Jumat, 30 Januari 2026

Menghindari Akhlak Tercela (Hasad, Dendam, Ghibah, Fitnah, dan Namimah)

 


A.   HASAD

1. Pengertian Hasad

Hasad atau dengki adalah perasaan tidak senang, terhadap orang yang mendapatkan nikmat dari Allah. Orang yang memiliki sifat hasad selalu iri hati jika melihat orang lain hidup senang, merasa bahwa yang berhak memiliki segala sesuatu itu hanyalah dirinya sendiri.

2. Bentuk-bentuk (Ciri-ciri ) Perilaku Hasad

Secara garis besar perilaku hasad dapat diketahui dengan beberapa bentuk atau ciriciri sebagai berikut:

a. adanya kebencian dan permusuhan.

b. adanya perasaan takabur, menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain.

c. selalu ingin menonjol dalam segala hal, dan tidak menginginkan orang lain mengimbangi kedudukannya.

d. hasad dapat timbul karena dasar jiwa manusia yang buruk dan kikir untuk berbuat kebaikan pada sesama hamba Allah Swt.

Sifat iri muncul karena kurangnya percaya diri seseorang dan juga adanya rasa sombong serta rendah budi. Orang yang tidak beriman mempercayai bahwa Allah Swt. akan memberikan kenikmatan kepada siapa yang Dia kehendaki. Tapi terkadang muncul perasaan di dalam hati "Mengapa tidak saya yang mendapatkannya ?” Kalau perasaan ini muncul maka orang tersebut akan menjadi sombong dan merasa dirinya lebih daripada orang lain.

Sabda Rasulullah Saw.:

Artinya : “Dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda: “Janganlah kamu sekalian saling membenci (iri) saling hasud menghasud, saling belakng membelakangi dan saling memutuskan tali persaudaraan, tapi jadilah kamu sekalian hamba Allah yang bersaudara, seorang muslim tidak diperbolehkan mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mahluk Allah yang pertama kali memiliki sifat hasad / dengki adalah Iblis. Iblis dengki kepada Nabi Adam As. Karena Nabi Adam diciptakan oleh Allah sebagai mahluk yang terhormat, Iblis iri hati melihat malaikat bersujud menghormati Nabi Adam. Karena sifat dengki yang sudah melekat pada dirinya, Iblis tidak mau menghormati Nabi Adam, walaupun itu perintah Allah. Oleh sebab itu Iblis dikutuk oleh Allah.

Orang yang memiliki sifat dengki merasa iri hati melihat orang lain hidup senang atau beruntung, ia menginginkan keberuntungan itu pindah kepadanya, karena hatinya selalu kotor. Orang yang dengki itu akan sia-sia amal ibadahnya terhapus oleh sifat dengkinya. Sabda Rasulullah Saw.:

Artinya : “Jauhkanlan dirimu dari sifat dengki, karena dengki itu memakan semua kebaikan, sebagaimana api menghanguskan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud )

Orang yang bersifat dengki hanya akan memperoleh celaan, kehinaan dan kesusahan bahkan para malaikat melaknat orang yang memiliki sifat dengki.

Sifat hasad dan dengki dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab:

a. Tidak bersyukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah, merasa kurang dan tidak puas terhadap nikmat yang dia terima.

b. Adanya perasaan tidak senang kepada orang lain.

c. Adanya perasaan tinggi hati (sombong), tidak senang jika ada orang yang melebihi lebih baik darinya.

3. Dampak Negatif Hasad dalam Kehidupan Sehari - hari

a. Bagi Diri Sendiri

1) menimbulkan perasaan tidak tenang

2) merusak amal kebaikan dan menjadi orang yang muflis

3) memiliki banyak musuh dan sedikit teman

4) banyak menyita waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat

b. Bagi Orang Lain

1) akan menimbulkan permusuhan atau renggangnya persaudaraan

2) kehidupan di masyarakat kurang harmonis

3) muncul rasa dendam antar masyarakat

4) timbul tipu daya yang buruk terhadap sesama manusia

5) melahirkan rasa tidak percaya terhadap orang lain

4. Upaya Menghindari Perilaku Hasad

Sifat hasad dapat dihindari dengan cara membiasakan sikap atau perilaku berikut ini:

a. Senantiasa bersyukur terhadap nikmat Allah Swt.

b. Berusaha menyenangkan orang lain

c. Bersikap rendah hati memperkuat persaudaraan dengan didasari rasa saling percaya

d. Memohon pada Allah agar terhindar dari sifat hasad

e. Mengembangkan sifat qana’ah dalam arti menerima apa yang menjadi haknya dan mencukupkan untuk kebutuhannya

f. Menyadari bahwa kelak kenikmatan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

 

B.   DENDAM

1. Pengertian Dendam

Dendam adalah kemauan yang keras dari seseorang atau kelompok untuk membalas kejahatan dari seseorang atau kelompok lain. Allah Swt. sangat membenci orang yang pendendam, karena sifat pendendam sangat membahayakan dan merugikan orang lain.

Sifat dendam akan membuahkan sikap buruk bagi pelakunya seperti hasad, merasa senang jika orang lain susah dan memutuskan tali persaudaraan. Sekali itu di akhirat kelak tidak akan mendapat ampunan dari Allah, sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw. :

Artinya : “Dari Ibnu Abbas ra, katanya : Rasulullah Saw. bersabda : “Ada tiga hal, barang siapa yang tidak ada padanya satupun dari ketiganya. Sungguh Allah akan mengampuni segala kesalahannya (kecuali yang tiga hal tersebut) bagi orang yang dikehendaki-Nya, yaitu (1) Seorang yang mati tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, (2) Orang yang bukan tukang sihir, (3) Orang yang tidak bersikap dendam pada saudaranya.” (HR. Thabrani)

Kebalikan sikap dendam adalah al-‘Afwu, yaitu sikap berlapang dada dalam memberikan maaf kepada orang yang melakukan kesalahan, tanpa disertai rasa benci di hati, apalagi merencanakan pembalasan terhadap orang yang melakukan kesalahan, meskipun ia sanggup melakukan pembalasan itu.

Di dalam Al-Qur’an Allah Swt. menyerukan supaya kita lebih suka memaafkan orang yang menyakiti kita, dan membiarkanya, karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Artinya : "… Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik " (QS. Al-Maidah [5]:3)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Islam lebih menganjurkan penyelesaian masalah dengan jalan damai dan saling memaafkan. Masalah itu harus diselesaikan secara terbuka sehingga tidak menimbulkan rasa dendam, yang mana perasaan dendam itu hanya merugikan diri sendri serta membahayakan bagi diri maupun orang lain.

Nabi Muhammad Saw. sabagai suri teladan kita telah memberikan beberapa contoh, betapa beliau sangat pemaaf dan bukan pendendam. Ketika beliau akan dibunuh oleh Suraqah, dan kemudian beliau punya kesempatan untuk membalasnya. Beliau tidak melakukannya, tapi Beliau malah memaafkanya. Dan masih banyak contoh yang lainnya.

2. Bentuk-bentuk (Ciri-ciri) Perilaku Dendam

Seseorang yang mempunyai sikap pendendam, dalam dirinya memiliki sifat sebagai berikut:

a. Memiliki emosi yang tinggi dan mudah tersinggung;

b. Susah diajak berbicara dengan baik;

c. Suka mengancam terhadap orang yang menyebabkan kecewa;

d. Tidak mudah memberikan maaf kepada orang yang dianggap salah;

e. Tidak mau menerima nasehat orang lain.

3. Dampak Negatif Dendam

a. Dapat menimbulkan retaknya hubungan persaudaraan.

b. Timbulnya rasa saling curiga diantara kedua belah pihak.

c. Menimbulkan pertikaian akibat kejahatan yang tidak dapat selesai dengan balasan kejahatan.

d. Semakin menambah rumitnya masalah, sehingga dapat menimbulkan masalah yang baru.

4. Upaya Menghindari Perilaku Dendam

a. Berusaha untuk selalu memiliki sikap sabar dan berjiwa besar dalam menghadapi masalah.

b. Tidak membalas suatu kejahatan dengan kejahatan yang lain.

c. Menyadari sepenuhnya bahwa setiap manusia berpeluang untuk berbuat kesalahan maupun kejahatan.

d. Menyadari bahwa dirinya sendiri suatu saat mungkin akan berbuat jahat sebagaimana yang telah dilakukan orang lain.

 

C.   GHIBAH

1. Pengertian Ghibah

Ghibah artinya mengumpat atau menggunjing yaitu perbuatan atau tindakan yang membicarakan aib orang lain. Pada zaman modern ini, dengan berbagai macam alat informasi yang semakin canggih, perbuatan ghibah pun dikemas sedemikian manisnya.

Sehingga para konsumen sebagai pengakses informasi itu menjadi tidak terasa kalau dia sudah terlibat dalam perbuatan ghibah. Islam melarang perbuatan ini untuk dilakukan, karena kalaupun informasi atau berita yang dilontarkan itu benar, tetap akan menyakiti hati orang lain. Apalagi kalau berita itu salah, bisa menimbulkan fitnah.

Artinya: “Dan orang-orang yang menyakiti orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka itu telah memikul kebohongan dan yang nyata. (QS. Al-Ahzab[33]:58)

Dalam ayat-Nya yang lain Allah Swt. berfirman:

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan berburuk sangka (kecurigaan) karena sebagaian dari berburuk sangka itu dosa. Dan janganlah mencaricari keburukan orang lain dan jangan menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kaum suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah seseungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat [49]:12)

Nabi Muhammad Saw. juga bersabda:

Artinya : “Dari Muawiyah ra. katanya : Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya apabila kamu selalu mencari-cari auratnya kaum muslimin berarti kamu akan menjatuhkan mereka atau hampir menjatuhkan mereka.” (HR. Abu Daud)

Dari nash Al-Qur’an dan Hadis tersebut di atas, terdapat pelajaran yang bisa diambil bahwa perbuatan ghibah itu sangat merusak hubungan persahabatan, persaudaraan dan bahkan bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Sebab-sebab timbulnya ghibah:

a. Ingin menghilangkan perasaan marah. Jika telah terlampiaskan marahnya ia merasa puas.

b. Kemegahan diri, seseorang yang ingin dikatakan hebat, dan mewah atau megah.

c. Mengaggap orang lain lemah, rendah dan hina.

Tidak semua membicarakan orang lain itu ghibah, di bawah ini adalah bukan termasuk perilaku ghibah karena dilakukan demi kebaikan bersama dan harus dengan cara yang baik pula, yaitu:

a. Melaporkan kejahatan kepada pihak-pihak yang berwenang, seperti polisi atau jaksa untuk proses penyidikan;

b. Mengungkapkan kejahatan dengan tujuan perlindungan masyarakat dari kejahatan itu;

c. Menjelaskan keburukan ahli maksiat dan ahli bid’ah agar masyarakat Islam selamat dari keburukannya; dan

d. Membicarakan keburukan orang lain dalam upaya mencari jalan keluar untuk amar ma’ruf nahi munkar.

 

D.   FITNAH

1. Pengerrtian Fitnah

Fitnah artinya’: Perkataan yang bermaksud menjelekkan orang seperti menodai (menjatuhkan) nama baik orang yang difitnah dan merugikan kehormatan orang lain. Fitnah dilakukan tidak hanya oleh satu orang, tetapi ada juga yang dilakukan oleh dua orang, atau beberapa orang (kelompok). Dari segi caranya dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ada pula yang dilakukan secara terang-terangan.

Firman Allah QS. Al-Baqarah ayat 191:

Artinya: “ Sedangkan fitnah lebih besar (bahayanya) daripada pembunuhan.” Rasulullah Saw. bersabda:

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bankrut) itu? Para sahabat menjawab, ‘Orang yang muflis (bankrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.’ Rasulullah Saw. bersabda, ‘Orang yang muflis (bankrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan shalat, menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si ini, menuduh si ini (memfitnah), memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka.” [HR. Muslim No. 2581]

Fitnah termasuk perbuatan lisan yang sangat berbahaya, sehingga dinyatakan dalam firman Allah Swt. di atas bahwa fitnah lebih besar dampaknya daripada pembunuhan. Sehingga muncul pepatah mengatakan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Mengingat bahwa luka karena benda tajam bisa hilang seiringnya waktu berlalu, namun luka karena tajamnya lisan seseorang sulit untuk dihapus, akan senantiasa membekas dalam hati orang yang difitnah. Orang yang suka memfitnah biasanya orang yang pengecut, dia tidak senang melihat orang lain hidup senang atau bahagia, ia berupaya agar orang lain jatuh kedalam kebinasaan.

2. Dampak Negatif Fitnah

Ketika seseorang melakukan fitnah maka akan banyak dampak yang ditimbulkan baik itu untuk orang yang di fitnah maupun untuk dirinya sendiri. Berikut ini dampak-dampak negatif yang ditimbulkan dari perilaku fitnah.

a. Mendapat ancaman Allah Swt. akan siksa neraka yang sangat pedih.

b. Rusaknya kehidupan masyarakat karena adanya kecurigaan antara yang satu dengan yang lain.

c. Terpecahnya persatuan masyarakat yang dapat memicu timbulnya beberapa kelompok yang mendukung maupun yang menentang.

3. Upaya Menghindari Perilaku Fitnah

Setiap muslimin dan muslimat wajib menghindari dan meninggalkan perilaku fitnah mengingat dampak negatifnya yang sangat berbahaya baik bagi pelaku maupun bagi orang yang difitnah dan bagi masayarakat secara umum. Adapun upaya ynag bisa dilakukan untuk menghindari perilaku fitnah adalah:

a. Bergaul dengan baik kepada semua orang dan tidak pilih-pilih.

b. Saling mengingatkan apabila pembicaraan sudah mengarah kepada perbuatan fitnah.

c. Melakukan klarifikasi terlebih dahulu saat mendengar berita yang tidak jelas sumber kebenarannya.

d. Mau menyampaikan dan menerima kritik dengan cara langsung dan jelas kepada yang bersangkutan dan tidak menyebarkannya kepada orang lain yang tidak ada kaitannya.

e. Waspada terhadap informasi dan mencari kejelasan dan kebenaran informasi supaya kita tidak salah dalam mengambil sikap dan keputusan.

f. Harus hati-hati karena fitnah itu sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan pertikaian dan kesalah pahaman, yang akhirnya menimbulkan perpecahan.

 

E.   NAMIMAH

1. Pengertian Namimah

Menurut bahasa namimah berasal dari bahasa Arab yang artinya adu domba. Adapun yang dimaksudkan dengan namimah menurut istilah adalah menyampaiakan sesuatu yang tidak disenangi, baik yang tidak disenangi itu orang yang diceritakan ataupun orang yang mendengarnya agar terjadi permusuhan. Cara menyampaikan sesuatu itu biasanya dengan ucapan atau perkataan, tetapi adakalanya dengan tulisan, isyarat atau dengan sindiran.

Namimah pada hakikatnya adalah menyampaikan atau menceritakan rahasia orang lain sehingga merusak nama baik orang lain tersebut, tentu saja orang yang diceritakan itu merasa tidak senang dan dapat menimbulkan permusuhan.

Seringkali terjadi namimah dilakukan oleh orang yang sengaja ingin menimbulkan permusuhan antara seseorang dengan orang lain atau bahkan sifat seseorang yang ingin mencari popularitas diri sendiri diatas penderitaan orang lain. Misalnya Abduh dan Asmat adalah dua orang yang bersahabat. Darwin adalah orang yang banyak omong dan akhlaknya kurang baik. Melihat persahabatan Abduh dan Asmat sangat akrab, Darwin kemudian mencari-cari peluang untuk mengadu domba antara Abduh dan Asmat dengan berbagai cara, sehingga persahabatannya bercerai berai bahkan terjadi perkelahian atau permusuhan antara Abduh dan Asmat.

2. Dalil yang Berhubungan dengan Namimah

Namimah termasuk akhlak tercela yang dilarang dalam Agama sesuai dengan firman Allah Swt. sebagai berikut:

Artinya: “dan janganlah kamu ikuti Setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.” (QS. Al-Qalam [68]:10-11)

Artinya: “kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. Al-Humazah [104]:1)

3. Penyebab Timbulnya Sifat Namimah

Perbuatan namimah atau adu domba disebabkan antara lain:

a. Ada perasaan tidak senang terhadap orang yang diceritakan.

b. Adanya sifat dengki pada diri seseorang yang menyebabkan ketidaksenangan kepada orang lain yang mendapatkan kebahagiaan maupun kesuksesan.

c. Mencari muka agar orang lain bersimpati kepada dirinya.

d. Gemar berbicara berlebihan, omong kosong atau berbicara tentang hal-hal yang tidak benar.

4. Dampak Negatif Namimah

a. Dapat menyebabkan terputusnya ikatan silaturahmi dan ukhuwah.

b. Menyulut api kebencian dan permusuhan antar sesama manusia.

c. Merusak tatanan dan ketentraman masyarakat.

d. Hilangnya ridha Allah Swt. dan mendapat murka-Nya.

5. Upaya Menghindari Perilaku Namimah

Langkah–langkah atau cara mengatasi perilaku namimah:

a. Bagi orang yang mendengar atau menerima kabar, jangan langsung percaya dengan perkataan tersebut.

b. Berusaha untuk menghentikan pemberitaannya. Karena hal itu termasuk kemunkaran, cara mencegahnya dapat melalui lisan, tulisan maupun dalam bentuk yang lain.

c. Membenci perilaku namimah, dan membencinya karena Allah Swt., bukan karena hawa nafsu.

d. Apabila melihat atau mendengar sesuatu yang disampaikan orang lain itu akan menimbulkan keburukan sebaiknya didiamkan saja.

e. Jangan melayani omongan orang yang suka berkata bohong.

f. Apabila ada berita yang meragukan dari seseorang, agar diselidiki terlebih dahulu kebenarannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keteladanan Sahabat Abu Bakar

  A.   BIOGRAFI SINGKAT ABU BAKAR AL-SHIDDIQ 1. Nama Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru binKa`ab bin Sa`ad bi...