A. HASAD
1. Pengertian Hasad
Hasad
atau dengki adalah perasaan tidak senang, terhadap orang yang mendapatkan nikmat
dari Allah. Orang yang memiliki sifat hasad selalu iri hati jika melihat orang
lain hidup senang, merasa bahwa yang berhak memiliki segala sesuatu itu
hanyalah dirinya sendiri.
2. Bentuk-bentuk
(Ciri-ciri ) Perilaku Hasad
Secara
garis besar perilaku hasad dapat diketahui dengan beberapa bentuk atau ciriciri
sebagai berikut:
a. adanya kebencian dan
permusuhan.
b. adanya perasaan takabur,
menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain.
c. selalu ingin menonjol dalam
segala hal, dan tidak menginginkan orang lain mengimbangi kedudukannya.
d. hasad dapat timbul karena dasar
jiwa manusia yang buruk dan kikir untuk berbuat kebaikan pada sesama hamba
Allah Swt.
Sifat iri
muncul karena kurangnya percaya diri seseorang dan juga adanya rasa sombong
serta rendah budi. Orang yang tidak beriman mempercayai bahwa Allah Swt. akan
memberikan kenikmatan kepada siapa yang Dia kehendaki. Tapi terkadang muncul perasaan
di dalam hati "Mengapa tidak saya yang mendapatkannya ?” Kalau perasaan
ini muncul maka orang tersebut akan menjadi sombong dan merasa dirinya lebih
daripada orang lain.
Sabda
Rasulullah Saw.:
Artinya :
“Dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda: “Janganlah kamu
sekalian saling membenci (iri) saling hasud menghasud, saling belakng membelakangi
dan saling memutuskan tali persaudaraan, tapi jadilah kamu sekalian hamba Allah
yang bersaudara, seorang muslim tidak diperbolehkan mendiamkan saudaranya lebih
dari tiga hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mahluk
Allah yang pertama kali memiliki sifat hasad / dengki adalah Iblis. Iblis dengki
kepada Nabi Adam As. Karena Nabi Adam diciptakan oleh Allah sebagai mahluk yang
terhormat, Iblis iri hati melihat malaikat bersujud menghormati Nabi Adam.
Karena sifat dengki yang sudah melekat pada dirinya, Iblis tidak mau menghormati
Nabi Adam, walaupun itu perintah Allah. Oleh sebab itu Iblis dikutuk oleh
Allah.
Orang
yang memiliki sifat dengki merasa iri hati melihat orang lain hidup senang atau
beruntung, ia menginginkan keberuntungan itu pindah kepadanya, karena hatinya selalu
kotor. Orang yang dengki itu akan sia-sia amal ibadahnya terhapus oleh sifat dengkinya.
Sabda Rasulullah Saw.:
Artinya :
“Jauhkanlan dirimu dari sifat dengki, karena dengki itu memakan semua kebaikan,
sebagaimana api menghanguskan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud )
Orang
yang bersifat dengki hanya akan memperoleh celaan, kehinaan dan kesusahan bahkan
para malaikat melaknat orang yang memiliki sifat dengki.
Sifat
hasad dan dengki dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab:
a. Tidak bersyukur terhadap nikmat
yang diberikan oleh Allah, merasa kurang dan tidak puas terhadap nikmat yang
dia terima.
b. Adanya perasaan tidak senang
kepada orang lain.
c. Adanya perasaan tinggi hati
(sombong), tidak senang jika ada orang yang melebihi lebih baik darinya.
3. Dampak Negatif
Hasad dalam Kehidupan Sehari - hari
a. Bagi Diri Sendiri
1) menimbulkan perasaan tidak
tenang
2) merusak amal kebaikan dan
menjadi orang yang muflis
3) memiliki banyak musuh dan
sedikit teman
4) banyak menyita waktu untuk
hal-hal yang tidak bermanfaat
b. Bagi Orang Lain
1) akan menimbulkan permusuhan
atau renggangnya persaudaraan
2) kehidupan di masyarakat kurang
harmonis
3) muncul rasa dendam antar
masyarakat
4) timbul tipu daya yang buruk
terhadap sesama manusia
5) melahirkan rasa tidak percaya
terhadap orang lain
4. Upaya
Menghindari Perilaku Hasad
Sifat
hasad dapat dihindari dengan cara membiasakan sikap atau perilaku berikut ini:
a. Senantiasa bersyukur terhadap
nikmat Allah Swt.
b. Berusaha menyenangkan orang
lain
c. Bersikap rendah hati memperkuat
persaudaraan dengan didasari rasa saling percaya
d. Memohon pada Allah agar
terhindar dari sifat hasad
e. Mengembangkan sifat qana’ah
dalam arti menerima apa yang menjadi haknya dan mencukupkan untuk kebutuhannya
f. Menyadari bahwa kelak
kenikmatan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
B. DENDAM
1. Pengertian
Dendam
Dendam
adalah kemauan yang keras dari seseorang atau kelompok untuk membalas kejahatan
dari seseorang atau kelompok lain. Allah Swt. sangat membenci orang yang
pendendam, karena sifat pendendam sangat membahayakan dan merugikan orang lain.
Sifat
dendam akan membuahkan sikap buruk bagi pelakunya seperti hasad, merasa senang
jika orang lain susah dan memutuskan tali persaudaraan. Sekali itu di akhirat
kelak tidak akan mendapat ampunan dari Allah, sebagaimana disabdakan Rasulullah
Saw. :
Artinya :
“Dari Ibnu Abbas ra, katanya : Rasulullah Saw. bersabda : “Ada tiga hal, barang
siapa yang tidak ada padanya satupun dari ketiganya. Sungguh Allah akan mengampuni
segala kesalahannya (kecuali yang tiga hal tersebut) bagi orang yang dikehendaki-Nya,
yaitu (1) Seorang yang mati tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, (2)
Orang yang bukan tukang sihir, (3) Orang yang tidak bersikap dendam pada
saudaranya.” (HR. Thabrani)
Kebalikan
sikap dendam adalah al-‘Afwu, yaitu sikap berlapang dada dalam memberikan
maaf kepada orang yang melakukan kesalahan, tanpa disertai rasa benci di hati,
apalagi merencanakan pembalasan terhadap orang yang melakukan kesalahan, meskipun
ia sanggup melakukan pembalasan itu.
Di dalam
Al-Qur’an Allah Swt. menyerukan supaya kita lebih suka memaafkan orang yang
menyakiti kita, dan membiarkanya, karena Allah menyukai orang-orang yang
berbuat baik.
Artinya :
"… Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik " (QS. Al-Maidah [5]:3)
Dalam
ayat tersebut dijelaskan bahwa Islam lebih menganjurkan penyelesaian masalah
dengan jalan damai dan saling memaafkan. Masalah itu harus diselesaikan secara
terbuka sehingga tidak menimbulkan rasa dendam, yang mana perasaan dendam itu
hanya merugikan diri sendri serta membahayakan bagi diri maupun orang lain.
Nabi
Muhammad Saw. sabagai suri teladan kita telah memberikan beberapa contoh,
betapa beliau sangat pemaaf dan bukan pendendam. Ketika beliau akan dibunuh oleh
Suraqah, dan kemudian beliau punya kesempatan untuk membalasnya. Beliau tidak
melakukannya, tapi Beliau malah memaafkanya. Dan masih banyak contoh yang lainnya.
2. Bentuk-bentuk
(Ciri-ciri) Perilaku Dendam
Seseorang
yang mempunyai sikap pendendam, dalam dirinya memiliki sifat sebagai berikut:
a. Memiliki emosi yang tinggi dan
mudah tersinggung;
b. Susah diajak berbicara dengan
baik;
c. Suka mengancam terhadap orang
yang menyebabkan kecewa;
d. Tidak mudah memberikan maaf
kepada orang yang dianggap salah;
e. Tidak mau menerima nasehat
orang lain.
3. Dampak Negatif
Dendam
a. Dapat menimbulkan retaknya
hubungan persaudaraan.
b. Timbulnya rasa saling curiga
diantara kedua belah pihak.
c. Menimbulkan pertikaian akibat
kejahatan yang tidak dapat selesai dengan balasan kejahatan.
d. Semakin menambah rumitnya
masalah, sehingga dapat menimbulkan masalah yang baru.
4. Upaya
Menghindari Perilaku Dendam
a. Berusaha untuk selalu memiliki
sikap sabar dan berjiwa besar dalam menghadapi masalah.
b. Tidak membalas suatu kejahatan
dengan kejahatan yang lain.
c. Menyadari sepenuhnya bahwa
setiap manusia berpeluang untuk berbuat kesalahan maupun kejahatan.
d. Menyadari bahwa dirinya sendiri
suatu saat mungkin akan berbuat jahat sebagaimana yang telah dilakukan orang
lain.
C. GHIBAH
1. Pengertian Ghibah
Ghibah
artinya
mengumpat atau menggunjing yaitu perbuatan atau tindakan yang membicarakan aib
orang lain. Pada zaman modern ini, dengan berbagai macam alat informasi yang
semakin canggih, perbuatan ghibah pun dikemas sedemikian manisnya.
Sehingga
para konsumen sebagai pengakses informasi itu menjadi tidak terasa kalau dia sudah
terlibat dalam perbuatan ghibah. Islam melarang perbuatan ini untuk
dilakukan, karena kalaupun informasi atau berita yang dilontarkan itu benar,
tetap akan menyakiti hati orang lain. Apalagi kalau berita itu salah, bisa
menimbulkan fitnah.
Artinya: “Dan
orang-orang yang menyakiti orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang
mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka itu telah memikul kebohongan dan yang
nyata. (QS. Al-Ahzab[33]:58)
Dalam
ayat-Nya yang lain Allah Swt. berfirman:
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan berburuk sangka (kecurigaan)
karena sebagaian dari berburuk sangka itu dosa. Dan janganlah mencaricari keburukan
orang lain dan jangan menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara
kaum suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa
jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah seseungguhnya Allah Maha Penerima
taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat [49]:12)
Nabi
Muhammad Saw. juga bersabda:
Artinya :
“Dari Muawiyah ra. katanya : Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya
apabila kamu selalu mencari-cari auratnya kaum muslimin berarti kamu akan
menjatuhkan mereka atau hampir menjatuhkan mereka.” (HR. Abu Daud)
Dari nash
Al-Qur’an dan Hadis tersebut di atas, terdapat pelajaran yang bisa diambil
bahwa perbuatan ghibah itu sangat merusak hubungan persahabatan, persaudaraan
dan bahkan bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa.
Sebab-sebab
timbulnya ghibah:
a. Ingin menghilangkan perasaan
marah. Jika telah terlampiaskan marahnya ia merasa puas.
b. Kemegahan diri, seseorang yang
ingin dikatakan hebat, dan mewah atau megah.
c. Mengaggap orang lain lemah,
rendah dan hina.
Tidak
semua membicarakan orang lain itu ghibah, di bawah ini adalah bukan termasuk
perilaku ghibah karena dilakukan demi kebaikan bersama dan harus dengan cara
yang baik pula, yaitu:
a. Melaporkan kejahatan kepada
pihak-pihak yang berwenang, seperti polisi atau jaksa untuk proses penyidikan;
b. Mengungkapkan kejahatan dengan
tujuan perlindungan masyarakat dari kejahatan itu;
c. Menjelaskan keburukan ahli
maksiat dan ahli bid’ah agar masyarakat Islam selamat dari keburukannya; dan
d. Membicarakan keburukan orang
lain dalam upaya mencari jalan keluar untuk amar ma’ruf nahi munkar.
D. FITNAH
1. Pengerrtian
Fitnah
Fitnah
artinya’: Perkataan yang bermaksud menjelekkan orang seperti menodai (menjatuhkan)
nama baik orang yang difitnah dan merugikan kehormatan orang lain. Fitnah
dilakukan tidak hanya oleh satu orang, tetapi ada juga yang dilakukan oleh dua orang,
atau beberapa orang (kelompok). Dari segi caranya dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi,
ada pula yang dilakukan secara terang-terangan.
Firman
Allah QS. Al-Baqarah ayat 191:
Artinya: “
Sedangkan fitnah lebih besar (bahayanya) daripada pembunuhan.” Rasulullah
Saw. bersabda:
Artinya:
“Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, ‘Tahukah
kalian siapakah orang yang muflis (bankrut) itu? Para sahabat menjawab, ‘Orang
yang muflis (bankrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan
tidak punya harta.’ Rasulullah Saw. bersabda, ‘Orang yang muflis (bankrut) dari
umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan shalat,
menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa)
dengan mencela si ini, menuduh si ini (memfitnah), memakan harta ini dan menumpahkan
darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut
dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia
menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan
padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka.” [HR. Muslim No. 2581]
Fitnah
termasuk perbuatan lisan yang sangat berbahaya, sehingga dinyatakan dalam
firman Allah Swt. di atas bahwa fitnah lebih besar dampaknya daripada pembunuhan.
Sehingga muncul pepatah mengatakan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan.
Mengingat bahwa luka karena benda tajam bisa hilang seiringnya waktu berlalu,
namun luka karena tajamnya lisan seseorang sulit untuk dihapus, akan senantiasa
membekas dalam hati orang yang difitnah. Orang yang suka memfitnah biasanya
orang yang pengecut, dia tidak senang melihat orang lain hidup senang atau bahagia,
ia berupaya agar orang lain jatuh kedalam kebinasaan.
2. Dampak Negatif
Fitnah
Ketika
seseorang melakukan fitnah maka akan banyak dampak yang ditimbulkan baik itu
untuk orang yang di fitnah maupun untuk dirinya sendiri. Berikut ini
dampak-dampak negatif yang ditimbulkan dari perilaku fitnah.
a. Mendapat ancaman Allah Swt.
akan siksa neraka yang sangat pedih.
b. Rusaknya kehidupan masyarakat
karena adanya kecurigaan antara yang satu dengan yang lain.
c. Terpecahnya persatuan
masyarakat yang dapat memicu timbulnya beberapa kelompok yang mendukung maupun
yang menentang.
3. Upaya
Menghindari Perilaku Fitnah
Setiap
muslimin dan muslimat wajib menghindari dan meninggalkan perilaku fitnah
mengingat dampak negatifnya yang sangat berbahaya baik bagi pelaku maupun bagi
orang yang difitnah dan bagi masayarakat secara umum. Adapun upaya ynag bisa dilakukan
untuk menghindari perilaku fitnah adalah:
a. Bergaul dengan baik kepada
semua orang dan tidak pilih-pilih.
b. Saling mengingatkan apabila
pembicaraan sudah mengarah kepada perbuatan fitnah.
c. Melakukan klarifikasi terlebih
dahulu saat mendengar berita yang tidak jelas sumber kebenarannya.
d. Mau menyampaikan dan menerima
kritik dengan cara langsung dan jelas kepada yang bersangkutan dan tidak
menyebarkannya kepada orang lain yang tidak ada kaitannya.
e. Waspada terhadap informasi dan
mencari kejelasan dan kebenaran informasi supaya kita tidak salah dalam
mengambil sikap dan keputusan.
f. Harus hati-hati karena fitnah
itu sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan pertikaian dan kesalah pahaman,
yang akhirnya menimbulkan perpecahan.
E. NAMIMAH
1. Pengertian Namimah
Menurut
bahasa namimah berasal dari bahasa Arab yang artinya adu domba. Adapun
yang dimaksudkan dengan namimah menurut istilah adalah menyampaiakan sesuatu
yang tidak disenangi, baik yang tidak disenangi itu orang yang diceritakan ataupun
orang yang mendengarnya agar terjadi permusuhan. Cara menyampaikan sesuatu itu
biasanya dengan ucapan atau perkataan, tetapi adakalanya dengan tulisan, isyarat
atau dengan sindiran.
Namimah
pada
hakikatnya adalah menyampaikan atau menceritakan rahasia orang lain sehingga
merusak nama baik orang lain tersebut, tentu saja orang yang diceritakan itu
merasa tidak senang dan dapat menimbulkan permusuhan.
Seringkali
terjadi namimah dilakukan oleh orang yang sengaja ingin menimbulkan
permusuhan antara seseorang dengan orang lain atau bahkan sifat seseorang yang
ingin mencari popularitas diri sendiri diatas penderitaan orang lain. Misalnya
Abduh dan Asmat adalah dua orang yang bersahabat. Darwin adalah orang yang
banyak omong dan akhlaknya kurang baik. Melihat persahabatan Abduh dan Asmat
sangat akrab, Darwin kemudian mencari-cari peluang untuk mengadu domba antara
Abduh dan Asmat dengan berbagai cara, sehingga persahabatannya bercerai berai
bahkan terjadi perkelahian atau permusuhan antara Abduh dan Asmat.
2. Dalil yang
Berhubungan dengan Namimah
Namimah
termasuk
akhlak tercela yang dilarang dalam Agama sesuai dengan firman Allah Swt.
sebagai berikut:
Artinya: “dan
janganlah kamu ikuti Setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak
mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.” (QS. Al-Qalam [68]:10-11)
Artinya: “kecelakaanlah
bagi Setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. Al-Humazah [104]:1)
3. Penyebab
Timbulnya Sifat Namimah
Perbuatan
namimah atau adu domba disebabkan antara lain:
a. Ada perasaan tidak senang
terhadap orang yang diceritakan.
b. Adanya sifat dengki pada diri
seseorang yang menyebabkan ketidaksenangan kepada orang lain yang mendapatkan
kebahagiaan maupun kesuksesan.
c. Mencari muka agar orang lain
bersimpati kepada dirinya.
d. Gemar berbicara berlebihan,
omong kosong atau berbicara tentang hal-hal yang tidak benar.
4. Dampak Negatif Namimah
a. Dapat menyebabkan terputusnya
ikatan silaturahmi dan ukhuwah.
b. Menyulut api kebencian dan
permusuhan antar sesama manusia.
c. Merusak tatanan dan ketentraman
masyarakat.
d. Hilangnya ridha Allah Swt. dan
mendapat murka-Nya.
5. Upaya
Menghindari Perilaku Namimah
Langkah–langkah
atau cara mengatasi perilaku namimah:
a. Bagi orang yang mendengar atau
menerima kabar, jangan langsung percaya dengan perkataan tersebut.
b. Berusaha untuk menghentikan
pemberitaannya. Karena hal itu termasuk kemunkaran, cara mencegahnya dapat
melalui lisan, tulisan maupun dalam bentuk yang lain.
c. Membenci perilaku namimah, dan
membencinya karena Allah Swt., bukan karena hawa nafsu.
d. Apabila melihat atau mendengar
sesuatu yang disampaikan orang lain itu akan menimbulkan keburukan sebaiknya
didiamkan saja.
e. Jangan melayani omongan orang
yang suka berkata bohong.
f. Apabila ada berita yang meragukan
dari seseorang, agar diselidiki terlebih dahulu kebenarannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar