Ali
Imran [3]:20)
3. Bentuk-bentuk Tasamuh
a. Tidak ada paksaan dalam memilih
agama, sebagaimana disebutkan pada surah ke 2, al-Baqarah ayat 256:
Artinya:“Tidak
ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada
Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus dan Allah Maha mendengar lagi
Maha Mengetahui.”( QS. Al Baqarah [2]:256)
b. Tidak memaksakan kepentingan
dan keinginan
Manusia
diciptakan oleh Allah dengan memiliki bermacam kepentingan dan keinginan.
Sebaiknya kita tidak memaksakan kepentingan dan keinginan kita untuk selalu
sama dengan orang lain. Kita juga tentu tidak mau dipaksa untuk selalu mengikuti
kepetingan dan keinginan orang lain. Oleh karena itu, supaya tidak terjadi
benturan antara keinginan dan kepentingan antar sesama manusia, perlu dibangun
sifat tasamuh dalam diri setiap individu.
c. Menghormati dan menghargai
perbedaan.
Demikian
pula dengan adanya perbedaan potensi dan keahlian. Yang satu mempunyai
kelebihan dan yang satu mempunyai kekurangan. Semakin dirasa perlu adanya sifat
tasamuh untuk memudahkan tercapainya kepentingan bersama. Perbedaan suku,
bangsa, profesi, dan sebagainya bukan merupakan alasan untuk tidak saling
menghargai atau saling menggangap remeh terhadap lainnya.
4. Perilaku Yang
Mencerminkan Sikap tasamuh
a. Tidak memaksakan agama kepada
orang lain.
Dalam
batasan tertentu sebagai muslim sudah yakin, bahwa hanya Islamlah agama yang
benar, yang diridhai oleh Allah Swt. Namun dalam dakwah Islam, seorang muslim
tetap memberikan kesempatan orang lain untuk berpikir mengenai kebenaran. Jika
seseorang itu berpikir rasional dan adil, pasti dia akan memilih Islam sebagai
agamanya. Karena, antara benar dan salah itu sudah jelas perbedaannya.
b. Tidak menghalangi hak orang
lain walaupun dalam perasaannya terdapat rasa benci karena akhlaknya yang
tercela. Sebagaimana disebutkan pada surah Az- Zukhruf (43) ayat 83:
Artinya:
“Maka Biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka
menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.” (QS. Az-Zukhruf [43]:83)
c. Memberikan kesempatan kepada
orang lain untuk memanfaatkan fasilitasnya.
Misalnya,
seseorang karena faktor tertentu berkemauan untuk menanam pohon dikebunnya. Hal
ini telah disabdakan oleh Rasulullah Saw. :
Artinya: Dari
Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah seorang
tetangga melarang tetangganya apabila ingin menanam pohon di batas kebunnya.” (
HR. Bukhari)
Hal ini
menunjukkan kelapangan dan kebesaran jiwa, di mana seseorang memahami kebutuhan
tetangganya.
d. Memberi kesempatan orang lain
untuk melaksanakan tugas kewajiban menurut keyakinannya, walaupun terdapat
perbedaan. Sebagaimana disebutkan pada surah ke 6, Al-An’am ayat 135:
Artinya: Katakanlah:
"Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat
(pula). kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan
memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang dhalim
itu tidak akan mendapatkan keberuntungan."(QS. Al An'am [6]:135)
Ayat di
atas mengggambarkan betapa ajaran Islam memberikan bimbingan kepada manusia
agar mempunyai kelapangan jiwa dalam bermasyarakat.
5. Contoh Perilaku Tasamuh
dalam Kehidupan Sehari-hari
a. Menghentikan sementara acara
atau rapat karena tiba waktu shalat.
b. Tidak menyalakan klakson motor
atau mobil ketika melewati tempat ibadah.
c. Ikut menjaga keamanan dan
ketertiban pada waktu umat agama lain merayakan hari rayanya.
d. Memberi waktu untuk libur bagi
karyawan yang sedang berhari raya.
e. Menghormati pendapat orang lain
terhadap penafsiran dan pemahaman suatu masalah.
f. Tidak makan di sembarang tempat
pada waktu siang hari bulan puasa.
6. Hikmah Perilaku Tasamuh
1. Dapat memberikan kesejukan jiwa
kepada diri sendiri dan orang lain.
2. Menimbulkan sikap dan perangai
yang mulia.
3. Mendapatkan teman yang semakin
banyak.
4. Timbul rasa tenang pada diri
sendiri dan orang lain.
5. Memudahkan penyelesaian
persoalan yang nampak sulit bagi orang lain.
6. Mudah mendapatkan relasi.
7. Jika mendapat kesulitan, akan
banyak orang yang menolong.
8. Jika melakukan kesalahan,
banyak orang yang mau memahami.
7. Upaya
Membiasakan Diri Bersikap Tasamuh
Untuk
mempunyai akhlakul karimah dalam bentuk tasamuh, perlu melakukan antara lain:
a. Memahami jalan pikiran orang
lain atas perbuatan yang dilakukan. Dengan demikian kita dapat lebih mengetahui
hakikat dari perbuatan tersebut. Dengan kata lain, tidak hanya menilai fakta,
namun perlu memahami proses.
b. Menghargai dan menghormati
hak-hak orang lain. Sebagaimana kita juga merasa senang jika keadaan kita
dihargai dan dihormati oleh orang lain.
c. Mencoba mengetahui lebih
mendalam atas perbuatan orang lain terhadap kita. Sehingga mengetahui sejauh
manakah hubungan perbuatan dengan motivasi, keyakinan dan kepentingannya.
d. Berusaha lebih teliti melihat
perbuatan sendiri. Kemungkinan, orang lain lebih benar daripada apa yang kita
lakukan.
e. Senantiasa mengevaluasi diri.
Sehingga tahu akan kekurangan diri sendiri untuk diperbaiki dan mau menghargai
orang lain.
D. TA'AWUN
Dalam
bahasa sosiologi, manusia itu disebut zoon politicon, artinya,
keberadaan manusia itu harus dengan adanya orang lain. Maksudnya, manusia itu
sangat membutuhkan adanya orang lain, untuk kehidupannya. Maka, salah satu bahasan
akhlak mulia adalah ta'awun yang uraiannya sebagai berikut.
1. Pengertian Ta’awun
Kata ta'awun
berasal dari bahasa Arab yang berarti saling membantu, saling menolong.
Menurut istilah ta'awun adalah sikap atau perilaku membantu orang lain. Manusia
sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup sendiri, sehingga membutuhkan uluran
bantuan dari orang lain. Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya manusia perlu
bantuan dari orang lain dengan saling menolong.
2. Dalil Tentang
Perintah Ta'awun
Dalil
naqli yang berasal dari al-Qur'an dan hadis yang menjadi dasar dari pelaksanaan
ta'awun salah satunya terdapat dalam al-Qur'an surah ke 5, Al-Maidah ayat
2:
Artinya: “
... dan tolong menolonglah kamu dalam (perkara) kebaikan dan ketakwaan, dan
janganlah kamu tolong menolong dalam (perkara) dosa dan permusuhan “. (QS.
Al-Maidah [5]:2)
Secara
nalar jelas sekali bahwa manusia adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan
orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka manusia harus saling
menolong untuk memenuhi hajatnya itu. Islam mengarahkan tujuan dan bentuk
tolong menolong itu dalam kebaikan, dalam segala perkara yang baik, bermanfaat
yang diizini oleh Allah Swt. serta dalam ketakwaan. Artinya, tolong menolong
itu didasarkan atas iman, kebenaran dan guna mendapatkan ridha Allah Swt.
Tolong
menolong ditujukan kepada semua manusia, tidak harus dengan sesama muslim saja,
dalam seluruh aspek kehidupan. Namun, jika dengan non muslim, harus dibatasi,
tidak ada kerjasama, tolong menolong dalam hal akidah dan ibadah.
Allah
Swt. telah membagi rahmat-Nya kepada hamba-Nya berdasarkan kekuasaan dan
kebijaksanaan-Nya. Allah Swt. melebihkan sebahagian satu dengan yang lain, itu
merupakan kebijaksanaan Allah, yang mempunyai tujuan tertentu. Hal ini
ditegaskan dalam Al Qur an surah ke 43, Az–Zukhruf ayat 32:
Artinya: "Apakah
mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka
penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian
mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat
mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan." (QSaz-Zukhruf [43]:32)
Dari ayat
di atas secara jelas dapat dipahami, bahwa Allah Swt. memberikan karunia yang
berbeda, bentuk dan tingkatannya. Itu bertujuan agar manusia dapat saling
memanfatkan, dalam bentuk kerjasama. Seiring dengan keadaan manusia itu sangat
terbatas. baik dalam penguasaan ilmu atau kondisi lainnya, manusia sebagai makhluk
yang lemah harus saling membantu dalam memenuhi hajat hidupnya.
3. Bentuk / Contoh Ta'awun
a. Meringankan beban hidup orang
lain.
b. Menutupi aibnya.
c. Memberi bantuan kepada
seseorang.
d. Mengunjungi orang yang sedang
sakit / menerima suatu musibah.
4. Dampak Positif
Membiasakan Sikap Ta’awun
a. Terpenuhinya kebutuhan hidup
berkat kebersamaan.
b. Membuat tugas yang berat
menjadi ringan.
c. Terwujudnya persatuan dan
kesatuan
d. Menimbulkan rasa simpati pada
sesama.
5. Upaya
membiasakan bersikap ta’awun
a. Menyadari bahwa setiap manusia
itu mempunyai kelebihan dan kekurangan.
b. Menyadari bahwa kondisi manusia
lemah dan tidak bisa hidup sendiri.
c. Membiasakan mengedepankan
kepentingan bersama, tanpa harus mengorbankan kebutuhan diri sendiri.
d. Membiasakan melihat potensi
diri, baik dari segi keilmuan maupun materi sebagai bahan mewujudkan
kebersamaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar