Jumat, 31 Januari 2025

BAB V Walisanga dalam Dakwah Islam di Indonesia (Pertemuan 3)

                                      

Pertemuan 3

 

1.         Sunan Kalijaga

Nama asli Sunan Kalijaga  adalah Raden Mas Syahid, kadang juga dijuluki Syekh Malaya, Lokajaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman. Sebutan Kalijaga diyakini berasal dari rangkaian bahasa Arab qadi zaka yang berarti “pelaksana” dan “membersihkan”. Oleh masyarakat Jawa kata qadizaka sering disebut Kalijaga, yang berarti pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kebersihan atau kesucian.

Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, berpandangan jauh, berpikiran tajam, intelek dan berasal dari suku Jawa asli. Dalam melaksanakan dakwahnya, Sunan Kalijaga tidak menetap di suatu daerah. Sistem dakwahnya intelek dan aktual. Banyak orang dari kalangan bangsawan dan cendikiawan menaruh hormat dan simpati terhadapnya. Dakwahnya dapat dan mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Sunan Kalijaga dikenal pula sebagai arsitek sistem pemerintahan Jawa yaitu kabupaten, yang pada masa kini telah diterapkan pula secara nasional.

Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.

 

Sunan Kali Jaga adalah pencipta lagu lir ilir dan gundul- gundul pacul. Beberapa muridnya yang terkenal adalah Sunan Bayat (Klaten), Sunan Geseng (Kediri), Syekh Jangkung (Pati) dan Ki Ageng Selo (Demak).

   Salah satu karyanya dalam seni batik yaitu batik bermotif burung. Sunan Kalijaga wafat pada pertengahan abad ke-15 dan dimakamkan di desa Kadilangu, Demak, Jawa Tengah

2.         Sunan Muria

Sunan Muria adalah putra dari Sunan Kalijaga dan ibunya bernama Dewi Saroh. Nama aslinya adalah Raden Umar Said atau Raden Said. Semasa kecil ia biasa dipanggil Raden Prawoto. Ia lebih dikenal dengan nama Sunan Muria, sebab pusat kegiatan dakwah ataupun makamnya terletak di Gunung Muria, yang berjarak sekitar 18 kilometer sebelah utara kota Kudus. Ciri khas Sunan Muria dalam menyiarkan Islam adalah menjadikan desa-desa terpencil sebagai medan dakwah Islamnya. Ia banyak bergaul dengan rakyat jelata atau rakyat kebanyakan dan memberikan kursus-kursus atau keterampilan kepada para petani, pedagang, nelayan ataupun elemen masyarakat kecil lainnya.

Sunan Muria juga sering kali dijadikan sebagai penengah dalam konflik internal di kesultanan Demak, karena dia mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusinya  itupun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang bersiteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti. Dia juga ikut andil dalam pendirian Masjid Demak. Menurut perkiraan, Sunan Muria wafat pada abad ke-16 dan dimakankan di bukit Muria, Kudus.

3.         Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah atau Fatahillah atau Falatehan, diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia  adalah salah  seorang dari Walisongo yang banyak berjasa dalam menyebarkan Islam di pulau Jawa, Khususnya di Jawa Barat. Ia dikenal sebagai pendiri kesultanan Cirebon dan Banten. Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya walisongo yang memimpin pemerintahan.

Syarif Hidayatullah belajar agama Islam sejak kecil dan mulai mendalami ilmu agama secara intensif sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Dalam berdakwah ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infra struktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya hanya untuk menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Sunan Gunung Jati wafat tahun 1568 M dalam usia 120 tahun dan dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, Cirebon.

Selain nama wali yang sudah disebutkan di atas, umat Islam di Jawa juga mengenal nama-nama lain yang dianggap sebagai wali atau penyebar Islam, seperti: Sunan Sendang di Sendangduwur, Lamongan; Sunan Bayat di Klaten; Sayyid Sulaiman di Mojoagung, Jombang; dan masih banyak lagi. Karena itu sebutan Wali Songo mungkin merupakan julukan yang mengandung perlambang suatu dewan wali-wali, dengan mengambil angka  sembilan  yang  sebelum ada  pengaruh  Islam sudah  dipandang sebagai angka keramat. Angka sembilan ini juga dijadikan perlambang Nahdlatul Ulama untuk memberi kesan bahwa misi yang diperjuangkan oleh  para  ulama  merupakan  kelanjutan  dari  perjuangan  dakwah  Wali Songo

 

A.       Peran Walisanga dalam dakwah Islam di Indonesia

1.         Pendidikan dan Pengembangan Keilmuan

Syekh Maulana Malik Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan Sunan Gresik mendirikan Pesantren di desa Gapura, Gresik, guna mendidik kader-kader pemimpin muslim yang andal. Sunan Ampel mendirikan Pesantren Ampel Denta. Di antara murid-muridnya adalah Raden Paku, Raden Fatah, Raden Makdum Ibrahim, Syarifuddin, serta Maulana Ishaq. Jejak dakwah Sunan Ampel bukan hanya di Surabaya dan ibu kota Majapahit, tetapi juga meluas sampai ke daerah Sukadana, Kalimantan. Dakwah awal Sunan Bonang dilakukan di Kediri yang menjadi pusat ajaran Bhairawa-Thantra dengan mendirikan masjid di daerah Singkal. Sunan Bonang terkenal sebagai tokoh yang piawai dalam berdakwah dan menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari fiqh, ushul fiqh, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan berbagai ilmu kesaktian.

2.         Seni-Budaya

Seni dan budaya tertentu disesuaikan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Hal ini melalui proses asimilasi yang panjang sehingga melahirkan corak kesenian dan kebudayaan yang khas. Seni-budaya merupakan sarana komunikasi dan transformasi informasi kepada masyarakat sebagai sarana dakwah yang terbukti efektif.  Sunan Bonang dianggap sebagai pencipta gending pertama. Ia berdakwah di daerah Tuban dengan menggunakan media wayang dan gamelan sesuai dengan kegemaran orang Jawa.

Adapun Sunan Giri adalah pencipta permainan anak bernuansa religius, seperti jelungan, gending, jor gula, cublak-cublak suweng, serta lir-ilir. Sunan Drajat adalah pencipta tembang Jawa, yaitu Pangkur. Sementara itu, Sunan Kudus adalah pencipta gending Maskumambang dan Mijil. Kemudian, Sunan Muria sangat piawai menciptakan berbagai tembang cilik jenis Sinom dan Kinanthi yang berisi nasihat dan ajaran ketuhanan. Ia juga pandai menjadi dalang sebagaimana ayahnya (Sunan Kalijaga).

Sunan Kalijaga dianggap sangat berjasa dalam mengembangkan seni wayang purwa atau wayang kulit serta gamelan yang dimanfaatkan sebagai media dakwah Islam. Di samping itu, beliau juga mengembangkan seni suara, ukir, busana, pahat dan kesusastraan.

3.         Sosial Kemasyarakatan

Salah satu usaha dakwah dalam bidang sosial kemasyarakatan dilakukan Raden Rahmat atau Sunan Ampel yaitu membentuk jaringan kekerabatan melalui perkawinan para penyebar Islam dengan putri penguasa bawahan Majapahit. Dengan cara tersebut, ikatan kekerabatan di antara umat Islam semakin kuat, termasuk dirinya sendiri yang menikahi putri Arya Teja, Bupati Tuban. Ia juga membuat peraturan yang memuat nilai-nilai ajaran Islam untuk masyarakat, contohnya mo limo atau lima larangan (moh madon, moh ngombe, moh madat, moh main, moh maling). Adapun kelima larangan yang dimaksud meliputi dilarang berzina, minum minuman keras, mengisap candu, berjudi, serta mencuri.

Sunan Drajat adalah sosok yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat .golongan ekonomi lemah, yaitu fakir dan miskin. Beliau senantiasa mengutamakan kesejahteraan umat, memiliki empati, etos kerja tinggi, serta kedermawanan. Sunan Drajat berusaha gigih untuk menciptakan kemakmuran dengan cara menjalin solidaritas sosial dan kerja bakti.

Sunan Kudus dalam dakwahnya mengajarkan mengenai alat-alat kebutuhan rumah tangga, pertukangan, kerajinan emas, pandai besi, serta pembuatan pusaka. Beliau terkenal tegas dalam ilmu agama, tetapi tetap ramah dan toleran.

4.         Berbangsa dan Bernegara

Sunan Ampel termasuk perancang Kerajaan Islam Demak Bintoro yang beribu kota di Demak. Beliau sendiri berkedudukan sebagai bupati penguasa Surabaya menggantikan Arya Lembu Sura. Sunan Kalijaga mempunyai kedudukan yang tinggi di kerajaan Demak sebagai guru sekaligus penasihat utama Sultan. Beliau ahli dalam ilmu administrasi negara dan piawai dalam berstrategi. Syair lagu “Gundul-Gundul Pacul” merupakan wujud kritiknya terhadap kebijakan raja. Liriknya sederhana, tetapi sarat makna. Strategi dakwah yang dijalankan Sunan Gunung Jati adalah memperkuat kedaulatan politik. Beliau juga berusaha mempererat hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh.

Soal Latihan

1.    Sebutkan hasil karya atau cipta Sunan Kalijaga !

2.    Bagaimana peran Sunan Muria pada kerajaan Demak ?

3.    Bagaimana cara yang dilakukan Sunan Gunung Jati dalam mendekati rakyat ?

4.    Bagaimana peran Sunan Giri kaitannya dengan seni budaya ?

BAB V Walisanga dalam Dakwah Islam di Indonesia (Pertemuan 2)

 

Pertemuan 2

 

1.         Sunan Bonang

Sunan Bonang nama lainnya adalah Maulana Makhdum Ibrahim adalah putera dari Sunan Ampel, ia merupakan sepupu dari Sunan Kalijaga dan cucu dari Maulana Malik Ibrahim. Sekembalinya dari Pasai, Sunan Bonang mendirikan pesantren di daerah Tuban dan santrinya berasal dari berbagai daerah di Tanah Air.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga. 

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri. 

Sebagaimana corak perjuangan wali yang lain, Sunan Bonang juga sangat memperhatikan tradisi dan budaya masyarakat. Pada saat itu, masyarakat Jawa dikenal memiliki kegemaran terhadap seni pewayangan.

Karenanya Sunan Bonang memanfaatkan media wayang untuk menyampaikan dakwahnya. Syair lagu gamelan ciptaan para wali dan Sunan Bonang pada khususnya berisi tentang ajaran tauhid dan peribadatan. Salah satu tembang ciptaan Sunan Bonang adalah tembang “durma”.

Setelah ayahnya wafat, ia bermusyawarah dengan  para wali untuk membahas kepemimpinan di pesantren milik ayahnya. Hasil musyawarah para wali menunjuk Raden Fatah sebagai penerus kepemimpinan di pesantren Ampel Denta. Sunan Bonang memberikan pendidikan Islam secara mendalam kepada Raden Fatah (putera raja Majapahit). Pada masa selanjutnya, Raden Fatah dinobatkan menjadi sultan pertama Kerajaan Demak.

Sunan Bonang wafat tahun 1525 M dan dimakamkan di Tuban, daerah yang menjadi basis perjuangan dakwahnya.

2.         Sunan Drajat

   Sunan Drajat nama lainnya Raden Kosim Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munat adalah putra Sunan Ampel saudara Sunan Bonang dan menantu Sunan Gunung Jati. Ia lahir di Ampel Denta kira-kira tahun 1470 M. Sunan Drajat dikenal juga dikenal dengan Sunan Sedayu karena ia dimakamkan di Sedayu.

Ketika para wali memutuskan untuk mengadakan pendekatan kultural terhadap masyarakat Jawa dalam menyiarkan agama Islam, Sunan Drajat juga mempunyai andil. Ia menciptakan tembang Jawa yang sampai saat ini masih banyak digemari masyarakat, yaitu tembang Pangkur, Macapat, dan Cariosi Jaka Pertaka.

Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’. Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.

Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah: Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan. Artinya: berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan.

Sunan Drajat mempunyai tiga isteri yaitu Dewi Sufiyah (Putri Sunan Gunung Jati), Dewi Kemuning (dari Desa Drajat), Retnayu Condrosekar ( putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga).

Beliau wafat dan dimakamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur.

3.         Sunan Kudus

Sunan Kudus nama aslinya adalah Ja’far Sadiq, Ia adalah putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang). Sunan Ngudung adalah putra Sultan di Mesir yang berkelana sampai ke Daerh Jawa. Sewaktu kecil Sunan Kudus dipanggil Raden Undung dan juga dijuluki Raden Amir Haji sebab ia pernah bertindak sebagai pemimpin jemaah haji.

Sunan Kudus adalah putra Raden Usman Haji yang menyiarkan Islam di daerah Jipang Panolan, Blora, Jawa Tengah. Konon menurut silsilahnya, Sunan Kudus masih keturunan Nabi Muhammad Saw.

Sunan Kudus terkenal karena keluasan ilmu agama Islammya dan sebagai seorang pujangga. Karena keluasan ilmunya itu dia mendapat julukan waliyyul ‘ilmi orang yang kuat ilmunya.

Dia  menguasai ilmu-ilmu agama terutama fikih, usul fikih, tauhid, hadis, tafsir serta logika. Ia menjalankan dakwahnya di daerah Kudus dan sekitarnya, banyak santri dari berbagai pelosok Nusantara yang datang kepadanya untuk memuntut ilmu.

Ia berguru kepada Kyai Telingsing (The Ling Sing) ulama dari China yang datang bersama dengan Laksamana Cheng Hoo. Ia juga berguru kepada Sunan Kali Jaga, kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang

Terdapat kisah juga yang menyebutkan bahwa Sunan Kudus pernah belajar di Baitul Maqdis, Palestina. Ketika belajar di sana, ia berjasa memberantas penyakit yang menelan banyak korban. Atas Jasanya, ia diberi ijazah wilayah (daerah kekuasaan) di palestina. Sunan Kudus  mengharapkan hadiah tersebut dipindahkan ke Jawa. Oleh amir (penguasa setempat), permintaan itu dikabulkan. Sekembalinya ke Jawa, ia mendirikan sebuah masjid di daerah Loran pada tahun 1549 M. Masjid inilah yang kemudian dikenal dengan nama Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar. Oleh Sunan Kudus, daerah sekitar masjid diganti pula namanya menjadi Kudus, yang diambil dari nama sebuah kota di Palestina yaitu Al-Quds.

Soal Latihan

1.         Tuliskan biografi singkat Sunan Bonang

2.         Sebutkan empat pokok ajaran Sunan Drajat !

3.         Bagaiman cara sunan Kudus dalam mendekati masyarakat Kudus sehingga masyarkat tertarik terhadap Islam ?

BAB V Walisanga dalam Dakwah Islam di Indonesia (Pertemuan 1)

 

Pertemuan 1

Tokoh-tokoh Walisongo sebagai waliyullah, yaitu orang yang dekat dengan Allah serta mulia. Walisongo juga berkedudukan sebagai waliyul amri, yaitu orang yang memegang kekuasaan atas hukum kaum muslimin serta pemimpin masyarakat yang berwenang menentukan dan memutuskan urusan masyarakat, baik dalam bidang keduniawian maupun keagamaan. Gelar sunan atau susuhunan berasal dari kata suhun-kasuhun-sinuhun dalam bahasa Jawa kuno yang berarti menghormati. Lazimnya, gelar tersebut digunakan untuk menyebut guru suci (mursyid thariqah dalam Islam).

Istilah walisongo adalah nama sebuah dewan yang beranggotakan 9 orang. Anggota walisongo merupakan orang-orang pilihan dan oleh karena itu oleh orang jawa dinamakan wali. Istilah wali berasal dari bahasa arab aulia, yang artinya orang yang dekat dengan Allah Subhaanahu wa ta’aala karena ketakwaannya. Sedangkan istilah songo merujuk kepada penyebaran agama Islam ke segala penjuru. Orang jawa mengenal istilah kiblat papat limo pancer untuk menggambarkan segala penjuru, yaitu utara-timur-selatan-barat disebut kiblat papat dan empat arah diantaranya ditambah pusat disebut limo pancer. Perkembangan Islam di Jawa tidak dapat dipisahkan dari peranan para Wali. Walisongo" berarti sembilan orang wali" 

Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.

A.       Biografi walisongo

1.         Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Nama lain Maulana Malik Ibrahim adalah, Sunan Gresik, Syech Maghribi, Kakek Bantal. Nama ayahnya adalah Maulana Jumadil Kubro keturunan Sayyidina Hussein Bin Ali, cucu Rasululloh. Saudara Maulana Malik Ibrahim adalah Maulana Ishak yang merupakan ayah dari Raden Paku (sunan Giri).

Maulana Malik Ibrahim pernah tinggal di Campa (Kamboja) sejak tahun 1379 M. dan menikah dengan putri raja Campha yang memberinya dua putra. yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri.

Dakwah Islam di Jawa dipandang sukses ketika dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim. Pada akhir Abad ke-14 ia mendarat di pantai Jawa Timur beserta beberapa orang kawannya untuk selanjutnya menetap di Gresik.

Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Maulana Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib. Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara.

Terdapat beberapa versi mengenai silsilah Maulana Malik Ibrahim. Ia pada umumnya dianggap merupakan keturunan Rasulullah SAW; melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar), dan Maulana Malik Ibrahim.

Maulana Malik Ibrahim memilih jalur Pendidikan sebagai media dakwahnya. Pesantren merupakan bentuk pendidikan yang digagasnya. Pendirian pesantren dimaksudkan untuk menampung dan menjawab permasalahan-permasalahan sosial kegamaan serta menghimpun santri.

Sunan Gresik/Maulana Malik Ibrahim dianggap sebagai “Bapak Spritual Walisongo”. Maulana Malik Ibrahim tetap tinggal di Gresik untuk menyiarkan ajaran Islam hingga wafatnya pada 12 Rabiulawwal 822 H / 8 April 1419 M. Makamnya terletak di Kampung Gapura Wetan, Gresik. Makamnya banyak diziarahi oleh masyarakat hingga sekarang. Sunan Gresik dipandang sebagai penyiar Islam pertama di Jawa.

2.         Sunan Ampel

Sunan Ampel nama aslinya adalah Raden Rahmat. Ia lahir di Campa tahun 1401 M, Raden Rahmat adalah putera dari Sunan Gresik dengan Dewi Chnadrawulan dan ia merupakan penerus perjuangan ayahnya dalam menyiarkan agama Islam di Jawa.

Istri Sunan Ampel ada dua yaitu: Dewi Karimah dan Dewi Chandrawati (Nyi ageng Manila). Dengan istri pertamanya, Dewi Karimah, dikaruniai dua orang anak yaitu: Dewi Murtasih yang menjadi istri Raden Fatah (sultan pertama kerajaan Islam Demak Bintoro) dan Dewi Murtasimah yang menjadi permaisuri Raden Paku atau Sunan Giri. Dengan Istri keduanya, Dewi Chandrawati, Sunan Ampel memperoleh lima orang anak, yaitu: Siti Syare’at, Siti Mutmainah, Siti Sofiah, Raden Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang, serta Syarifuddin atau Raden Kosim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Drajat atau kadang-kadang disebut Sunan Sedayu.

Langkah awal Sunan Ampel membangun pesantren di Ampel Denta,  Surabaya. Melalui pesantrennya Sunan Ampel  mendidik kader-kader da’i yang kemudian dikirim ke seluruh Jawa. Murid-murid Sunan Ampel yang terkenal antara lain: Raden Paku (Suna Giri), Raden Fatah (Sultan Demak), Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan Maulana Ishak (penyebar Islam di Blambangan)

Sunan Ampel Dikenal sebagai tokoh pencipta dan perencana kerajaan Islam pertama di Jawa. Dialah yang mengukuhkan Raden Fatah sebagai sultan pertama kesultanan Demak. Dari kesultanan inilah penyebaran Islam ke seluruh wilayah Nusantara dilancarkan. Hal lain yang perlu diketahui, Sunan Ampel bersama para wali telah mendirikan masjid Demak tahun 1479 M.

Dalam dakwahnya, Sunan Ampel mengkhawatirkan penyimpangan aqidah akibat tradisi masyarakat Jawa, seperti Kenduri, slametan dan sesaji yang hidup di kalangan masyarakat, namun ia tetap toleransi dengan cara memasukkan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam tradisi-tradisi tersebut. ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah kepada para santrinya. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon).  Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”

   Dua Orang muridnya yang sangat terkenal yaitu mbah sholeh (Penjaga Masjid Ampel yang makamnya ada 9) dan mbah bolong (Melubangi pengimaman untuk melihat ka’bah/arah kiblat dalam pembangunan Masjid Ampel)

   Sunan Ampel wafat tahun 1481 M makamnya bisa kita jumpai di Masjid Ampel, Surabaya.

3.         Sunan Giri

Nama lain Sunan Giri adalah Raden Paku, Jaka Samudera, dan Muhammad Ainul Yakin, Prabu Satmata, Sultan Abdul Fakih. Masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).        

Raden Paku adalah putra Maulana Ishak saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai. Raden Paku lahir di Blambangan (Banyuwangi) pada 1442 M. Sunan Giri menuntut ilmu di Pesantren Ampel Denta milik Sunan Ampel. Di sini dia bertemu dengan putera Sunan Ampel yang bernama Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang).

Sunan Giri mendirikan sebuah pesantren di daerah Giri sebagai basis dakwahnya. Giri Kedaton tumbuh bukan hanya sebagai tempat pesantren tetapi juga menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Ia dikenal sebagai seorang pendidik yang menerapkan metode permainan yang bersifat agamis. Ia  pencipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, cublak suweng, gending asmaradana, dan pucung.

Sunan Giri wafat sekitar abad ke-16, dan makamnya bisa kita jumpai di Bukit Giri, Gresik.

Soal Latihan

a.     Bagaimana cara pendekatan Sunan Gresik dalam mengambil simpati masyarakat sekitar sehingga tertarik dengan Islam ?

b.    Sunan Ampel mengenalkan istilah “Mo limo” yang merupakan penyakit masyarakat. Sebutkan istilah tersebut !

c.     Sunan Giri adalah seorang pencipta karya seni yang luar biasa. Sebutkan nama permainan anak yang diciptakannya !

 

Selasa, 12 Desember 2023

P5 : 10 Cara Menerapkan Karakter Kreatif

 


P5 : 10 Cara Menerapkan Karakter Kreatif

pada Peserta Didik

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

(Guru SKI di MTsN 2 Garut)

Dalam Islam, peserta didik kreatif adalah peserta didik yang tahu bagaimana menggunakan bakat, kreativitas, dan keterampilannya untuk  meningkatkan kualitas kehidupan di masyarakat.  Berikut  beberapa sikap peserta didik kreatif dalam Islam:

1.      Semangat belajar: Peserta didik kreatif harus semangat belajar  dan terus mencari ilmu baru untuk meningkatkan keterampilan dan kreativitasnya.

2.      Berinovasi: Peserta didik yang kreatif harus mampu berinovasi dan mengembangkan ide-ide baru saat memecahkan masalah atau menciptakan sesuatu yang berguna.

3.      Berani mengambil resiko: Peserta didik yang kreatif harus berani mengambil resiko dan mencoba hal baru tanpa takut gagal karena kegagalan adalah bagian dari proses pembelajaran dan pertumbuhan.

4.      Tanggung jawab diri: Peserta didik kreatif harus memiliki tingkat tanggung jawab yang tinggi terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya, sehingga ide-ide kreatif yang mereka ciptakan bermanfaat bagi banyak orang.

5.      Pengembangan bakat dan bakat: Peserta didik yang kreatif harus mengembangkan bakat dan keterampilannya dengan baik sehingga dapat menghasilkan karya yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.

6.      Waktu yang Berharga: Pelajar yang kreatif harus menghargai waktu dan menggunakannya secara efektif untuk belajar, berinovasi, dan mengembangkan bakat dan keterampilan.

Sikap peserta didik kreatif dalam Islam sangat penting bagi pengembangan kekuatan diri dan kemaslahatan masyarakat. Dengan sikap kreatif dan inovatif, peserta didik dapat memberikan pengaruh positif bagi kemajuan bangsa dan agama.

Menerapkan karakter kreatif pada peserta didik adalah salah satu aspek penting dalam pendidikan yang dapat membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, inovatif, dan imajinatif. Berikut adalah beberapa cara untuk menerapkan karakter kreatif pada peserta didik:

1.      Menciptakan Lingkungan yang Mendukung Kreativitas:

Ciptakan ruang fisik yang memungkinkan eksplorasi, kreativitas, dan kolaborasi.  Sediakan sumber daya, seperti buku, peralatan seni, dan teknologi, yang mendorong peserta didik untuk berkreasi. 

2.      Berikan Tugas Berorientasi Kreatif:

Berikan tugas yang mengharuskan peserta didik untuk mencari solusi yang inovatif dan berpikir di luar kotak.  Dorong mereka untuk menciptakan karya seni, proyek penelitian, atau produk yang unik.

3.      Merangsang imajinasi:

Ajari siswa untuk merangsang imajinasi mereka melalui cerita, permainan peran, atau latihan visualisasi.  Ajak mereka  berfantasi dan bermimpi besar. 

4.      Dorong pertanyaan kreatif:

Mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan yang mendorong pemikiran kreatif dan eksplorasi ide-ide baru.  Jangan mengakhiri pertanyaan mereka dengan cepat, tetapi berikan ruang untuk penjelasan lebih lanjut. 

5.      Kolaborasi dan diskusi:

Memfasilitasi kolaborasi dalam proyek kelompok di mana siswa dapat berbagi ide dan perspektif mereka.  Dorong mereka untuk terlibat dalam diskusi kreatif yang mempertimbangkan berbagai perspektif.

6.      Menawarkan kebebasan memilih:

Untuk beberapa proyek, biarkan siswa memilih topik atau metode yang mereka minati. Hal ini memberi mereka kendali atas pembelajaran mereka dan mendorong eksplorasi. 

7.      Penghargaan atas upaya kreatif:

Memberikan hadiah dan pujian kepada siswa yang menunjukkan pemikiran kreatif dan berani mencoba hal baru. Hal ini memberikan insentif positif bagi pengembangan kreativitas lebih lanjut.

8.      Pemodelan guru:

Guru harus menjadi teladan dalam berpikir kreatif dengan berbagi pengalaman kreatif  dan menciptakan lingkungan belajar yang positif.  Tunjukkan bagaimana pemikiran kreatif dapat diterapkan dalam berbagai situasi.

9.      Pertunjukan seni dan musik:

Kegiatan seni, musik dan teater dapat membantu mengembangkan ekspresi kreatif. Berikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini.

10.  Berikan ruang untuk kegagalan:

Ajari siswa bahwa kegagalan adalah bagian dari proses kreatif.  Dorong mereka untuk melihat kegagalan sebagai pelajaran dan kesempatan untuk mencoba lagi.  Menerapkan sifat kreatif pada siswa membantu mereka menjadi  lebih kreatif, inovatif dan  kreatif dalam berbagai aspek kehidupannya.

Dengan memberikan motivasi dan lingkungan yang sesuai, siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif yang kuat.

Daftar Pustaka

Aminuriyah, S. (2022). Pembelajaran Berdifferensiasi: Meningkatkan Kreatifitas Peserta Didik. Jurnal Mitra Swara Ganesha, 9(2), 89-100.

Mavela, M., & Satria, A. P. (2023). Nilai Karakter Kreatif Peserta Didik Dalam P5 Pada Peserta Didik Kelas IV Tema Kewirausahaan SDN 2 Pandean. JUPEIS: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, 2(3), 152-158.

Ulandari, S., & Rapita, D. D. (2023). Implementasi proyek penguatan profil pelajar pancasila sebagai upaya menguatkan karakter peserta didik. Jurnal Moral Kemasyarakatan, 8(2), 116-132.

Biodata

Nurul Jubaedah, lahir di Garut, 19 Mei 1978. Mengajar di MTsN 2 Garut. Pendidikan: D-1 Akuntansi (1995), S-1 PAI UNIGA (2001), S-1 Bahasa Inggris STKIP Siliwangi Cimahi (2007), S-2 PAI UIN SGD Bandung (2012).

Prestasi: Pembimbing KIR. Membimbing 27 judul karya ilmiah remaja kategori Sosial-Budaya, mengantarkan peserta didik juara 1, 2, 3, dan harapan 1 kategori Sejarah, Geografi, dan Ekonomi (tingkat provinsi), juara harapan 1 dan 2 (tingkat nasional) (Juli 2019-September 2021), guru berprestasi tahap 1 (2021), juara favorit guru berprestasi di GTK Madrasah (2022),  lolos tahap 3 AKMI KSKK Madrasah (Februari 2022 dan Januari 2023).

Karya: 8 buku solo, 35 buku antologi (Januari-Oktober 2023). Memiliki 900 konten pendidikan di kanal YouTube dan 150 artikel (Oktober 2021-Oktoberl 2023).

Blog                : http://nuruljubaedah6.blogspot.com/

Instagram       : nj_78 

Surel               : nuruljubaedah6@gmail.com

WhatsApp      : 081322292789

 

Surat untuk Presiden: Guru Tidak Meminta Dipuji, Kami Hanya Ingin Dapat Bertahan Mengajar

  Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia, Perkenankan saya menulis surat ini bukan sebagai pengamat pendidikan, bukan pula sebagai ahli ...