Jumat, 21 Januari 2022

(11) Penerapan Metode Sorogan dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca al-Qur’an

 

Penerapan Metode Sorogan

dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca al-Qur’an 

Saya sebagai wali kelas IX-B membimbing hafalan juz ke 30 sampai kelulusan tahun pelajaran 2021/2022. Berbagai macam cara telah saya tempuh agar peserta didik berhasil sampai menyelesaikan 37 surat. Dari beberapa metode yang telah saya terapkan salah satunya adalah metode Sorogan. Tujuan dari metode sorogan adalah terciptanya kedekatan antara wali kelas dengan peserta didik  secara individu baik ikatan batin maupun spiritual. Manfaat dari metode sorogan bagi wali kelas dan peserta didik adalah saling mengingatkan kembali hafalan surat dan menambah pahala ketika terjadi interaksi/bimbingan diantara keduanya.

Metode Sorogan

Metode sorogan merupakan salah satu metode pembelajaran di pesantren tradisional, adapun istilah sororgan berasal dari kata sorog (Jawa) yang berarti menyodorkan. Sebab setiap santri saling bergiliran menyodorkan kitab di hadapan kyai atau badal (pembantu kyai). Marwan menjelaskan, bahwa sistem sorogan sangat efektif di gunakan, karena dengan system ini seorang santri dapat menerima pelajaran dan pelimpahan nilai-nilai sebagai proses deliveri of culture di pesantren .

Pendapat demikian di dukung oleh Geertz dengan mengatakan bahwa metode sorogan memiliki ciri pemahaman yang sangat kuat pada pemahaman tekstual atau literal. Namun kerapkali tidak semua orang bisa menggunakan metode yang sama, karena setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti yang di ungkapkan Mujammil Qomar, bahwa penerapan metode sorogan menuntut kesabaran dan keuletan pengajar, dan juga santri yang di tuntut untk memiliki kedisiplinan yang tinggi, disamping itu penerapan metode ini membutuhkan waktu yang lama yang berarti pemborosan, kurang efektif dan efisien. 

Pembelajaran Al-Qur’an

Peran guru untuk membimbing para santri supaya dalam penguasaan pembelajaran Al-Qur’an dan mencetak santri yang fasih dalam membaca Al-Qur’an ini sangat diperlukan. kemudian metode atau cara-cara untuk mengantarkan santri supaya dapat membaca Al-Qur’an dengan benar dan fasih itupun sangat diperlukan pula, maka metode hafalan juz ke 30 yang digunakan di kelas IX-B adalah mengadopsi salah satu dari metode tradisional yaitu metode sorogan. Sorogan artinya belajar secara individu dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, terjadi interaksi saling mengenal antara keduanya. 

Dalam pembelajaran di pesantren, metode itu termasuk pembelajaran kitab secara individual, dimana setiap santri menghadap secara bergiliran kepada kyai atau pembantunya untuk membaca, menjelaskan, dan atau menghafal pelajaran yang diberikan sebelumnya. Namun, dalam tulisan ini saya khusus menjelaskan metode yang diadopsi dari pesantren diterapkan di kelas IX-B yang dilaksanakan pada jam literasi setiap hari Sabtu pukul 07.00-07.20 juga selain tatap muka bimbingan juz ke 30 ini dilakukan melalui metode sorogan secara daring (Blended learning) dimana konten hafalan juz ke 30 ini telah saya upload di channel youtube pendidikan, instagram, whatsapp dan facebook atas nama Nurul Jubaedah.

Sebagai wali kelas, saya berpendapat ada beberapa manfaat dalam metode sorogan berdasarkan observasi selama bimbingan juz ke 30 di kelas IX-B diantaranya yaitu. 1) Ada interaksi individual antara guru dan peserta didik, 2) Peserta didik lebih dapat dibimbing dan diarahkan dalam pembelajarannya, baik dari segi tajwid maupun makhroj. 3) Dapat dikontrol, dievaluasi dan diketahui perkembangan dan kemampuan peserta didik. 4) Ada komunikasi efektif antara guru dan peserta didik. 5. Ada kesan yang mendalam dalam diri guru dan peserta didik. Metode sorogan juga memiliki kelemahan diantaranya adalah waktu yang dibutuhkan cukup panjang karena harus diadakan evaluasi dari guru , peserta didik harus memiliki persiapan yang matang sebelum maju dalam pembelajaran metode sorogan.

Hasil bimbingan juz ke 30 diantaranya Amelia dan Fathya telah berhasil menghafalkan 37 surat, 28 orang masih dalam proses hafalan menuju 30 surat, dan 2 orang belum sama sekali bimbingan. Batas hafalan masih berlangsung sampai kelulusan di akhir tahun pelajaran 2021/2022 nanti. Bimbingan juz ke 30 ini berlangsung sejak awal tahun pelajaran 2021 sampai akhir nanti di kelas IX-B yang berjumlah 32 orang. Bagi peserta didik yang terindikasi belum hafal maka resikonya kelulusan akan tertunda.

Program Wali Kelas IX-B TANGGUH bisa dilihat di :

https://youtu.be/LljSiAyLQsY Metode Bandongan (Part 4)

https://youtu.be/mJ-uKrhsOSM Metode Sorogan berbasis Video (Part 3)

https://youtu.be/h7YkscImtI0 Metode Blended learning (Part 2)

https://youtu.be/4pG0NkCzn7I Metode Sorogan Tatap Muka (Part 1)

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Aly. Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011).

Armai Arief, Pengantar ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta : Ciputat Press, 2002).

Arwani. Ulil Albab, dkk. Bimbingan Cara Mengajar Thoriqoh Baca Tulis dan Menghafal Al-Qu’an Yanbu’a. (Kudus: PP. Tahfidzul Qur’an Yanbu’a Qur’an, 2004).

Dalman, 2014. Keterampilan Membaca, Depok: PT Raja Grafindo Persada

Fatahudin. Pedoman Pengajaran Membaca dan Menulis Huruf AlQur’an. (Jakarta: CV. Serajaya, 1975).

Hadi, Sutrisno. Metodologi Research II. (Yogyakarta : Andi Offset, 1992).

Haedari, Amin dan Ishom El-Saha. Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyah. (Jakarta : Diva Pustaka. 2004). 

Hasbullah. Kapita Selekta Pendidikan Islam. (Jakarta : PT.Grafindo Persada, 1999).

 Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia (Jakarta: Dharma Bhakti, 1982).

 Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi (Jakarta : Erlangga, 2002)

 Bimbingan Cara Mengajar Thoriqoh Baca Tulis Dan Menghafal Al-Qur’an Yanbu’a (Kudus : Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an, 2004).

 Ridlwan Nasir, format pendidikan pesantren (pustaka pelajar:Yogyakarta, 2005)

Siregar, Syofian. 2014. Statistik Parametrik untuk Penelitian Kuantitatif. (Jakarta: Bumi Aksara)

Sugiyono, 2016. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. (Bandung: CV Alfabeta).

 

 

 

Biodata

 

Nama  lengkap Nurul Jubaedah lahir di Garut, 19 Mei 1978. Pangkat/golongan  Pembina/IV-a. Latar belakang pendidikan D1 Akuntansi tahun 1995, S1 PAI di UNIGA tahun 2001, S1 Bahasa Inggris di STKIP Siliwangi Cimahi tahun 2007, S2 PAI di UIN SGD Bandung  tahun 2012.  Pengalaman mengpembelajaran yaitu sebagai guru Bahasa Inggris di beberapa SDN tahun 2000-2003, guru Bahasa Inggris di SMP Sukasono pada tahun 2000, guru Bahasa Inggris di MTs dan SMA Al Hikmah tahun 2000-2010, guru Bahasa Inggris  dan SKI di MTs Al Hidayah Karoya tahun 2010-2013, menjadi asdos Bahasa Inggris di IAILM Suryalaya tahun 2004-2008, guru SKI di MTsN 2 Garut mulai tahun 2013-sekarang, guru KIR di MTsN 2 Garut 2019-September 2021. Pengalaman pelatihan yaitu  meyusunan naskah PAS di BDK Bandung Jabar  tahun 2017, meyusunan naskah UAMBN di Makassar, Surabaya dan Bali  tahun 2018, pendampingan  kurikulum 2013 ARD di Makassar tahun 2018, konsinyering bahan pembelajaran PAI di Bandung, Yogyakarta, Bogor dan Malang tahun 2018, bedah SKL UAMBN di Bogor dan Surabaya  4-10 Februari  tahun 2019,  workshop KIR di Kediri/4-6 Juli tahun 2019. Mengikuti Webinar Nasional dengan bukti fisik120 sertifikat mulai Maret  2020 sampai sekarang. Lolos guru berprestasi tahap 1 di GTK Madrasah tahun 2021.

 

Selasa, 18 Januari 2022

(10) Keefektifan Penggunaan Media Video Presentasi Virtual pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

 

Keefektifan Penggunaan Media Video Presentasi Virtual pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam 

Berawal dari masa pandemi sejak bulan Maret 2020 lalu, saya sebagai guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas IX-ABCDEFGHI di MTsN 2 Garut berusaha untuk mencari solusi terbaik tentunya sesuai dengan kemampuan saya, tujuannya adalah agar peserta didik tetap bisa mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sebagaimana mestinya meskipun harus dilaksanakan secara daring ataupun blended learning. Tentunya, penggunaaan media video presentasi virtual ini memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri namun setelah dua tahun mengajar secara daring, media video memiliki keefektifan dibanding dengan hanya mengirimkan foto materi atau dialog di grup Whatsapp antara guru dan peserta didik sebagai pengganti metode ceramah di kelas.

Media video pembelajaran biasanya guru yang membuat konten untuk menyampaikan materi pelajaran tetapi pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam justru peserta didiklah yang mengirimkan video pembelajaran tersebut. Inilah yang disebut efektif, kenapa? Karena selain menuntut peserta didik memahami leterasi digital juga melatih sikap mandiri, produktif, dan memiliki skill yang sesuai dengan kemampuan generasi z. Selain literasi digital media video juga bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis riset yaitu bisa sebagai penunjang dokumentasi dalam proses observasi dan wawancara dalam materi pesantren dalam dakwah Islam di Indonesia. Video presentasi virtual ini juga sangat efektif karena video tersebut didokumentasikan di media sosial seperti youtube, instagraam, dan fcebook sehingga jejak digital ini akan terus bisa ditonton oleh generasi berikutnya bahkan bisa mendunia dan bisa menghasilkan uang bagi pengguna akun tersebut tentunya jika sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

Media merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembelajaran (Mantasiah, 2016). Melalui media video, pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan. Aspek penting penggunaan media video adalah membantu memperjelas materi, maka media berperan sebagai alat bantu untuk memperjelas pesan yang disampaikan dalam proses belajar mengajar.

Penggunaan media video dapat merangsang pengetahuan peserta didik, melatih berpikir logis, analistik, lebih kreatif, efektif, mempertajam daya imajinasi peserta didik dan menyenangkan. peserta didik juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi, saling memahami satu sama lain, saling bertukar informasi, sehingga peserta didik akan memeroleh pemahaman mengenai pembelajaran  yang lebih luas.

Dasar pertimbangan memilih video sebagai media pembelajaran agar dapat melatih peserta didik berpikir logis, konkrit, lebih realistis, dan peserta didik lebih terfokus pada media pembelajaran yang baru seperti media video ini, kemudian proses belajar lebih aktif, kreatif, dan berkesan. Dengan pemanfaatan media video ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan peserta didik, utamanya dalam melaksanakan metode pembelajaran abad 21 yaitu diharapkan membentuk karakter peserta didik yang memiliki kemampuan 4C yaitu collaboration, communicartion, critical thinking, dan creativity.

 MEDIA PEMBELAJARAN

Dalam bahasa Arab media diartikan sebagai “modeo” yang artinya perantara antara pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Arsyad (2011:4) berpendapat bahwa: “Media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran, yang terdiri atas buku, tape recorde, kaset, video kamera, video recorder, film, slide gambar (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer”.

Pendapat dari Anitah (2008:2) mengatakan bahwa “Media pembelajaran adalah setiap orang, bahan, alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pembelajar menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap”. Selain itu Sabir (2005:112) mengatakan bahwa “Media belajar merupakan benda yang dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional”.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sebuah alat, bahan, dan peristiwa yang dapat dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan yang digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang permikiran, minat, perhatian peserta didik sehingga proses pembelajaran lebih terarah.

MEDIA VIDEO

Video merupakan salah satu media audio visual yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran karena dapat meningkatkan hasil pembelajaran. Media audio visual dapat menampilkan unsur gambar (visual) dan suara (audio) secara bersamaan pada saat mengkomunikasikan pesan atau informasi. Media video diklasifikasikan sebagai media audiovisual. Pendapat Arsyad dalam Wiarto (2016:136) yang menyatakan bahwa: “Video merupakan gambar-gambar dalam frame, di mana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar hidup”.

Kemudian pendapat dari Daryanto (2010:90) mengatakan bahwa “Video merupakan bahan ajar non cetak yang kaya informasi dan lugas karena dapat sampai di hadapan peserta didik secara langsung, video menambah suatu dimensi baru terhadap pembelajaran”. Selanjutnya pendapat dari Ahmad (2007:4) bahwa: “Guru dan media pendidikan hendaknya bahu-membahu dalam memberikan kemudahan belajar bagi peserta didik. Perhatian dan bimbingan secara individual dapat dilaksanakan oleh guru dengan baik, sementara informasi dapat pula disajikan secara jelas, menarik dan teliti oleh media pendidikan”. Video dapat memberikan model yang lebih realistis kepada peserta didik sehingga peserta didik dapat berperan aktif dalam pembelajaran. Selain itu, dapat mempermudah pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam karena disertai dengan penguatan visual.

Manfaat media video menurut Aqib (2013:51) antara lain: 1) Pembelajaran lebih jelas dan menarik;2) proses belajar lebih interaksi; 3) efisiensi waktu dan tenaga; 4) meningkatkan kualitas hasil belajar; 5) belajar dapat dilakukan dimana dan kapan saja; 6) menumbuhkan sikap positif belajar terhadap proses dan materi belajar; 7) meningkatkan peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif”. Selanjutnya kelebihan media video menurut Rusman (2012:220) yaitu: 1) video dapat memberikan pesan yang dapat diterima lebih merata oleh peserta didik; 2) video sangat bagus untuk menerangkan suatu proses; 3) mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, lebih realistis dan dapat diulang atau dihentikan sesuai kebutuhan, serta; 4) memberikan kesan yang mendalam, yang dapat mempengaruhi sikap peserta didik”.

Selain itu pendapat dari Kustandi dan Sutjipto (2013:64-65) menambahkan kelemahan media video yaitu: 1) pengadaan media video memerlukan biaya yang sangat mahal dan waktu yang banyak; 2) pada saat pemutaran video gambar dan suara akan berjalan terus; 3) tidak semua peserta didik mampu mengikuti informasi yang disampaikan melalui media video”. Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam media terdapat manfaat, serta memiliki kekurangan dan kelebihan. Dengan adanya proses pembelajaran yang menggunakan media video, peserta didik dapat mengefisienkan waktu dalam belajar, memberikan pengalaman yang baru kepada peserta didik, dan memberikan informasi yang akurat, dan lebih menarik, tetapi menyita banyak waktu dan memerlukan biaya yang cukup mahal.

PRESENTASI VIRTUAL

Presentasi  yang disampaikan secara virtual sebenarnya bergantung pada internet sebagai pengganti ruang pertemuan fisik yang memungkinkan individu atau kelompok untuk menghadiri presentasi dari jarak jauh. Presentasi virtual yang dilaksanakan di kelas IX-B pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam adalah video yang berisi materi yang disampaikan oleh satu atau beberapa orang yang menampilkan beberapa gambar yang menunjang materi yang disampaikan oleh peserta didik. Unsur presentasi virtual yaitu 1) Collaboration yaitu dianjurkan presentasi gabungan penampilan dari satu orang, 2) Communication yaitu peserta didik menyampaikan materi melalui penjelasan gambar atau peta atau hal lain yang menunjang materi 3) Critical thinking yaitu terdapat dialog tanya jawab, dan ke  4) Creativity yaitu peserta didik menyimpulkan materi yang telah disampaikan.

Peserta didik kelas IX-B di MTsN 2 Garut telah mengerjakan tugas video mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam sebanyak 4 video di semester satu dan 3 video di semester 2, jadi bukan hanya guru yang melaksanakan kewajibannya dalam menerapkan literasi digital tetapi peserta didik juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman malah mereka bisa jauh lebih jago dari gurunya. Kelas IX-B berjumlah 32 orang, yang mengumpulkan 7 video dalam satu tahun pelajaran sebanyak 12 orang, yang mengerjakan tugas campuran (video prsesntasi virtual dan presentasi langsung di kelas) berjumlah 19 orang, yang tidak mengerjakan sama sekali berjumlah 1 orang. Kendala dalam membuat video pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam diantaranya 1) faktor kuota, 2) faktor memori HP, 3) Tidak terampil dalam editing video 4) tidak memiliki HP. 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Abdul Karim. 2007. Media Pembelajaran. Makassar: Badan Penerbit UNM Makassar.

Anitah, Sri. 2008. Media Pembelajaran. Surakarta: LPP UNS dan UNS Press.

Aqib,Zainal. 2013. Model-Model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (inovatif). Bandung:Penerbit Yrama Widya. Arsyad Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Arikunto, Suharsimi. 2013. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Asnawir dan Usman M. Basyiruddin. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers Universitas Terbuka.

Cecep Kustandi dan Bambang Sutjipto. 2013. Media Pembelajaran Manual dan Digital Edisi Kedua. Bogor. Ghalia Indonesia. Sejak di SD. Jurnal Penelitian Pendidikan Insani, 19(2).

Grandys Frieska Prassida, 2011. Virtual Class sebagai Strategi Pembelajaran untuk Peningkatan Kualitas Student-centered-learning di Perguruan Tinggi. Unidu Jombang vol 1, No 2.

Munib, Achmad. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: Unnes Keefektifan Media Video Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar... |147 Press.

Sadiman, dkk. 2014. Media Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.

 

 Link Youtube video pembelajaran Nurul Jubaedah :

https://youtube.com/channel/UCwC7RX8Z6weqEkgDtfIVoiw

 

Biodata

 

Nama  lengkap Nurul Jubaedah lahir di Garut, 19 Mei 1978. Pangkat/golongan  Pembina/IV-a. Latar belakang pendidikan D1 Akuntansi tahun 1995, S1 PAI di UNIGA tahun 2001, S1 Bahasa Inggris di STKIP Siliwangi Cimahi tahun 2007, S2 PAI di UIN SGD Bandung  tahun 2012.  Pengalaman mengpembelajaran yaitu sebagai guru Bahasa Inggris di beberapa SDN tahun 2000-2003, guru Bahasa Inggris di SMP Sukasono pada tahun 2000, guru Bahasa Inggris di MTs dan SMA Al Hikmah tahun 2000-2010, guru Bahasa Inggris  dan SKI di MTs Al Hidayah Karoya tahun 2010-2013, menjadi asdos Bahasa Inggris di IAILM Suryalaya tahun 2004-2008, guru SKI di MTsN 2 Garut mulai tahun 2013-sekarang, guru KIR di MTsN 2 Garut 2019-September 2021. Pengalaman pelatihan yaitu  meyusunan naskah PAS di BDK Bandung Jabar  tahun 2017, meyusunan naskah UAMBN di Makassar, Surabaya dan Bali  tahun 2018, pendampingan  kurikulum 2013 ARD di Makassar tahun 2018, konsinyering bahan pembelajaran PAI di Bandung, Yogyakarta, Bogor dan Malang tahun 2018, bedah SKL UAMBN di Bogor dan Surabaya  4-10 Februari  tahun 2019,  workshop KIR di Kediri/4-6 Juli tahun 2019. Mengikuti Webinar Nasional dengan bukti fisik120 sertifikat mulai Maret  2020 sampai sekarang. Lolos guru berprestasi tahap 1 di GTK Madrasah tahun 2021.

 

Surat untuk Presiden: Guru Tidak Meminta Dipuji, Kami Hanya Ingin Dapat Bertahan Mengajar

  Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia, Perkenankan saya menulis surat ini bukan sebagai pengamat pendidikan, bukan pula sebagai ahli ...