Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia,
Perkenankan saya menulis surat ini bukan sebagai
pengamat pendidikan, bukan pula sebagai ahli kebijakan. Saya menulis sebagai
seorang guru yang sejak tahun 2000 berdiri di depan kelas, menyaksikan
Indonesia tumbuh dari generasi ke generasi. Saya telah mengajar lebih dari dua
puluh lima tahun. Ribuan murid pernah saya temui. Mereka datang dengan wajah
yang berbeda, tetapi membawa harapan yang sama: masa depan.
Selama seperempat abad itu, saya melihat
perubahan yang sangat besar. Perubahan yang paling terasa bukan hanya pada
kurikulum, melainkan pada cara anak-anak berpikir.
Hari ini saya melihat kompetensi banyak peserta
didik mengalami penurunan. Mereka lebih cepat memperoleh informasi, tetapi
lebih sulit memahami makna. Mereka hafal banyak hal, tetapi kurang mampu
menganalisis. Mereka selalu terhubung dengan internet, tetapi sering kehilangan
fokus saat belajar.
Saya tidak menyalahkan teknologi. Justru sebagai
guru saya menikmati manfaat pembelajaran digital. Administrasi menjadi lebih
praktis, sumber belajar lebih kaya, komunikasi lebih cepat, dan pembelajaran
menjadi lebih menarik. Teknologi adalah kemajuan yang harus kita syukuri.
Namun, di balik kemudahan itu ada sisi lain yang
mulai mengkhawatirkan. Penggunaan gawai yang berlebihan membuat sebagian anak
kehilangan kemampuan berkonsentrasi dalam waktu lama. Istilah seperti brain
rot dan brain fog bukan lagi sekadar istilah di media sosial,
tetapi mulai terlihat dalam ruang kelas. Anak-anak mudah bosan, sulit membaca
teks panjang, cepat menyerah ketika menghadapi soal yang membutuhkan penalaran,
dan semakin bergantung pada jawaban instan.
Saya percaya, Indonesia tidak kekurangan anak
cerdas. Yang kita butuhkan adalah keberanian membangun keseimbangan antara
teknologi dan pembentukan karakter, antara kecerdasan digital dan kecerdasan
berpikir mendalam.
Bapak Presiden,
Izinkan saya berbicara sebagai seorang ibu.
Mendidik anak ternyata tidak berhenti ketika bel
pulang sekolah berbunyi. Saya sedang berjuang membiayai pendidikan dua anak
yang kuliah secara bergantian. Anak sulung telah menyelesaikan pendidikan S1
hingga S2 dengan biaya yang mencapai sekitar Rp300 juta. Kini anak kedua
bersiap memasuki bangku kuliah. Tiga tahun lagi, anak ketiga juga akan
menyusul.
Saya tidak pernah menyesali investasi pendidikan.
Sebagai guru, saya percaya pendidikan adalah warisan terbaik yang dapat
diberikan kepada anak-anak. Namun, saya juga harus jujur mengatakan bahwa beban
biaya pendidikan semakin berat.
Sebagai ASN di lingkungan Kementerian Agama sejak
tahun 2007 dengan pangkat golongan IV/b, saya hidup sederhana. Gaji yang saya
terima belum mampu mengimbangi kebutuhan keluarga, terutama biaya pendidikan
anak. Sudah hampir tiga tahun tidak ada kenaikan gaji yang benar-benar terasa
bagi kami. Di sisi lain, harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, dan berbagai
keperluan rumah tangga terus meningkat.
Kami mendengar kabar tentang tunjangan kinerja
yang dijanjikan sebesar 80 persen. Hingga hari ini, kami masih menunggu
realisasi dan eksekusinya. Penantian itu bukan sekadar menunggu tambahan
penghasilan, tetapi menunggu bentuk penghargaan negara terhadap pengabdian guru
madrasah yang selama ini ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.
Bapak Presiden,
Agar dapur tetap mengepul, saya tidak hanya
mengajar. Saya menjadi jurnalis, menulis buku, menjadi narasumber pelatihan,
dan menerima berbagai pekerjaan yang masih berkaitan dengan profesi saya. Semua
saya lakukan bukan karena ingin mengejar kemewahan, melainkan agar cicilan
rumah, kendaraan, serta biaya pendidikan anak tetap dapat dibayar tepat waktu.
Bahkan, fasilitas pinjaman bank yang saya miliki hampir penuh hingga masa
pensiun nanti.
Kadang saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa
seorang guru harus bekerja di banyak tempat hanya untuk memastikan keluarganya
tetap bertahan?
Saya yakin saya bukan satu-satunya. Ada banyak
guru di seluruh Indonesia yang selepas mengajar masih menjadi penulis,
pedagang, petani, pengemudi, atau pekerjaan lainnya demi menutup kebutuhan
hidup.
Kami tidak sedang mengeluh. Kami hanya sedang
menyampaikan kenyataan.
Guru bukan meminta diperkaya. Guru hanya ingin
hidup layak tanpa kehilangan martabat profesinya.
Bapak Presiden,
Jika negara ingin membangun Indonesia Emas 2045,
maka investasi terbesar bukan hanya membangun gedung sekolah atau memperbanyak
perangkat digital. Investasi terbesar adalah memastikan guru memiliki
ketenangan hidup sehingga mampu mendidik dengan sepenuh hati.
Guru yang sejahtera akan lebih fokus mengajar.
Guru yang tenang akan lebih kreatif mendidik.
Guru yang dihargai akan melahirkan generasi yang
menghargai bangsanya.
Saya juga berharap pemerintah membuka lebih
banyak ruang bagi guru yang memiliki kompetensi menulis, meneliti, berbicara di
depan publik, maupun mengembangkan inovasi pendidikan. Berikan kesempatan
kepada kami untuk berkarya sesuai profesi sehingga kemampuan yang dimiliki
dapat menjadi tambahan penghasilan yang bermartabat, bukan sekadar pekerjaan
sambilan untuk bertahan hidup.
Saya percaya Bapak Presiden memiliki niat baik
membangun pendidikan Indonesia. Karena itu, izinkan surat sederhana ini menjadi
suara kecil dari ruang kelas yang mungkin jarang terdengar hingga Istana.
Semoga ada kebijakan yang berpihak kepada guru.
Semoga kesejahteraan bukan hanya menjadi janji, tetapi benar-benar hadir dalam
kehidupan para pendidik. Semoga anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi
yang cerdas, berkarakter, dan mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan akal
sehat serta nurani.
Saya akan tetap mengajar esok pagi seperti biasa.
Dengan senyum yang sama, dengan semangat yang sama, dan dengan harapan yang
belum pernah padam.
Karena saya percaya, masa depan Indonesia selalu
dimulai dari seorang guru yang tidak pernah berhenti berharap.
Hormat saya,
Seorang Guru Madrasah, Ibu, Jurnalis,
Penulis, dan Warga Negara yang Mencintai Indonesia.
