Jumat, 31 Januari 2025

BAB V Walisanga dalam Dakwah Islam di Indonesia (Ujikom 1 dan 2)

 

Uji Kompetensi 1

1.    Bagaimana cara pendekatan Sunan Gresik dalam mengambil simpati masyarakat sekitar sehingga tertarik dengan Islam ?

2.    Sunan Ampel mengenalkan istilah “Mo limo” yang merupakan penyakit masyarakat. Sebutkan istilah tersebut !

3.    Sebutkan empat pokok ajaran Sunan Drajat !

4.    Bagaiman cara sunan Kudus dalam mendekati masyarakat Kudus sehingga masyarkat tertarik terhadap Islam ?

5.    Sebutkan hasil karya atau cipta Sunan Kalijaga !

6.    Bagaimana peran Sunan Muria pada kerajaan Demak ?

 

Uji Kompetensi 2

Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar dengan memberi tanda silang (x) pada salah satu hurufa, b, c atau d pada lembar jawab yang tersedia!

1.        Masing-masing tokoh Wali Songo mempunyai peran yang unik. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim menempatkan diri sebagai "tabib" bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai "paus dari Timur" hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa (nuansa Hindu dan Budha). Semua peran itu mereka jalani agar tetap bisa dan mudah dalam ....

a.    berdagang                                                        c. membuat rumah pribadi

b.    menjalin komunikasi                                       d. menyebarkan agama Islam

 

2.        Salah satu nama walisongo yang dianggap sebagai “Bapak Spiritual Walisongo” adalah ....

a.         Sunan Kalijaga                                              c.     Sunan Gunung Jati

b.         Maulana Malik Ibrahim                                d.     Sunan Ampel

 

3.        Wejangan terkenal sengan istilah  Mo Limo. Molimo ini merupakan ajaran yang Moh (bhs

Jawa= tidak mau atau menolak) pada lima kata yang diawali huruf “M” dalam bahas Jawa, yaitu 1). Moh Madat (tidak mau mengisap candu atau penggunaan obat-obatan terlarang), 2). Moh Madon (yang artinya tidak mau main perempuan), 3). Moh Mabuk, 4). Moh Maling (tidak mencuri), 5). Moh Main (tidak main judi) adalah ajaran dan wejangan dari salah satu Walisongo yang bernama ….

a.     Sunan Giri                                                       c. Sunan Ampel

b.    Sunan Bonang                                                 d. Sunan Gunung Jati

 

4.        Putra Syeh Maulana Ishaq ini pada awalnya bernama Jaka Samudera. Nama itu diberikan oleh seorang saudagar kaya asal Madura yang menemukan kotak berisi bayi di tengah lautan. Menginjak dewasa kemudian pemuda ini belajar ke pesantren Ampeldenta dan bertemu dengan saudara sepupunya, Raden Makhdum Ibrahim. Walisongo yang menitikberatkan dakwahnya dengan membangun pusat pendidikan terpadu dan menciptakan metode pendidikan melalui permainan anak ini ialah ….

a.       Sunan Kalijaga                                               c.     Sunan Giri

b.      Maulana Malik Ibrahim                                 d.     Sunan Drajat

 

5.        Perhatikan permainan atau tembang yang diciptakan oleh Walisanga !

1.   Jelungan, Jamuran, dan Cublak-cublak Suweng

2.   Gending Asmaradana, Pucung dan Durma

3.   Pangkur, Macapat, dan Cariosi Jaka Pertaka

4.   Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul

5.   Gending asmaradana, Pucung dan Jamuran

6.   Jamuran, Gending Asmaradana dan Pucung

Permainan atau tembang yang diciptakan Sunan Giri ditunjukkan pada nomor ….

a.         1, 2 dan 3                                                      c.     1, 2 dan 4

b.         4, 5 dan 6                                                      d.     1, 5 dan 6

 

6.        Tembang yang diciptakan Sunan Bonang adalah ....

a.         Ilir-ilir                                                            c.     Durma

b.         Macapat                                                        d.     Jamuran

 

7.        Nama guru dari Sunan Kudus adalah ....

a.         Sunan Gresik dan Sunan Ampel                   c.     Sunan Gresik dan Kyai Telingsing         

b.         Kyai Telingsing, dan Sunan Kali Jaga         d.     Sunan Kali Jaga dan Sunan Ampel

 

8.        Di bawah ini yang termasuk nama lain Sunan Kali Jaga adalah ....

a.         Raden Mas Syahid, dan Lokajaya                c.     Pangeran Tuban dan Maulana Hasyim

b.         Raden Kosim,  dan Sunan Mahmud             d.     Syekh Malaya dan Sunan Mayang Madu

 

9.        Beberapa hasil karya atau ciptaan Sunan Kalijaga adalah ....

a.         Tembang Pangkur, dan Grebeg Maulud

b.         wayang Kalimasada, pencipta baju takwa

c.         tembang Macapat, dan perayaan Sekaten

d.         Gending Asmaradana, dan Grebeg Maulud

 

10.    Di bawah ini bukan pernyataan yang benar tentang Sunan Gunung Jati adalah ....

a.         Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah atau Fatahillah

b.         ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran

c.         ayahnya bernama Maulana Ishak saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim

d.         Sunan Gunung Jati satu-satunya walisongo yang memimpin pemerintahan

11.    Tokoh walisongo yang menciptakan gending untuk mencapai tujuan dakwahnya adalah....

a.    Sunan Bonang                                                 c.  Sunan Drajat         

b.    Sunan Ampel                                                  d.  Sunan Muria

12.    Berikut ini adalah kesesuaian nama walisongo dengan metode dakwah yang digunakannya ….

a.     Sunan Kalijaga (Raden Muhammad Syahid) dakwah: mengarang cerita wayang kulit bercorak islami

b.    Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) dakwah : mengajarkan cara berdagang

c.     Sunan Muria (Raden Umar Sa'id) dakwah : mengajarkan bercocok tanam

d.    Sunan Ampel (raden rahmat) dakwah : mendidik anak kecil dengan permainan2 yang bersifat agama

13.    Berikut ini adalah kesesuaian nama walisongo dengan daerah dakwah yaitu ….

a. Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) ---> Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon

b. Syarifuddin (Sunan Drajad) ---> Jawa Tengah 

c. Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) ---> Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku

d. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) ---> Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon

14.    Metode berdakwah yang dilakukan Sunan Gunung Jati adalah dengan mengadaptasi tradisi masyarakat Jawa Barat, dakwah yang dilakukan beliau dilakukan dengan cara-cara yang menarik perhatian. Daerah yang terkena pengaruh dakwah Sunan Gunung Jati adalah ….

a.       Cirebon                                                          c. Madura

b.      Ampel                                                            d. Kudus

15.    Sunan Kudus banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priayi Jawa. Salah satu peninggalannya yang terkenal ialah Masjid Menara Kudus, yang arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam dan merupakan salah satu warisan budaya Nusantara. Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 M. Julukan Sunan Kudus adalah ….

a.       Waliyullah (walinya Allah)                           c. Wali al amanah (orang yang jujur)

b.       Wali al 'ilmi (orang yang luas ilmunya)         d. Wali al fatonah (orang yang cerdas)

BAB V Walisanga dalam Dakwah Islam di Indonesia (Pertemuan 3)

                                      

Pertemuan 3

 

1.         Sunan Kalijaga

Nama asli Sunan Kalijaga  adalah Raden Mas Syahid, kadang juga dijuluki Syekh Malaya, Lokajaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman. Sebutan Kalijaga diyakini berasal dari rangkaian bahasa Arab qadi zaka yang berarti “pelaksana” dan “membersihkan”. Oleh masyarakat Jawa kata qadizaka sering disebut Kalijaga, yang berarti pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kebersihan atau kesucian.

Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, berpandangan jauh, berpikiran tajam, intelek dan berasal dari suku Jawa asli. Dalam melaksanakan dakwahnya, Sunan Kalijaga tidak menetap di suatu daerah. Sistem dakwahnya intelek dan aktual. Banyak orang dari kalangan bangsawan dan cendikiawan menaruh hormat dan simpati terhadapnya. Dakwahnya dapat dan mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Sunan Kalijaga dikenal pula sebagai arsitek sistem pemerintahan Jawa yaitu kabupaten, yang pada masa kini telah diterapkan pula secara nasional.

Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.

 

Sunan Kali Jaga adalah pencipta lagu lir ilir dan gundul- gundul pacul. Beberapa muridnya yang terkenal adalah Sunan Bayat (Klaten), Sunan Geseng (Kediri), Syekh Jangkung (Pati) dan Ki Ageng Selo (Demak).

   Salah satu karyanya dalam seni batik yaitu batik bermotif burung. Sunan Kalijaga wafat pada pertengahan abad ke-15 dan dimakamkan di desa Kadilangu, Demak, Jawa Tengah

2.         Sunan Muria

Sunan Muria adalah putra dari Sunan Kalijaga dan ibunya bernama Dewi Saroh. Nama aslinya adalah Raden Umar Said atau Raden Said. Semasa kecil ia biasa dipanggil Raden Prawoto. Ia lebih dikenal dengan nama Sunan Muria, sebab pusat kegiatan dakwah ataupun makamnya terletak di Gunung Muria, yang berjarak sekitar 18 kilometer sebelah utara kota Kudus. Ciri khas Sunan Muria dalam menyiarkan Islam adalah menjadikan desa-desa terpencil sebagai medan dakwah Islamnya. Ia banyak bergaul dengan rakyat jelata atau rakyat kebanyakan dan memberikan kursus-kursus atau keterampilan kepada para petani, pedagang, nelayan ataupun elemen masyarakat kecil lainnya.

Sunan Muria juga sering kali dijadikan sebagai penengah dalam konflik internal di kesultanan Demak, karena dia mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusinya  itupun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang bersiteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti. Dia juga ikut andil dalam pendirian Masjid Demak. Menurut perkiraan, Sunan Muria wafat pada abad ke-16 dan dimakankan di bukit Muria, Kudus.

3.         Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah atau Fatahillah atau Falatehan, diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia  adalah salah  seorang dari Walisongo yang banyak berjasa dalam menyebarkan Islam di pulau Jawa, Khususnya di Jawa Barat. Ia dikenal sebagai pendiri kesultanan Cirebon dan Banten. Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya walisongo yang memimpin pemerintahan.

Syarif Hidayatullah belajar agama Islam sejak kecil dan mulai mendalami ilmu agama secara intensif sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Dalam berdakwah ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infra struktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya hanya untuk menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Sunan Gunung Jati wafat tahun 1568 M dalam usia 120 tahun dan dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, Cirebon.

Selain nama wali yang sudah disebutkan di atas, umat Islam di Jawa juga mengenal nama-nama lain yang dianggap sebagai wali atau penyebar Islam, seperti: Sunan Sendang di Sendangduwur, Lamongan; Sunan Bayat di Klaten; Sayyid Sulaiman di Mojoagung, Jombang; dan masih banyak lagi. Karena itu sebutan Wali Songo mungkin merupakan julukan yang mengandung perlambang suatu dewan wali-wali, dengan mengambil angka  sembilan  yang  sebelum ada  pengaruh  Islam sudah  dipandang sebagai angka keramat. Angka sembilan ini juga dijadikan perlambang Nahdlatul Ulama untuk memberi kesan bahwa misi yang diperjuangkan oleh  para  ulama  merupakan  kelanjutan  dari  perjuangan  dakwah  Wali Songo

 

A.       Peran Walisanga dalam dakwah Islam di Indonesia

1.         Pendidikan dan Pengembangan Keilmuan

Syekh Maulana Malik Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan Sunan Gresik mendirikan Pesantren di desa Gapura, Gresik, guna mendidik kader-kader pemimpin muslim yang andal. Sunan Ampel mendirikan Pesantren Ampel Denta. Di antara murid-muridnya adalah Raden Paku, Raden Fatah, Raden Makdum Ibrahim, Syarifuddin, serta Maulana Ishaq. Jejak dakwah Sunan Ampel bukan hanya di Surabaya dan ibu kota Majapahit, tetapi juga meluas sampai ke daerah Sukadana, Kalimantan. Dakwah awal Sunan Bonang dilakukan di Kediri yang menjadi pusat ajaran Bhairawa-Thantra dengan mendirikan masjid di daerah Singkal. Sunan Bonang terkenal sebagai tokoh yang piawai dalam berdakwah dan menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari fiqh, ushul fiqh, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan berbagai ilmu kesaktian.

2.         Seni-Budaya

Seni dan budaya tertentu disesuaikan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Hal ini melalui proses asimilasi yang panjang sehingga melahirkan corak kesenian dan kebudayaan yang khas. Seni-budaya merupakan sarana komunikasi dan transformasi informasi kepada masyarakat sebagai sarana dakwah yang terbukti efektif.  Sunan Bonang dianggap sebagai pencipta gending pertama. Ia berdakwah di daerah Tuban dengan menggunakan media wayang dan gamelan sesuai dengan kegemaran orang Jawa.

Adapun Sunan Giri adalah pencipta permainan anak bernuansa religius, seperti jelungan, gending, jor gula, cublak-cublak suweng, serta lir-ilir. Sunan Drajat adalah pencipta tembang Jawa, yaitu Pangkur. Sementara itu, Sunan Kudus adalah pencipta gending Maskumambang dan Mijil. Kemudian, Sunan Muria sangat piawai menciptakan berbagai tembang cilik jenis Sinom dan Kinanthi yang berisi nasihat dan ajaran ketuhanan. Ia juga pandai menjadi dalang sebagaimana ayahnya (Sunan Kalijaga).

Sunan Kalijaga dianggap sangat berjasa dalam mengembangkan seni wayang purwa atau wayang kulit serta gamelan yang dimanfaatkan sebagai media dakwah Islam. Di samping itu, beliau juga mengembangkan seni suara, ukir, busana, pahat dan kesusastraan.

3.         Sosial Kemasyarakatan

Salah satu usaha dakwah dalam bidang sosial kemasyarakatan dilakukan Raden Rahmat atau Sunan Ampel yaitu membentuk jaringan kekerabatan melalui perkawinan para penyebar Islam dengan putri penguasa bawahan Majapahit. Dengan cara tersebut, ikatan kekerabatan di antara umat Islam semakin kuat, termasuk dirinya sendiri yang menikahi putri Arya Teja, Bupati Tuban. Ia juga membuat peraturan yang memuat nilai-nilai ajaran Islam untuk masyarakat, contohnya mo limo atau lima larangan (moh madon, moh ngombe, moh madat, moh main, moh maling). Adapun kelima larangan yang dimaksud meliputi dilarang berzina, minum minuman keras, mengisap candu, berjudi, serta mencuri.

Sunan Drajat adalah sosok yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat .golongan ekonomi lemah, yaitu fakir dan miskin. Beliau senantiasa mengutamakan kesejahteraan umat, memiliki empati, etos kerja tinggi, serta kedermawanan. Sunan Drajat berusaha gigih untuk menciptakan kemakmuran dengan cara menjalin solidaritas sosial dan kerja bakti.

Sunan Kudus dalam dakwahnya mengajarkan mengenai alat-alat kebutuhan rumah tangga, pertukangan, kerajinan emas, pandai besi, serta pembuatan pusaka. Beliau terkenal tegas dalam ilmu agama, tetapi tetap ramah dan toleran.

4.         Berbangsa dan Bernegara

Sunan Ampel termasuk perancang Kerajaan Islam Demak Bintoro yang beribu kota di Demak. Beliau sendiri berkedudukan sebagai bupati penguasa Surabaya menggantikan Arya Lembu Sura. Sunan Kalijaga mempunyai kedudukan yang tinggi di kerajaan Demak sebagai guru sekaligus penasihat utama Sultan. Beliau ahli dalam ilmu administrasi negara dan piawai dalam berstrategi. Syair lagu “Gundul-Gundul Pacul” merupakan wujud kritiknya terhadap kebijakan raja. Liriknya sederhana, tetapi sarat makna. Strategi dakwah yang dijalankan Sunan Gunung Jati adalah memperkuat kedaulatan politik. Beliau juga berusaha mempererat hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh.

Soal Latihan

1.    Sebutkan hasil karya atau cipta Sunan Kalijaga !

2.    Bagaimana peran Sunan Muria pada kerajaan Demak ?

3.    Bagaimana cara yang dilakukan Sunan Gunung Jati dalam mendekati rakyat ?

4.    Bagaimana peran Sunan Giri kaitannya dengan seni budaya ?

BAB V Walisanga dalam Dakwah Islam di Indonesia (Pertemuan 2)

 

Pertemuan 2

 

1.         Sunan Bonang

Sunan Bonang nama lainnya adalah Maulana Makhdum Ibrahim adalah putera dari Sunan Ampel, ia merupakan sepupu dari Sunan Kalijaga dan cucu dari Maulana Malik Ibrahim. Sekembalinya dari Pasai, Sunan Bonang mendirikan pesantren di daerah Tuban dan santrinya berasal dari berbagai daerah di Tanah Air.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga. 

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri. 

Sebagaimana corak perjuangan wali yang lain, Sunan Bonang juga sangat memperhatikan tradisi dan budaya masyarakat. Pada saat itu, masyarakat Jawa dikenal memiliki kegemaran terhadap seni pewayangan.

Karenanya Sunan Bonang memanfaatkan media wayang untuk menyampaikan dakwahnya. Syair lagu gamelan ciptaan para wali dan Sunan Bonang pada khususnya berisi tentang ajaran tauhid dan peribadatan. Salah satu tembang ciptaan Sunan Bonang adalah tembang “durma”.

Setelah ayahnya wafat, ia bermusyawarah dengan  para wali untuk membahas kepemimpinan di pesantren milik ayahnya. Hasil musyawarah para wali menunjuk Raden Fatah sebagai penerus kepemimpinan di pesantren Ampel Denta. Sunan Bonang memberikan pendidikan Islam secara mendalam kepada Raden Fatah (putera raja Majapahit). Pada masa selanjutnya, Raden Fatah dinobatkan menjadi sultan pertama Kerajaan Demak.

Sunan Bonang wafat tahun 1525 M dan dimakamkan di Tuban, daerah yang menjadi basis perjuangan dakwahnya.

2.         Sunan Drajat

   Sunan Drajat nama lainnya Raden Kosim Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munat adalah putra Sunan Ampel saudara Sunan Bonang dan menantu Sunan Gunung Jati. Ia lahir di Ampel Denta kira-kira tahun 1470 M. Sunan Drajat dikenal juga dikenal dengan Sunan Sedayu karena ia dimakamkan di Sedayu.

Ketika para wali memutuskan untuk mengadakan pendekatan kultural terhadap masyarakat Jawa dalam menyiarkan agama Islam, Sunan Drajat juga mempunyai andil. Ia menciptakan tembang Jawa yang sampai saat ini masih banyak digemari masyarakat, yaitu tembang Pangkur, Macapat, dan Cariosi Jaka Pertaka.

Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’. Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.

Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah: Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan. Artinya: berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan.

Sunan Drajat mempunyai tiga isteri yaitu Dewi Sufiyah (Putri Sunan Gunung Jati), Dewi Kemuning (dari Desa Drajat), Retnayu Condrosekar ( putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga).

Beliau wafat dan dimakamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur.

3.         Sunan Kudus

Sunan Kudus nama aslinya adalah Ja’far Sadiq, Ia adalah putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang). Sunan Ngudung adalah putra Sultan di Mesir yang berkelana sampai ke Daerh Jawa. Sewaktu kecil Sunan Kudus dipanggil Raden Undung dan juga dijuluki Raden Amir Haji sebab ia pernah bertindak sebagai pemimpin jemaah haji.

Sunan Kudus adalah putra Raden Usman Haji yang menyiarkan Islam di daerah Jipang Panolan, Blora, Jawa Tengah. Konon menurut silsilahnya, Sunan Kudus masih keturunan Nabi Muhammad Saw.

Sunan Kudus terkenal karena keluasan ilmu agama Islammya dan sebagai seorang pujangga. Karena keluasan ilmunya itu dia mendapat julukan waliyyul ‘ilmi orang yang kuat ilmunya.

Dia  menguasai ilmu-ilmu agama terutama fikih, usul fikih, tauhid, hadis, tafsir serta logika. Ia menjalankan dakwahnya di daerah Kudus dan sekitarnya, banyak santri dari berbagai pelosok Nusantara yang datang kepadanya untuk memuntut ilmu.

Ia berguru kepada Kyai Telingsing (The Ling Sing) ulama dari China yang datang bersama dengan Laksamana Cheng Hoo. Ia juga berguru kepada Sunan Kali Jaga, kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang

Terdapat kisah juga yang menyebutkan bahwa Sunan Kudus pernah belajar di Baitul Maqdis, Palestina. Ketika belajar di sana, ia berjasa memberantas penyakit yang menelan banyak korban. Atas Jasanya, ia diberi ijazah wilayah (daerah kekuasaan) di palestina. Sunan Kudus  mengharapkan hadiah tersebut dipindahkan ke Jawa. Oleh amir (penguasa setempat), permintaan itu dikabulkan. Sekembalinya ke Jawa, ia mendirikan sebuah masjid di daerah Loran pada tahun 1549 M. Masjid inilah yang kemudian dikenal dengan nama Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar. Oleh Sunan Kudus, daerah sekitar masjid diganti pula namanya menjadi Kudus, yang diambil dari nama sebuah kota di Palestina yaitu Al-Quds.

Soal Latihan

1.         Tuliskan biografi singkat Sunan Bonang

2.         Sebutkan empat pokok ajaran Sunan Drajat !

3.         Bagaiman cara sunan Kudus dalam mendekati masyarakat Kudus sehingga masyarkat tertarik terhadap Islam ?

Surat untuk Presiden: Guru Tidak Meminta Dipuji, Kami Hanya Ingin Dapat Bertahan Mengajar

  Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia, Perkenankan saya menulis surat ini bukan sebagai pengamat pendidikan, bukan pula sebagai ahli ...