Kamis, 30 Juli 2026

Surat untuk Presiden: Guru Tidak Meminta Dipuji, Kami Hanya Ingin Dapat Bertahan Mengajar

 



Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia,

Perkenankan saya menulis surat ini bukan sebagai pengamat pendidikan, bukan pula sebagai ahli kebijakan. Saya menulis sebagai seorang guru yang sejak tahun 2000 berdiri di depan kelas, menyaksikan Indonesia tumbuh dari generasi ke generasi. Saya telah mengajar lebih dari dua puluh lima tahun. Ribuan murid pernah saya temui. Mereka datang dengan wajah yang berbeda, tetapi membawa harapan yang sama: masa depan.


Selama seperempat abad itu, saya melihat perubahan yang sangat besar. Perubahan yang paling terasa bukan hanya pada kurikulum, melainkan pada cara anak-anak berpikir.


Hari ini saya melihat kompetensi banyak peserta didik mengalami penurunan. Mereka lebih cepat memperoleh informasi, tetapi lebih sulit memahami makna. Mereka hafal banyak hal, tetapi kurang mampu menganalisis. Mereka selalu terhubung dengan internet, tetapi sering kehilangan fokus saat belajar.


Saya tidak menyalahkan teknologi. Justru sebagai guru saya menikmati manfaat pembelajaran digital. Administrasi menjadi lebih praktis, sumber belajar lebih kaya, komunikasi lebih cepat, dan pembelajaran menjadi lebih menarik. Teknologi adalah kemajuan yang harus kita syukuri.



Namun, di balik kemudahan itu ada sisi lain yang mulai mengkhawatirkan. Penggunaan gawai yang berlebihan membuat sebagian anak kehilangan kemampuan berkonsentrasi dalam waktu lama. Istilah seperti brain rot dan brain fog bukan lagi sekadar istilah di media sosial, tetapi mulai terlihat dalam ruang kelas. Anak-anak mudah bosan, sulit membaca teks panjang, cepat menyerah ketika menghadapi soal yang membutuhkan penalaran, dan semakin bergantung pada jawaban instan.


Saya percaya, Indonesia tidak kekurangan anak cerdas. Yang kita butuhkan adalah keberanian membangun keseimbangan antara teknologi dan pembentukan karakter, antara kecerdasan digital dan kecerdasan berpikir mendalam.

Bapak Presiden,

Izinkan saya berbicara sebagai seorang ibu.

Mendidik anak ternyata tidak berhenti ketika bel pulang sekolah berbunyi. Saya sedang berjuang membiayai pendidikan dua anak yang kuliah secara bergantian. Anak sulung telah menyelesaikan pendidikan S1 hingga S2 dengan biaya yang mencapai sekitar Rp300 juta. Kini anak kedua bersiap memasuki bangku kuliah. Tiga tahun lagi, anak ketiga juga akan menyusul.


Saya tidak pernah menyesali investasi pendidikan. Sebagai guru, saya percaya pendidikan adalah warisan terbaik yang dapat diberikan kepada anak-anak. Namun, saya juga harus jujur mengatakan bahwa beban biaya pendidikan semakin berat.


Sebagai ASN di lingkungan Kementerian Agama sejak tahun 2007 dengan pangkat golongan IV/b, saya hidup sederhana. Gaji yang saya terima belum mampu mengimbangi kebutuhan keluarga, terutama biaya pendidikan anak. Sudah hampir tiga tahun tidak ada kenaikan gaji yang benar-benar terasa bagi kami. Di sisi lain, harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, dan berbagai keperluan rumah tangga terus meningkat.


Kami mendengar kabar tentang tunjangan kinerja yang dijanjikan sebesar 80 persen. Hingga hari ini, kami masih menunggu realisasi dan eksekusinya. Penantian itu bukan sekadar menunggu tambahan penghasilan, tetapi menunggu bentuk penghargaan negara terhadap pengabdian guru madrasah yang selama ini ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.


Bapak Presiden,

Agar dapur tetap mengepul, saya tidak hanya mengajar. Saya menjadi jurnalis, menulis buku, menjadi narasumber pelatihan, dan menerima berbagai pekerjaan yang masih berkaitan dengan profesi saya. Semua saya lakukan bukan karena ingin mengejar kemewahan, melainkan agar cicilan rumah, kendaraan, serta biaya pendidikan anak tetap dapat dibayar tepat waktu. Bahkan, fasilitas pinjaman bank yang saya miliki hampir penuh hingga masa pensiun nanti.


Kadang saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa seorang guru harus bekerja di banyak tempat hanya untuk memastikan keluarganya tetap bertahan?


Saya yakin saya bukan satu-satunya. Ada banyak guru di seluruh Indonesia yang selepas mengajar masih menjadi penulis, pedagang, petani, pengemudi, atau pekerjaan lainnya demi menutup kebutuhan hidup.

Kami tidak sedang mengeluh. Kami hanya sedang menyampaikan kenyataan.

Guru bukan meminta diperkaya. Guru hanya ingin hidup layak tanpa kehilangan martabat profesinya.


Bapak Presiden,

Jika negara ingin membangun Indonesia Emas 2045, maka investasi terbesar bukan hanya membangun gedung sekolah atau memperbanyak perangkat digital. Investasi terbesar adalah memastikan guru memiliki ketenangan hidup sehingga mampu mendidik dengan sepenuh hati.


Guru yang sejahtera akan lebih fokus mengajar.

Guru yang tenang akan lebih kreatif mendidik.

Guru yang dihargai akan melahirkan generasi yang menghargai bangsanya.


Saya juga berharap pemerintah membuka lebih banyak ruang bagi guru yang memiliki kompetensi menulis, meneliti, berbicara di depan publik, maupun mengembangkan inovasi pendidikan. Berikan kesempatan kepada kami untuk berkarya sesuai profesi sehingga kemampuan yang dimiliki dapat menjadi tambahan penghasilan yang bermartabat, bukan sekadar pekerjaan sambilan untuk bertahan hidup.


Saya percaya Bapak Presiden memiliki niat baik membangun pendidikan Indonesia. Karena itu, izinkan surat sederhana ini menjadi suara kecil dari ruang kelas yang mungkin jarang terdengar hingga Istana.


Semoga ada kebijakan yang berpihak kepada guru. Semoga kesejahteraan bukan hanya menjadi janji, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan para pendidik. Semoga anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan akal sehat serta nurani.


Saya akan tetap mengajar esok pagi seperti biasa. Dengan senyum yang sama, dengan semangat yang sama, dan dengan harapan yang belum pernah padam.


Karena saya percaya, masa depan Indonesia selalu dimulai dari seorang guru yang tidak pernah berhenti berharap.

Hormat saya,

Seorang Guru Madrasah, Ibu, Jurnalis, Penulis, dan Warga Negara yang Mencintai Indonesia.

 

Surat untuk Presiden: Guru Tidak Meminta Dipuji, Kami Hanya Ingin Dapat Bertahan Mengajar

  Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia, Perkenankan saya menulis surat ini bukan sebagai pengamat pendidikan, bukan pula sebagai ahli ...