Minggu, 17 Juli 2022

(88) MATSAMA : Budaya Digital

 

MATSAMA : Budaya Digital

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag (Guru SKI di MTsN 2 Garut)

Peran dan Fungsi

Kehidupan digital dapat menjadi  budaya jika diwujudkan secara bermakna. Saat ini, kehidupan kita sehari-hari tidak lepas dari peran digital di segala bidang seperti pendidikan, masyarakat, informasi, interaksi,  transaksi. Digital adalah sebuah konsep yang mengacu pada gagasan bahwa teknologi dan internet secara signifikan membentuk pemikiran seseorang dalam  masyarakat.

Meskipun kita tidak bisa lepas dari dunia digital, kita harus bisa menggunakan teknologi baru untuk memperbaiki mulut kita. Jadi semuanya disaring untuk meminimalisir dampak negatif dari kehadiran budaya digital ini. Mengatasinya membutuhkan keterampilan berupa keterampilan digital.

Dalam proses pendidikan, budaya digital muncul secara serempak, asinkron berpadu satu sama lain. Sinkronisitas muncul secara langsung melalui pembelajaran melalui media digital antara guru dan peserta didik. Asinkron terjadi dengan pembelajaran yang terjadi secara dinamis, seperti guru memberikan pekerjaan rumah dan bimbingan belajar. Sedangkan synchronous assembly dan asynchronous  tergabung dalam kombinasi.

Di masa perkembangan era digital itu tentu ada hal yang bisa dilakukan oleh pengajar. Di antaranya, pemilihan alat dan sarana pembelajaran digital, perencanaan program pembelajaran digital, penggunaan strategi interaktif dalam belajar mengajar, menggunakan pendekatan pembelajaran yang tepat bagi peserta didik, serta berorientasi sistem digital dan teknologi.

Selain guru, peserta didik juga perlu berkembang pesat. Bagi peserta didik, upaya yang dapat dilakukan antara lain menentukan lama belajar, menjalin komunikasi dengan guru, membuat kelompok belajar, mencari lokasi belajar yang nyaman, dan menerapkan pola pikir positif.  Sebagai peserta didik, kita juga harus berlatih merangkul perubahan-perubahan yang ada. Perubahan untuk mengembangkan diri menuntut kita untuk belajar lebih giat. Ketika keduanya, sebagai guru dan peserta didik, saling memahami tentang budaya digital. Ini akan membuat kegiatan belajar  lebih mudah dan lebih mudah dipahami dengan menggunakan teknologi digital.

Budaya digital saat ini menjadi budaya baru di masyarakat milenial. Mengenai teori sosiologi budaya, menurut Richard Peterson, perkembangan teknologi yang menghasilkan budaya baru ini karena budaya tidak datang dengan sendirinya, tetapi budaya datang karena  dikonsumsi oleh masyarakat setiap hari.

Etika Bermedia Digital

1.      Hati-hati dalam menyebarkan informasi pribadi (privacy) ke publik

2.      Gunakan etika atau norma saat berinteraksi dengan siapapun di media sosial

3.      Hati-hati dengan akun yang tidak di kenal

4.      Pastikan unggahan di akun media sosial tidak mengandung unsur SARA

5.      Manfaatkan media sosial untuk membangun jaringan atau relasi

6.      Pastikan mencantumkan sumber konten yang diunggah

7.      Manfaatkan media sosial untuk menunjang proses pengembangan diri

8.      Jangan mengunggah apapun yang belum jelas sumbernya

Tanggapan

Terkait  motif, budaya digital  merupakan adaptasi alami terhadap  pembangunan manusia itu sendiri. Kemungkinan pengembangan berkomunikasi ketika ada penghalang jarak dan visibilitas terhadap kondisi geografis, dan komunikasi berorientasi proses komunikasi yang dimediasi.

Hal ini merupakan pengalaman pengguna mengenai perangkat komunikasi, dapat disimpulkan bahwa smartphone, komputer dan Internet dianggap sebagai Media Interaktif:  komputer dianggap sebagai media komputer, sebagai kendaraan Computer Aided Manufacturing  (CAM),  komputer dianggap sebagai  sebagai sumber informasi, bukan sekedar sarana  utusan buatan manusia.

Pengguna perangkat komunikasi menafsirkan komunikasi budaya digital menunjukkan banyak arti, oleh karena itu komunikasi digital adalah bagian terpenting kesadaran ekologis komunikasi. Menyerap dan menggunakan teknologi  perangkat komunikasi yang sangat cepat dan luas dalam berbagai aspek perilaku komunikatif,  agar komunikasi budaya digital dapat dipahami  seperti teknologi.

Budaya digital adalah kontinum tekstual. Hal ini didukung fakta bahwa teknologi digital memungkinkan fleksibilitas dan peluang untuk  pengguna untuk menambah dan mengedit teks multimedia. Ditambah lagi, ini seperti studi kasus  kaskus.com  telah dibahas di atas, perubahan ini mungkin berhasil  Juga tidak berbahaya bagi industri media dan penggunanya.

Studi kasus ini menunjukkan bahwa bahwa budaya digital mendukung prinsip-prinsip tekstual yang bertahan lama dan terbuka masih beberapa keterbatasan. Ketika kita mengatakan bahwa budaya ini  mampu  untuk membuka pintu demokrasi dan kreativitas baru, budaya ini juga  memberikan peluang yang lebih besar untuk penyalahgunaan teks media seperti: Peretasan, konten negatif dan terkait reputasi.

Penegasan bahwa budaya ini juga menawarkan peluang yang terbuka dan demokrasi untuk semua tidak bisa sepenuhnya setuju karena di media digital, ada jenis kontrol tertentu, meskipun tidak seketat kontrol yang diterapkan pada madia tradisional. Terlepas dari segala keterbatasan media digital, penulis percaya bahwa media baru ini  akan terus menginspirasi dan memberi harapan kepada publik menciptakan budaya media yang lebih baik.

Selain itu, perkembangan teknologi kedepannya juga akan mampu meningkatkan peluang bagi masyarakat dalam  pengumpulan, pembuatan dan penyebaran informasi media. Secara optimis dapat dikatakan bahwa industri  media  digital akan terus menghadapi tantangan dan perubahan karena perkembangan teknologi komunikasi.

Perlu dicatat bahwa rasa demokrasi dan hegemoni akan selalu bersaing satu sama lain, yang menyebabkan posisi menjadi berubah pada kekuasaan dan kontrol. Seperti yang dikatakan Hilmes, teknologi tidak mungkin terpisah dari budaya, pasar, dan kekuasaan, tetapi kekuasaan dan dinamika  jejaring sosial juga akan terus mencari cara untuk mempengaruhi sektor media baru  (2002). Oleh karena itu, hal ini akan terus menginspirasi lebih banyak format dan konten  diversifikasi, karena digitalisasi dapat dipahami tidak hanya sebagai teknik baru  proses pasca produksi dan sistem distribusi, tetapi juga cara berpikir yang baru terkait dengan konsumsi media massa.

 

Daftar Pustaka

Afrizal, S., Kuntari, S., Setiawan, R., & Legiani, W. H. (2020, November). Perubahan Sosial pada Budaya Digital dalam Pendidikan Karakter Anak. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP (Vol. 3, No. 1, pp. 429-436).

Frida Kusumastuti, Santi Indra Astuti Yanti Dwi Astuti, Mario Antonius Birowo, Lisa Esti Puji Hartanti, Ni Made Ras Amanda, Novi Kurnia. (2021). Etis Bermedia Digital. Kominfo, Japelidi, Siberkreasi.

Melissa, E. (2010). Budaya digital dan perubahan konsumsi media masyarakat. EduTown BSDCity Tangerang, Universitas Swiss German.

Nurhadi, Z. F. (2017). Komunikasi Budaya Digital. Prosiding Konferensi Nasional Komunikasi1(01).

Biodata

Nurul Jubaedah lahir di Garut, 19 Mei 1978. Mengajar di MTsN 2 Garut. Pendidikan  : D1 Akuntansi (1995), S1 PAI UNIGA ( 2001), S1 Bahasa Inggris STKIP Siliwangi Cimahi (2007), S2 PAI UIN SGD Bandung (2012). Prestasi : Pembimbing KIR : Membimbing 27 judul Karya Ilmiah Remaja kategori sosial budaya, menghantarkan peserta didik juara 1,2,3, dan harapan 1 kategori Sejarah, Geografi, dan Ekonomi (tingkat Provinsi), juara harapan 1 dan 2 (tingkat Nasional)  (Juli 2019-September 2021), guru berprestasi tahap 1 di GTK Madrasah (2021), lolos tahap 3 AKMI KSKK Madrasah (Februari 2022). Karya : 4 buku solo, 20 buku  antologi (Januari-April 2022). Memiliki 540 konten pendidikan di canal youtube dan 100 artikel (Oktober 2021-Juli 2022). Blog http://nuruljubaedah6.blogspot.com/. Instagram (nj_78). Email :  nuruljubaedah6@gmail.com. Whatsapp : 081322292789.


Sabtu, 16 Juli 2022

(87) Kurikulum Merdeka : Gerakan Literasi di MTsN 2 Garut

 

Kurikulum Merdeka : Gerakan Literasi di MTsN 2 Garut

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag (Guru SKI di MTsN 2 Garut)


Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan numerasi bagi seluruh warga negara sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003. Budaya ini disebut dengan literasi.  Dalam UU No. 3 Tahun 2017 tentang sistem akuntansi. Pasal 1 ayat (4) menyatakan bahwa literasi adalah kemampuan menginterpretasikan informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi untuk tujuan peningkatan kualitas hidupnya.

Dalam pembukaan undang-undang perbukuan juga dijelaskan bahwa membangun peradaban bangsa dengan mengembangkan dan menggunakan ilmu pengetahuan, informasi, dan/atau hiburan melalui buku mengandung nilai-nilai, dan jati diri bangsa Indonesia merupakan upaya memajukan kesejahteraan umum dan pendidikan bagi kehidupan berbangsa yang diamanatkan oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Implementasi gerakan literasi akan ditegaskan kembali melalui Kurikulum Merdeka tahun 2022. Adopsi saat ini tidak terbatas pada kegiatan membaca tetapi juga menulis seperti yang kita kenal dalam kurikulum Merdeka tahun 2022. Khusus bagi peserta didik di tingkat SMA harus melewati fase menulis. Karya tulis ilmiah merupakan salah satu syarat kelulusan.

Melalui artikel ini, pemerintah  ingin menyampaikan  pesan bahwa membaca adalah tolak ukur kualitas pendidikan, kawah candradimuka peradaban  manusia. Literasi adalah kemampuan membaca, menulis, mengenali dan memahami ide-ide visual dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. 

Seperti  kita ketahui bersama, gerakan literasi sering diartikan sebagai read-only. Dan ini benar dan  bagian dari literasi, membaca tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan. Membaca adalah sarana untuk memperoleh pengetahuan. Orang bijak mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Jika buku adalah jendela dunia, membaca adalah kunci untuk membuka jendela ini. Jika Anda tidak membaca, Anda tidak dapat membuka jendela.

Sedangkan budaya baca satuan pengajaran diwujudkan melalui otonomi perpustakaan. Dalam pasal 3 disebutkan bahwa penanaman kecintaan membaca pada satuan pengajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pengembangan dan pemanfaatan perpustakaan sebagai proses pembelajaran. Pemerintah telah menempatkan perpustakaan madrasah sebagai garda terdepan dalam membangun budaya baca dan merupakan aspek penting dari keberhasilan belajar mengajar.

Dalam Peraturan Perpusnas Nomor 8 Tahun 2017 tentang Standar Nasional Perpustakaan Pemerintah/Kota, perpustakaan madrasah berfungsi sebagai pusat bahan pembelajaran bagi guru dan peserta didik, pusat informasi kegiatan, pusat penelitian, pusat kegiatan membaca dan membaca serta tempat untuk orang-orang kreatif, imajinatif dan kegiatan yang menginspirasi dan menyenangkan. 

Budaya baca dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Penanaman kecintaan membaca Pasal 7 ayat 1 menyatakan bahwa kecintaan membaca akan diwujudkan melalui gerakan cinta membaca nasional, penyediaan buku-buku murah dan berkualitas, serta pengembangan dan pemanfaatan perpustakaan sebagai proses pembelajaran.

Gerakan  gemar membaca secara nasional didukung oleh Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Pembangunan Karakter. Pada Bagian IV tentang pengembangan potensi umum peserta didik, madrasah harus menciptakan kondisi yang optimal bagi peserta didik untuk menemukan, menyadari, dan mengembangkan potensinya. Untuk mencapainya, madrasah diminta meluangkan waktu 15 menit sebelum jam pertama KBM di mulai untuk membaca buku non-buku pelajaran (setiap hari).

Secara teknis diatur oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan menerbitkan Petunjuk Teknis Gerakan Literasi Nasional (GLN) 2017. Setiap Petunjuk Teknis dilengkapi modul/bahan bacaan (e-Book dan download). Di Madrasah, Kementerian Agama mengeluarkan Peraturan Direktur Pendidikan Nomor 511 Tahun 2019 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Untuk pendanaan, misalnya dalam gerakan literasi madrasah, pemerintah telah merincinya dalam bantuan teknis untuk mendukung Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dalam petunjuk teknis ini, dana BOS dapat digunakan untuk pengembangan perpustakaan dan pembelian buku. Buku-buku yang dapat dibeli adalah buku teks utama, buku teks pendamping dan non buku  untuk mendukung program akademik madrasah dan gerakan literasi.

Tujuan Gerakan Literasi Madrasah (GLM) pertama; mengembangkan budaya  membaca dan menulis bagi peserta didik di madrasah. Kedua, meningkatkan literasi warga dan lingkungan madrasah. Ketiga, menjadikan madrasah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak sehingga warga madrasah dapat mengelola ilmunya. Keempat, menjaga kesinambungan pembelajaran dengan menghadirkan berbagai buku bacaan dan mengadaptasi strategi membaca yang berbeda.

Pelaksanaan Gerakan Literasi Madrasah di MTsN 2 Garut terdiri dari tiga tahap. Yang pertama adalah kebiasaan, yang kedua adalah pengembangan, dan yang ketiga adalah belajar. Tahap sosialisasi meliputi berdoa bersama, membaca Asmaul Husna, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, melantunkan Mars Madrasah, Hymne Madrasah, menyanyikan lagu nasional  Pancasila, mengaji dan membaca buku.

Selain itu, pengenalan program diperlukan ketika mengunjungi perpustakaan madrasah. Setelah itu, tahap pengembangan meliputi  lomba bahasa dalam bulan bahasa, jurnalistik, pembuatan majalah madrasah (Madani). Tahap selanjutnya adalah tahap pembelajaran dengan kegiatan wajib yaitu kunjungan ke perpustakaan madrasah.  Dari hasil semua kegiatan tersebut di atas dicatat atau dicetak sebagai apresiasi atas karyanya dan bacaannya dimasukkan ke perpustakaan. 

Gerakan Literasi Madrasah (GLM) merupakan upaya komprehensif dan berkesinambungan untuk mengubah Madrasah menjadi lembaga literasi sepanjang hayat melalui pelibatan masyarakat. Literasi yang paling dasar adalah membaca. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmen kerjasama seluruh keluarga besar MTsN 2 Garut dan pemangku kepentingan, sehingga perlu  peran aktif masing-masing pihak.

Daftar Pustaka

Khotimah, K., & Sa’dijah, C. (2018). Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan3(11), 1488-1498.

Rohman, S. (2017). Membangun budaya membaca pada anak melalui program gerakan literasi sekolah. TERAMPIL: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar4(1), 151-174.

Wandasari, Y. (2017). Implementasi gerakan literasi sekolah (GLS) sebagai pembentuk pendidikan berkarakter. JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan)2(2), 325-342.


Biodata

Nurul Jubaedah lahir di Garut, 19 Mei 1978. Mengajar di MTsN 2 Garut. Pendidikan  : D1 Akuntansi (1995), S1 PAI UNIGA ( 2001), S1 Bahasa Inggris STKIP Siliwangi Cimahi (2007), S2 PAI UIN SGD Bandung (2012). Prestasi : Pembimbing KIR : Membimbing 27 judul Karya Ilmiah Remaja kategori sosial budaya, menghantarkan peserta didik juara 1,2,3, dan harapan 1 kategori Sejarah, Geografi, dan Ekonomi (tingkat Provinsi), juara harapan 1 dan 2 (tingkat Nasional)  (Juli 2019-September 2021), guru berprestasi tahap 1 di GTK Madrasah (2021), lolos tahap 3 AKMI KSKK Madrasah (Februari 2022). Karya : 4 buku solo, 20 buku  antologi (Januari-April 2022). Memiliki 540 konten pendidikan di canal youtube dan 100 artikel (Oktober 2021-Juli 2022). Blog http://nuruljubaedah6.blogspot.com/. Instagram (nj_78). Email :  nuruljubaedah6@gmail.com. Whatsapp : 081322292789.

(86) Literasi Dunia : Indonesia Urutan ke 2 dari Bawah

 


Literasi Dunia : Indonesia Urutan ke 2 dari Bawah

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag (Guru SKI di MTsN 2 Garut)

Menurut  statistik  UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia menempati urutan ke-60 dengan tingkat melek huruf yang rendah. Thailand berada di urutan ke-59 dan tempat terakhir ditempati oleh Botswana. Sedangkan Finlandia berada di urutan teratas dengan angka melek huruf yang tinggi, mencapai hampir 100%. Data ini jelas menunjukkan bahwa preferensi membaca di Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura dan Malaysia.

Menurut data penelitian yang dilakukan oleh United Nations Development Programme (UNDP), tingkat pendidikan berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia masih relatif rendah, yaitu 14,6%. Angka ini jauh lebih rendah dari Malaysia 28% dan Singapura  33%.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca buku di masyarakat Indonesia. Pertama, tidak ada kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak usia dini. Teladan anak dalam keluarga adalah orang tua, dan anak pada umumnya mengikuti kebiasaan orang tuanya. Oleh karena itu, peran orang tua dalam mengajarkan kebiasaan membaca sangat penting dalam meningkatkan kemampuan literasi anak.

Kedua, akses ke lembaga pendidikan belum merata dan  kualitas lembaga pendidikan masih rendah. Fakta bahwa  masih  banyak anak  putus sekolah, lembaga pendidikan yang tidak mendukung proses belajar mengajar dan  rantai panjang birokrasi  dunia pendidikan. Hal inilah yang secara tidak langsung menghambat perkembangan kualitas literasi di Indonesia.

Ketiga, masih kurangnya produksi buku di Indonesia karena penerbit daerah yang kurang berkembang, insentif yang tidak adil bagi produsen buku, dan rendahnya pembayar pajak bagi penulis  sehingga memadamkan semangat mereka untuk menghasilkan buku yang berkualitas.

Berdasarkan permasalahan di atas maka penulis sebagai guru memberikan solusi pertolongan pertama sebelum memikirkan literasi dunia mari kita mulai dari bawah dulu yaitu dari gurunya setelah itu baru peserta didik.

Peran guru dalam meneladani literasi jauh lebih baik dari pada hanya sekedar menganjurkan peserta didik untuk rajin membaca di kelas. Pertanyaannya adalah sudah berapa buku yang telah kita baca?, sudah menulis berapa buku sejak pertama kali menjadi guru sampai sekarang?. Jika tidak pernah sekalipun menulis maka jangan sekali-kali menyalahkan rendahnya literasi peserta didik karena penyebabnya adalah ada pada gurunya sendiri yaitu malas membaca buku apalagi menulis karya tulis sendiri.

  

5 Tips Meningkatkan Literasi Guru dan Peserta didik di Sekolah

1.      Menumbuhkan Kesadaran Pentingnya Membaca

Membaca adalah aspek penting dalam kehidupan. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari membaca, seperti peningkatan kinerja otak, peningkatan pengetahuan, dan peningkatan daya ingat. Para ahli juga sepakat bahwa membaca sangat penting dan berdampak sangat baik bagi manusia, harus disadari bahwa  membaca merupakan kegiatan yang sangat penting.

Membaca berguna untuk semua orang baik bagi guru maupun peserta didik. Banyak yang bisa dicapai dalam hidup, jika seseorang rajin membaca. Dalam dunia pendidikan melakukan kegiatan membaca merupakan salah satu kebiasaan guru dan peserta didik. Peserta didik literat merupakan harapan bagi semua orang tua dan guru sekolah.

Perkembangan kegiatan membaca ini tidak terlepas dari adanya minat yang besar di kalangan peserta didik yang dikelola baik oleh guru di sekolah. Gerakan literasi pada dasarnya adalah sebuah studi yang dapat merangsang minat baca peserta didik. Guru  mata pelajaran apapun diharapkan dapat membantu peserta didik dalam mengatasi kesulitan membaca dan mampu mengajarkan keterampilan membaca yang baik dengan menggunakan media yang relevan dan akurat sehingga budaya membaca dapat dicapai di sekolah.

2.      Membaca 15 Menit Sebelum KBM

Efek positif yang muncul dari kebiasaan ini adalah peserta didik mulai menunjukkan kegairahan dan minat ketika guru memberikan kesempatan untuk bercerita dari hasil bacaannya, yang juga terlihat ketika peserta didik masih merasa belajar membaca dalam waktu 15 menit.

Kegemaran membaca peserta didik mulai tumbuh dan meningkat, belum lagi beberapa keterampilan literasi seperti kemampuan bercerita, kemampuan menulis, sedikit demi sedikit mulai muncul dan berkembang. Ketiga langkah tersebut dapat memotivasi peserta didik untuk tertarik membaca karena setiap kegiatan yang dilakukan membangun kebiasaan membaca.

Manajemen waktu, kegiatan literasi hari-hari pertama memang akan memakan banyak waktu, sehingga proses belajar mengajar juga membutuhkan waktu. Namun seiring berjalannya waktu dan pembelajaran dari setiap kendala menjadi sebuah peningkatan walaupun belum sempurna, karena sesungguhnya kegiatan ini akan membutuhkan pembiasaan dan adaptasi, baik bagi peserta didik maupun peserta didik, guru yang bertugas mengajar literasi.

Hasil refleksi dan penilaian akan mulai terlihat di antara sesama guru, dengan kemajuan kelompok peserta didik yang tertinggal dalam membaca. Yang belum mengenal huruf lambat laun akan terbiasa dengan huruf, yang membaca lambat akan mulai membaca lebih cepat, dan yang membaca cepat akan memiliki semangat yang lebih besar, seperti ingin membaca lebih banyak buku.

Rencana penguatan ke depan adalah sekolah bisa mempererat komunikasi dengan orang tua dan peserta didik untuk melakukan kegiatan literasi di rumah, termasuk meminjamkan buku dari perpustakaan sekolah untuk dibawa pulang, yang dapat dikembalikan 1 sampai 3 hari. Tujuannya agar orang tua dapat berpartisipasi dalam kegiatan literasi anak di rumah. Selamat mencoba!

3.      Optimalkan Peran Perpustakaan

Peran perpustakaan dalam pengembangan literasi adalah menemukan, memilih, dan menambah sumber informasi yang beragam dan komprehensif di perpustakaan. Tentunya sumber informasi yang terdapat di  perpustakaan harus lengkap dan komprehensif. Dengan demikian, koleksi yang terpasang bukan sembarang sumber buku tanpa bobot.

Literasi memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat pembelajar yang hidup di era pengetahuan, teknologi, dan informasi saat ini. Peradaban manusia dapat dibangkitkan dengan penguasaan sastra berdasarkan kegiatan membaca, menulis, dan berpikir kritis. Sastra diasosiasikan dengan perpustakaan dan pustakawan.

Perpustakaan dan pustakawan dapat memaknai literasi sebagai cara bagi masyarakat belajar untuk mengenali, memahami, dan menerapkan ilmu yang diperoleh di perpustakaan. Literasi adalah proses bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Lebih jauh, literasi juga dapat dipahami sebagai praktik dan hubungan sosial yang berkaitan dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.

Perpustakaan dan pustakawannya dapat memaknai perannya dalam mengembangkan budaya literasi bagi pengguna pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Dengan sumber daya yang tersedia, bekerja sama dengan pemangku kepentingan dan kelompok masyarakat, mereka dapat berinovasi, membuat, dan mentransformasikan layanan perpustakaan  berbasis literasi. Hanya dengan cara ini budaya literasi  akan  tumbuh dan berkembang.

 

4.      Membentuk Komunitas Baca

Fenomena yang terjadi saat ini adalah maraknya partisipasi masyarakat dalam kegiatan literasi.  Partisipasi  masyarakat  semakin  ditandai dengan diperkenalkannya perpustakaan komunitas dengan berbagai nama. Misalnya pondok baca, rumah baca, pojok baca, pojok baca, museum baca, sanggar baca, stasiun baca dan sebutan lainnya, yang pada hakekatnya merupakan bentuk penyediaan bahan bacaan bagi masyarakat.

Masyarakat atau individu mengambil inisiatif untuk kegiatan perbaikan  Hobi membaca ini bisa diartikan sebagai penggiat literasi. Kegiatan yang dilakukan  tidak semata-mata berbasis literasi  hanya fungsional atau dasar. Mereka aktif  memberikan informasi, pengetahuan dan pengalaman tentang kesenian,  budaya, keterampilan mencocokkan, permainan tradisional, keterampilan bahasa dan komunikasi, kostum  forum ilmiah, penelitian ilmiah dan pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi, politik dan sosial.

Pustakawan juga dapat berperan dalam menjalin kerjasama dengan para penggiat literasi tersebut. Selain sebagai penyampai informasi, pustakawan dapat berperan sebagai kontributor, mediator, dan motivator dalam  kegiatan literasi bersama masyarakat. Salah satunya melalui komunitas.

5.      Membuat Karya Tulis

Penulisan karya tulis berguna untuk melatih dan mengembangkan keterampilan membaca yang efektif. Berlatih menggabungkan  bacaan dari berbagai sumber. Pengenalan operasi perpustakaan baik perpustakaan buku maupun digital. Memperbaiki pengorganisasian fakta/data dengan cara yang jelas dan sistematis dan mendapatkan kepuasan intelektual.

Program Gerakan Literasi Madrasah sudah berjalan di MTsN 2 Garut mulai dari gurunya. Kegiatan ini digebyarkan pada saat bersamaan dengan workshop Implementasi Kurikulum Merdeka pada tanggal 6-8 Juli lalu di MTsN 2 Garut. Tiga narasumbernya yaitu dua pengawas madrasah dan satu guru SKI yaitu saya sendiri. Penulis mengedepankan motivasi menulis para guru di mana sudah terkumpul 20 guru yang akan menulis bertemakan pendidika dalam sebuah buku antologi.

6.  Menulis Buku Antologi dan Single

Antologi adalah buku yang ditulis oleh beberapa penulis. Sementara buku single atau individu adalah buku yang ditulis oleh satu orang. Buku antologi merupakan solusi untuk dapat menerbitkan buku dengan topik yang sama dan dapat langsung membuat kelompok (gabungan) dengan karya sastra  penulis lainnya. Dengan cara ini uang juga akan terisi dan konten yang dihasilkan juga akan lebih beragam dan dalam beberapa hal.

Keuntungan mempelajari antologi adalah membantu mengembangkan dan mengkritisi berbagai  sistem pemikiran yang ada, membantu memecahkan masalah relasional, hingga mampu mengeksplorasi masalah secara mendalam. Bagaimana cara menulis antologi?  Lima tips menulis antologi adalah sebagai berikut : (1) Tulis dengan jelas, (2) Ikuti tema yang telah ditentukan, (3) Buat teks Anda se-unik mungkin,  (4)  Akhiri cerita Anda dengan gong yang dramatis,  (5) Buat "Aha!"

Apa manfaat menulis buku?. Manfaat menulis yaitu,  (1) Tempat untuk meningkatkan kreativitas, (2) Meningkatkan memori, (3) Membuat hidup lebih efisien, (4) Menjadi media pembelajaran yang baik, (5) Tingkatkan kemampuan Anda untuk berbicara dengan baik.


Literasi itu penting karena dengan literasi memungkinkan kita untuk mengenal dunia ke arah yang lebih baik dan menawarkan banyak keuntungan. Namun, minat orang dalam literasi di  Indonesia masih tergolong lemah karena minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Rasa malas membaca akan berakibat tidak hanya buruk bagi kita tetapi juga untuk bangsa dan negara. Tentu saja  kebiasaan buruk itu bisa kita ubah, kuncinya adalah  persepsi yang ditamankan dalam diri kita masing-masing. Semoga dengan 6 solusi di atas Indonesia akan menjadi Negara yang literat kedepannya. Mari mulai dari sekarang kita membaca lalu menulis karya sendiri. Semangat ya!

 

Daftar Pustaka

Andina, E. (2016). Memotivasi minat baca. Majalah Info Singkat Kesejahteraan Sosial: Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual dan Strategis8(2).

Kasiyun, S. (2015). Upaya meningkatkan minat baca sebagai sarana untuk mencerdaskan bangsa. Jurnal Pena Indonesia1(1), 79-95.

Mansyur, U., & Indonesia, U. M. (2019, November). Gempusta: Upaya meningkatkan minat baca. In Prosiding Seminar Nasional Bahasa Dan Sastra II FBS UNM (pp. 203-2017).

Witanto, J. (2018). Minat baca yang sangat rendah. Publikasi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Biodata

Nurul Jubaedah lahir di Garut, 19 Mei 1978. Mengajar di MTsN 2 Garut. Pendidikan  : D1 Akuntansi (1995), S1 PAI UNIGA ( 2001), S1 Bahasa Inggris STKIP Siliwangi Cimahi (2007), S2 PAI UIN SGD Bandung (2012). Prestasi : Pembimbing KIR : Membimbing 27 judul Karya Ilmiah Remaja kategori sosial budaya, menghantarkan peserta didik juara 1,2,3, dan harapan 1 kategori Sejarah, Geografi, dan Ekonomi (tingkat Provinsi), juara harapan 1 dan 2 (tingkat Nasional)  (Juli 2019-September 2021), guru berprestasi tahap 1 di GTK Madrasah (2021), lolos tahap 3 AKMI KSKK Madrasah (Februari 2022). Karya : 4 buku solo, 20 buku  antologi (Januari-April 2022). Memiliki 540 konten pendidikan di canal youtube dan 100 artikel (Oktober 2021-Juli 2022). Blog http://nuruljubaedah6.blogspot.com/. Instagram (nj_78). Email :  nuruljubaedah6@gmail.com. Whatsapp : 081322292789.

Surat untuk Presiden: Guru Tidak Meminta Dipuji, Kami Hanya Ingin Dapat Bertahan Mengajar

  Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia, Perkenankan saya menulis surat ini bukan sebagai pengamat pendidikan, bukan pula sebagai ahli ...