Kamis, 11 Agustus 2022

(93) 5 Solusi Menolak Perilaku Antisosial pada Gen Z

 

5 Solusi Menolak Perilaku Antisosial pada Gen Z

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag (Guru SKI di MTsN 2 Garut)

Pemuda saat ini adalah bagian dari Generasi Z. Mereka berusia 10 hingga 27 tahun pada tahun 2022. Gen Z adalah generasi yang hampir digital, jadi menggunakan ruang digital sebagai alat pendidikan penting bagi institusi pendidikan. Saat ini, pembelajaran menggunakan teknologi seperti e-learning atau blended learning telah diterapkan.


Menyikapi revolusi industri 4.0, Indonesia berupaya meningkatkan tiga level pemahaman, yaitu level teknologi untuk memahami pengoperasian mesin, penerapan teknologi (coding/pemrograman, kecerdasan buatan dan prinsip-prinsip engineering), literasi data untuk membaca, menganalisis dan menggunakan informasi (Big Data) di dunia digital, dan pengetahuan manusia tentang komunikasi, kolaborasi, pemikiran kritis, keterampilan kreativitas dan inovasi serta keterampilan kepemimpinan, kerja tim, dll.


Gen Z memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi lainnya. Meskipun penggunaan teknologi dalam pembelajaran masih sulit untuk  meningkatkan literasi di kalangan Gen Z karena mereka cenderung berjuang untuk komunikasi langsung dan penghapusan nilai-nilai budaya dan agama.


Gen Z adalah generasi yang telah terpapar kemajuan teknologi sejak lahir. Pendidikan mereka bahkan didukung oleh teknologi dan internet. Lahir dari tahun 1995 hingga 2012, mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk hidup tanpa teknologi dan internet. Keberadaan teknologi dan internet telah menjadi bagian penting dari kehidupan dan aktivitas mereka sehari-hari. Bagi Gen Z, teknologi dan internet adalah hal yang harus ada, bukan  inovasi seperti yang dilihat generasi lain.


Kemajuan teknologi dan pesatnya arus informasi melalui Internet telah mempengaruhi kehidupan Gen Z. Mereka terbiasa berkomunikasi menggunakan kemudahan yang mereka miliki, berkonsultasi informasi tentang berbagai hal dari dunia luar melalui Internet, bermain game, dan bahkan membuka toko melalui sebuah benda di tangan mereka, yaitu smartphone (gadget).


Hampir semua Generasi Z memiliki smartphone, baik  kaya maupun miskin, yang tinggal di perkotaan dan pedesaan. Dapat dikatakan bahwa Gen Z terpapar penggunaan smartphone setiap hari. Tingkat kecanduan smartphone Gen Z  lebih tinggi daripada televisi. Mereka akan lebih kesal jika tidak bisa mengakses internet daripada kehilangan uang saku.


Gen Z sangat akrab dengan media sosial. Hasil penelitian Palley 2012 dalam Turner (2015) memperlihatkan bahwa 60% responden Gen Z memulai kehidupan sosial mereka secara online, 50% Gen Z lebih menyukai berkomunikasi secara online daripada berbicara langsung dikehidupan nyata, bahkan 70% Gen Z lebih nyaman berkomunikasi dengan temannya secara online.


Mengingat bagaimana Gen Z menggunakan teknologi dan Internet dalam kehidupan sehari-hari mereka, mereka dilatih untuk terlibat dengan banyak topik atau masalah sekaligus. Kondisi ini mungkin disebabkan oleh sinkronisasi kuatnya keterampilan motorik yang dimiliki  Gen Z, terutama pada mata, tangan, dan telinga dibandingkan dengan generasi sebelumnya.


Menggunakan teknologi khususnya smartphone, beberapa Gen Z menggunakannya untuk memberdayakan serta menghibur. Namun, hal ini berbeda dengan beberapa Gen Z lainnya yang  masih memiliki kesadaran  digital yang sangat rendah, sehingga biasanya mereka hanya menggunakan smartphone untuk konsumsi.


Generasi Z dalam hal pembelajaran  menggunakan teknologi, meskipun mereka  umumnya menerima dan cukup antusias, interaksi  intensif antara Gen Z dan guru mereka tetap penting. Hal ini disebabkan oleh karakteristik Generasi Z yang cenderung menginginkan snapshot, kekinian, rentang perhatian yang pendek, dan kemampuan  yang rendah untuk memverifikasi informasi.


Untuk meningkatkan literasi, Generasi Z masih sangat membutuhkan banyak latihan di dunia nyata, serta menggunakan teknologi untuk menemukan informasi nyata tentang apa yang terjadi di negara mereka atau di dunia luar. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan bagaimana model pembelajaran yang menggunakan teknologi lebih tepat untuk meningkatkan literasi manusia di Gen Z. Memang penggunaan teknologi yang berlebihan justru akan mendorong Gen Z kehilangan kemampuan untuk berinteraksi dan bersosialisasi secara tatap muka.

5 Solusi Menolak Perilaku Antisosial pada Gen Z :

1.   Menyerap informasi. Ini adalah cara paling tradisional untuk mengajarkan nilai-nilai. Cerita dan informasi tentang budaya Indonesia merupakan sumber yang kaya untuk menemukan nilai-nilai kehidupan. Kisah yang bisa dihadirkan untuk Gen Z adalah tentang kegagalan karena mengandung nilai-nilai inti yang bisa menjadi pelajaran. Untuk menciptakan motivasi, fasilitator dapat melakukannya melalui contoh-contoh positif dari orang-orang  sukses dan berprestasi. Bagaimanapun, 

    Anda harus meminta pendidik  untuk menemukan materi atau media yang sesuai yang menurut mereka relevan dengan masalah yang mereka hadapi dan yang  akan membantu mereka melihat dampaknya, serta pentingnya nilai dan tindakan mereka sendiri. Di akhir cerita, ada baiknya untuk merenungkan cerita yang disajikan, mencari nilai yang dikandungnya. (terutama cerita-cerita islami).

2.      Menemukan nilai-nilai dunia nyata. Nilai ini dapat dicapai dengan  melihat fenomena komunitas kecil di jalan, memberikan sumbangan kecil atau membantu sebagai cara untuk menemukan nilai cinta diri untuk orang lain yang bahkan tidak mereka kenal. Dengan memberi dan melihat kebenaran dalam kenyataan, kita menyadari bahwa pada kenyataannya setiap individu  memiliki akal sehat. Melihat ke bawah atau memandang mereka yang hidupnya lebih sulit akan membuka hati dan pikiran  untuk bertindak lebih dewasa dan bijaksana. (Hablum Minan Nas).

3.      Mendiskusikan dan membagikan pengalaman hidup yang bermakna. Menciptakan ruang untuk diskusi  terbuka dan saling menghormati adalah bagian penting dari proses ini. Pertukaran cerita, interaksi tertentu yang kemudian dapat lebih bermakna karena dalam proses ini seseorang dapat menemukan  nasib atau kejadian umum lawan bicara, atau moderator dapat merangsang diskusi yang sesuai dengan masalah. Sehingga seseorang dapat berpikir bahwa masalah yang sedang dialaminya juga dirasakan oleh orang lain. Tujuan dari diskusi adalah untuk menemukan solusi dan saling mendukung. (Memupuk Jiwa Empati)

4.      Keterampilan sosial dan emosi pribadi. Berbagai keterampilan batin diajarkan, seperti kedamaian, rasa hormat dan cinta, dengan memperkenalkan latihan relaksasi/konsentrasi. Latihan relaksasi/fokus ini membantu untuk "merasakan" nilai. Latihan ini membantu seseorang untuk menenangkan diri, mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi, dan mengatur emosi diri yang merupakan keterampilan penting dalam menemukan cara untuk  beradaptasi dan berkomunikasi dengan  diri sendiri yang pada akhirnya dapat membuka ruang untuk sukses. Kegiatan lain membangun pemahaman tentang kualitas positif individu,  mengembangkan keyakinan bahwa "Saya membuat perbedaan", memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi perasaan mereka sendiri dan belajar tentang emosi orang lain dan mempromosikan kepositifan dan tanggung jawab diri. (Self Love).

5.   Keterampilan komunikasi interpersonal. Keterampilan yang dibangun untuk kecerdasan emosional ini termasuk dalam serangkaian kegiatan yang membantu memahami peran rasa sakit, ketakutan, dan kemarahan serta konsekuensinya dalam hubungan mereka dengan orang lain. Aktif berkomunikasi, bermain kooperatif, dan menyelesaikan proyek bersama adalah kegiatan lain yang membantu membangun keterampilan komunikasi interpersonal. Untuk membangun cinta dalam dirinya sendiri, seseorang diminta untuk berpikir kembali ketika masalah dimulai dan membayangkan apa yang akan terjadi jika dia menggunakan nilai cinta. Keterampilan ini dapat dikembangkan dengan merenungkan apa  yang telah dilakukan seseorang di masa lalu dan kemudian mencari kebijaksanaan atas apa yang  terjadi. 

      Program atau kegiatan pendidikan nilai dilaksanakan dengan tujuan mengatasi dekadensi moral yang disebabkan oleh jejaring sosial merupakan kegiatan yang mudah, murah dan sederhana yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Kegiatan ini akan optimal dengan adanya pendamping dalam proses menemukan nilai-nilai yang ada dalam dirinya. Agar proses rekonsiliasi kerusakan moral dapat menciptakan generasi yang mencintai perdamaian, rasa hormat dan toleransi, tanggung jawab dan kerjasama, kebahagiaan dan kejujuran, kerendahan hati dan kesederhanaan,  dan harga diri yang wajar dan bersatu dan itu adalah bagian dari kebaikan sosial global. (Refleksi)

Simpulan

Penggunaan teknologi yang berlebihan justru akan mendorong Gen Z kehilangan kemampuan untuk berinteraksi dan bersosialisasi secara tatap muka. Dekadensi moral merupakan penyimpangan sosial yang marak terjadi pada generasi muda saat ini yang disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari pengaruh lingkungan, keluarga atau sosial media. Pengaruh atas ketiga faktor tersebut banyak di dominasi oleh faktor sosial media karena ketidakbijakan pengguna dalam memanfaatkannya yang kini menjadi sebuah problematika baru. Maka dari itu perlu sebuah soslusi tepat yang diusung agar permasalahan dekadensi moral bisa terminimalisir.

12 nilai kehidupan yang diupayakan dapat membangun peradaban dunia yang cinta akan kedamaian, memiliki rasa hormat dan toleransi, tanggung jawab dan kerja sama, kebahagiaan dan kejujuran, kerendahan hati dan kesederhanaan, serta kebebasan dan persatuan. Nilai nilai tersebut diharapkan menjadi kompas sebagai acuan dalam memetakan perjalanan dan tujuan hidup seseorang khususnya Gen Z agar lebih bermakna dan lebih luasnya lagi dapat membangun insan-insan manusia secara keseluruhan yang bermutu

 

Daftar Pustaka

Christiani, L. C., & Ikasari, P. N. (2020). Generasi Z dan pemeliharaan relasi antar generasi dalam perspektif budaya Jawa. Jurnal komunikasi dan kajian media4(2), 84-105.

Hastini, L. Y., Fahmi, R., & Lukito, H. (2020). Apakah Pembelajaran Menggunakan Teknologi dapat Meningkatkan Literasi Manusia pada Generasi Z di Indonesia?. Jurnal Manajemen Informatika (JAMIKA)10(1), 12-28.

Nurhuda, T. (2018). Peran Budaya Kolektif pada Generasi “Z” sebagai Upaya Membangun Karakter Anak Bangsa.

Subowo, A. T. (2021). Membangun Spiritualitas Digital Bagi Generasi Z. DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani5(2), 379-395.

Zis, S. F., Effendi, N., & Roem, E. R. (2021). Perubahan perilaku komunikasi generasi milenial dan generasi z di era digital. Satwika: Kajian Ilmu Budaya Dan Perubahan Sosial5(1), 69-87.


Biodata

Nurul Jubaedah lahir di Garut, 19 Mei 1978. Mengajar di MTsN 2 Garut. Pendidikan  : D1 Akuntansi (1995), S1 PAI UNIGA ( 2001), S1 Bahasa Inggris STKIP Siliwangi Cimahi (2007), S2 PAI UIN SGD Bandung (2012). Prestasi : Pembimbing KIR : Membimbing 27 judul Karya Ilmiah Remaja kategori sosial budaya, menghantarkan peserta didik juara 1,2,3, dan harapan 1 kategori Sejarah, Geografi, dan Ekonomi (tingkat Provinsi), juara harapan 1 dan 2 (tingkat Nasional)  (Juli 2019-September 2021), guru berprestasi tahap 1 di GTK Madrasah (2021), lolos tahap 3 AKMI KSKK Madrasah (Februari 2022). Karya : 4 buku solo, 20 buku  antologi (Januari-Juli 2022). Memiliki 540 konten pendidikan di canal youtube dan 100 artikel (Oktober 2021-Agustus 2022). Blog http://nuruljubaedah6.blogspot.com/. Instagram (nj_78). Email :  nuruljubaedah6@gmail.com. Whatsapp : 081322292789.

Minggu, 07 Agustus 2022

(92) Korelasi SRA dengan Sekolah Inklusi

 

Korelasi SRA dengan Sekolah Inklusi

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag (Guru SKI di MTsN 2 Garut)

Salah satu tujuan dikembangkannya kebijakan Sekolah Ramah Anak (SRA) adalah mampu mewujudkan, menjamin dan melindungi hak-hak anak, serta menjamin lembaga pendidikan harus mengembangkan minat, bakat dan kemampuan anak serta mempersiapkan anak. untuk bertanggung jawab atas kehidupan toleransi, rasa hormat dan penerimaan perbedaan. Sekolah Ramah Anak (SRA) harus inklusif karena Sekolah Ramah Anak (SRA) adalah sekolah di mana semua peserta didik berhak belajar untuk mengembangkan potensinya secara maksimal dalam lingkungan yang  terbuka dan inklusif, nyaman.

Sekolah menjadi user friendly jika partisipasi semua pihak dalam pembelajaran dibangkitkan secara alami dan baik. Inklusi adalah proses membesarkan anak dengan cara yang menguntungkan semua anak karena melibatkan partisipasi eksplisit semua anak di dalam kelas. Di sisi lain, integrasi adalah proses di mana anak berkebutuhan khusus diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan arus utama.

Pendidikan Inklusif adalah pendidikan yang hak bagi semua anak, dengan sistem pelayanan pendidikan yang mewajibkan anak berkebutuhan khusus bersekolah di sekolah lingkungan pada kelas reguler bersama teman sebayanya. Sekolah inklusif mengajarkan anak tentang perbedaan sedini mungkin.

Manfaat pendidikan inklusif adalah anak-anak akan memahami bahwa setiap anak mempunyai hak  yang sama atas pendidikan, baik bagi peserta didik berkebutuhan khusus maupun bagi peserta didik umum. Anak berkebutuhan khusus dan anak normal dapat saling berinteraksi secara adil, sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari di masyarakat,  kebutuhan pendidikan anak dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhannya.potensi setiap anak.

Hak dan kewajiban yang sama dengan peserta didik lain di kelas. Fasilitas yang berbeda untuk belajar dan berkembang, terlepas dari keterbatasan mereka. Motivasi untuk lebih percaya diri. Kesempatan untuk belajar dan berteman dengan teman sebaya.

Di sekolah inklusi, anak berkebutuhan khusus  dididik bersama anak lain yang tidak memiliki keterbatasan yang sama. Di kelas-kelas tersebut,  peserta didik dapat dilatih dan dididik untuk mampu menghargai, menghormati, dan menerima dirinya dengan  empati.

Adanya pendidikan inklusif dapat menjadi alternatif bagi para orang tua untuk menyekolahkan anaknya yang memiliki kebutuhan khusus. Namun, tidak semua sekolah reguler dapat menerima peserta didik ABK karena pendidikan inklusif hanya diselenggarakan oleh sekolah yang ditunjuk secara langsung oleh pemerintah.

Hingga kini, sekolah inklusi masih terbatas jumlahnya dan tidak tersedia secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini mungkin menjadi tantangan bagi para orang tua dan anak berkebutuhan khusus untuk mengakses pendidikan yang memadai.

Selain itu, masih banyak sekolah inklusi yang belum siap  menyelenggarakan pendidikan inklusi karena banyak kendala dan tantangan, seperti:

1.      Kurangnya guru atau staf  khusus

2.      Semua baik guru maupun staf sekolah belum memahami caranya mengajar dan membimbing anak berkebutuhan khusus

3.      Orang tua atau peserta didik normal dapat menolak untuk belajar dengan anak berkebutuhan khusus

4.      Fasilitas yang tidak memadai, misalnya peraturan buku terbatas atau kebutuhan belajar lainnya menggunakan braille untuk peserta didik tunanetra

5.      Risiko bullying atau intimidasi dari peserta didik reguler kepada peserta didik berkebutuhan khusus

Sekolah inklusi dapat menjadi pilihan yang baik bagi anak berkebutuhan khusus untuk memberikan mereka kesempatan untuk belajar, menjadi dewasa dan berkembang, terlepas dari keterbatasan mereka. Jika Anda memiliki anak berkebutuhan khusus dan berencana untuk menyekolahkannya di sekolah inklusi, Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan psikolog tentang manfaat sekolah inklusi bagi pertumbuhan dan perkembangan serta pendidikan anak Anda.

 

Daftar Pustaka

Amka, A. (2017). Implementasi Pendidikan Karakter Inklusi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Di Sekolah Reguler. Madrosatuna: Journal of Islamic Elementary School1(1), 1-12.

Wuryandani, W., Faturrohman, F., Senen, A., & Haryani, H. (2018). Implementasi pemenuhan hak anak melalui sekolah ramah anak. Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan15(1), 86-94.

Yunus, M., As, H. A. H., Hasyim, A., Yahya, M., & Sapinah, S. (2021). Mengenal dan Mendampingi Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi Sekolah Ramah Anak. Jurnal IPMAS1(3), 118-123.

 

Biodata

Nurul Jubaedah lahir di Garut, 19 Mei 1978. Mengajar di MTsN 2 Garut. Pendidikan  : D1 Akuntansi (1995), S1 PAI UNIGA ( 2001), S1 Bahasa Inggris STKIP Siliwangi Cimahi (2007), S2 PAI UIN SGD Bandung (2012). Prestasi : Pembimbing KIR : Membimbing 27 judul Karya Ilmiah Remaja kategori sosial budaya, menghantarkan peserta didik juara 1,2,3, dan harapan 1 kategori Sejarah, Geografi, dan Ekonomi (tingkat Provinsi), juara harapan 1 dan 2 (tingkat Nasional)  (Juli 2019-September 2021), guru berprestasi tahap 1 di GTK Madrasah (2021), lolos tahap 3 AKMI KSKK Madrasah (Februari 2022). Karya : 4 buku solo, 20 buku  antologi (Januari-Juli 2022). Memiliki 540 konten pendidikan di canal youtube dan 100 artikel (Oktober 2021-Agustus 2022). Blog http://nuruljubaedah6.blogspot.com/. Instagram (nj_78). Email :  nuruljubaedah6@gmail.com. Whatsapp : 081322292789.

Selasa, 02 Agustus 2022

(91) Kolaborasi Project Based Learning (PjBL) dengan Galery Walk

 

Kolaborasi Project Based Learning (PjBL) dengan Galery Walk

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag (Guru SKI di MTsN 2 Garut)

Pembelajaran Berbasis Proyek atau Project Based Learning (PjBL) merupakan metode pembelajaran yang dapat diterapkan di semua tingkatan. Dalam metode pembelajaran ini, pendidik berperan sebagai fasilitator. Pembelajaran Berbasis Proyek atau Project Based Learning (PjBL) bertujuan untuk mencari solusi masalah, selain itu peserta didik mempelajari konsep pemecahan masalah dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Mempelajari konsep dan keterampilan berpikir kritis, peserta didik bekerja sama dalam kelompok untuk menyelidiki masalah kehidupan nyata. Pembelajaran dengan menerapkan metode pembelajaran ini akan membuat peserta didik lebih aktif dan kreatif, belajar dari apa yang mereka lihat di lingkungannya.

Siklus Project Based Learning (PjBL) (Delice, 1997)


Metode pembelajaran galery walk merupakan strategi pembelajaran kelompok yang menciptakan peluang dan membantu setiap anggota mendengarkan pendapat anggota lain dan dapat menimbulkan kekuatan emosional peserta didik untuk menemukan pengetahuan baru.

Jalan-jalan di galeri dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran, karena jika sesuatu yang baru ternyata berbeda  satu sama lain, dapat saling mengoreksi antar peserta didik, baik antar kelompok maupun antar peserta didik itu sendiri.

Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas IX-B MTsN 2 Garut yang telah menerapkan Project Based Learning (PjBL) dimana didalamnya telah mengandung unsur pembelajaran abad 21 (4C) yaitu collaboration, communication, critical thinking, dan creativity adalah sebagai berikut :

1.    Bisa disaksikan di link https://youtu.be/kJmjVvj4wxI. (Materi tentang Sejarah Masuknya Islam di Indonesia)  dikerjakan oleh Kelompok I. Editor  : Silfa, Syifa,Murtadha. Presentasi : Murtadha, Syifa, Tami ,Salwa, Silfa, Risqi. Tanya Jawab: Aulia. Simpulan  : Melda.

2.   Bisa disaksikan di link https://youtu.be/SPgDkrrCSI0. (Materi tentang Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia) dikerjakan oleh Kelompok II. Editor  : Intan dan Lu'lu' Maulida. Presentasi : Intan,Lu'lu M, Lulu intan,Kayla, Marsella,Faqih,Ilhan. Tanya Jawab:Rifki dan Intan. Simpulan  : Intan Riana.

3.  Bisa disaksikan di link https://youtu.be/cW-Ce8l4B3k. (Materi tentang Peran Pesantren dalam Dakwah Islam di Indonesia) dikerjakan oleh Kelompok 3. Editor  : Karina Zahrani Cinta Auliya. Presentasi : Zacky, Rusliana, Nazril, dera, Karina, Ramdhani. Tanya Jawab: assiva, dera. Simpulan  : Karina.

4.  Bisa disaksikan di link https://youtu.be/aFlW97sGeO8. (Materi tentang Implementasi nilai-nilai Islam Kearifan Lokal dari Berbagai Suku di Indonesia dikerjakan oleh  Kelompok : 4. Editor  : Rd Ali Ridho M N. Presentasi : Nurhidayah, Nabili, Nazwa, Nazwar, Sabila, M Malik Fajri, Audya. Tanya Jawab: Nurhidayah. Simpulan  : Rd Ali Ridho Makarim Nabili.

Adapun Galery Walk telah dilaksanakan di kelas IX-C pada pertemuan ke dua setelah sebelumnya kelas ini mengerjakan hal yang sama dengan kelas IX-B seperti yang telah dijelaskan di atas. Pelaksanaan Galery walk di kelas IX-C dikerjakan oleh lima kelompok. Kelompok I menulis tentang tiga bukti masuknya Islam di Indonesia pada abad ke 7, 11, dan 13. Kelompok II menulis tentang lima cara masuknya Islam di Indonesia. Kelompok III menulis tentang empat teori masuknya Islam di Indonesia, Kelompok IV menulis tentang dua jalur masuknya Islam di Indonesia. Dan Kelompok V menulis tentang lima alasan Islam mudah diterima di Indonesia.

Kolaborasi Project Based Learning (PjBL) dengan Galery Walk

Model Pembelajaran Berbasis Proyek atau Project Based Learning (PjBL) dipadukan dengan Metode Gallery Walk, sesuai dengan pernyataan Sutirwan (2013) tentang Pembelajaran Berbasis Proyek atau Project Based Learning (PjBL). Project Based Learning (PjBL) adalah model pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam merancang tujuan pembelajaran untuk menciptakan produk atau proyek yang sebenarnya.

Sementara itu, Gallery Walk, menurut Silberman (2007:26) yang menyebutnya sebagai galeri belajar merupakan  cara untuk mengapresiasi dan merayakan apa yang telah dipelajari peserta didik setelah melalui serangkaian proses pembelajaran. Dengan menerapkan proses pembelajaran dengan menggunakan model dan pendekatan di atas, telah tercipta suatu kegiatan atau suasana kerjasama dan komunikasi, dimana dalam proses pembelajaran, peserta didik memiliki kesempatan untuk membangun pengetahuannya. Artinya peserta didik harus berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran dan berkontribusi dalam perolehan pengetahuan serta mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh di dunia nyata.

 

Daftar Pustaka

Gunung, D. P. B. U. S. (2017). Pembelajaran Berbasis Proyek Metode Gallery Walk Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta didik Pada Materi Sistem Ekskresi Manusia.

Muamar, M. R., Rahmawati, R., & Irnawati, I. (2017). Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) yang dipadu Metode Gallery Walk Terhadap Hasil Belajar Peserta didik Pada Konsep Pencemaran Lingkungan Kelas X IPA SMA Negeri 1 Bireuen. JESBIO: Jurnal Edukasi dan Sains Biologi6(1).

Sari, D. P. (2017). Pengaruh Metode Pembelajaran Gallery Walk Melalui Media Gambar terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar peserta didik pada Materi Pencemaran Lingkungan di Kelas VII SMP Inshafuddin Banda Aceh.

 

Biodata

Nurul Jubaedah lahir di Garut, 19 Mei 1978. Mengajar di MTsN 2 Garut. Pendidikan  : D1 Akuntansi (1995), S1 PAI UNIGA ( 2001), S1 Bahasa Inggris STKIP Siliwangi Cimahi (2007), S2 PAI UIN SGD Bandung (2012). Prestasi : Pembimbing KIR : Membimbing 27 judul Karya Ilmiah Remaja kategori sosial budaya, menghantarkan peserta didik juara 1,2,3, dan harapan 1 kategori Sejarah, Geografi, dan Ekonomi (tingkat Provinsi), juara harapan 1 dan 2 (tingkat Nasional)  (Juli 2019-September 2021), guru berprestasi tahap 1 di GTK Madrasah (2021), lolos tahap 3 AKMI KSKK Madrasah (Februari 2022). Karya : 4 buku solo, 20 buku  antologi (Januari-Juli 2022). Memiliki 540 konten pendidikan di canal youtube dan 100 artikel (Oktober 2021-Agustus 2022). Blog http://nuruljubaedah6.blogspot.com/. Instagram (nj_78). Email :  nuruljubaedah6@gmail.com. Whatsapp : 081322292789.

Surat untuk Presiden: Guru Tidak Meminta Dipuji, Kami Hanya Ingin Dapat Bertahan Mengajar

  Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia, Perkenankan saya menulis surat ini bukan sebagai pengamat pendidikan, bukan pula sebagai ahli ...